Terkagum kagum di Lawang Seblawong Keraton Kanoman, Pintu Akses ke Alam Gaib

Terkagum kagum di Lawang Seblawong Keraton Kanoman

Pintu Akses ke Alam Gaib

Pengalaman Melintas Lawang Seblawong

Lawang Seblawong atau Si Blawong

Pintu Si Blawong

Sebuah pintu besar tampak berdiri kokoh di area Ksiti Hinggil Keraton Kanoman Cirebon. Bernama Lawang atau Pintu Si Blawong tersebut merupakan salah satu warisan sejarah budaya Cirebon.


Lawang Seblawong, Pintu Akses ke Alam Gaib di Keraton Kanoman 

Salah satu bangunan menarik di Keraton Kanoman. Berbentuk Gerbang atau Pintu Besar dari batu bata yang dilabur putih berbentuk Kori Agung dengan daun pintu yang terbuat dari kayu jati.

Di dinding Lawang Seblawong dihiasi oleh piring piring keramik atau Jun yang ditempelkan di permukaan dinding.

Lawang Seblawong yang berdekatan dengan Lemah Duwur

Sebuah pintu besar tampak berdiri kokoh di area Ksiti Hinggil Keraton Kanoman Cirebon. Bernama Lawang atau Pintu Si Blawong tersebut merupakan salah satu warisan sejarah budaya Cirebon.

Nama Si Blawong sendiri dari bahasa Sunda Kuno yang berarti besar atau tinggi. Letak Pintu Si Blawong berada di sebelah barat komplek Ksiti Hinggil Keraton Kanoman Cirebon.

Pintu ini peninggalan Raja Sri Jayabhupati sekitar tahun 1030-1042 Masehi.

Tulisan di keterangan, "Pintu Besar untuk Upacara Panjang Jimat, bangunan berupa Pintu Gapura yang daun pintunya kayu jati".

Lawang Seblawong

Berdasarkan riwayat yang diambil dari beberapa naskah kuno, Pintu Si Blawong sudah ada sebelum Keraton Kanoman Cirebon berdiri, yakni pada masa Raja Padjajaran ke 20 Prabu Sri Jayabhupati.

Setelah Raja Sri Jayabhupati wafat, Pintu Si Blawong sempat terbengkalai karena terjadi perebutan warisan antar keturunan raja.

Di era Keprabonan Caruban, pintu tersebut merupakan akses masuk ke dalam kompleks Ksiti Hinggil. Akses masuk tersebut khusus bagi keluarga raja dari arah Pura Pari.

Pintu ini masuk ke dalam bagian kompleks dari rangkaian penobatan Raja Sunda Galuh bersama dengan Ksiti Hinggil,

Lawang Seblawong Tampak dari arah dalam keraton Kanoman

Daun pintu gerbang Si Blawong atau Pintu Keblawong terbuat dari bahan kayu jati yang besar dan tebal. Pintu ini merupakan salah satu pintu yang dilalui pada proses iring-iringan Panjang Jimat setiap peringatan Muludan Nabi Muhammad SAW.

Hanya dibuka setiap setahun sekali ketika upacara Panjang Jimat atau Maulid Nabi di Keraton Kanoman Cirebon. Pintu itu pun hanya dilewati Sultan ketika pawai alegori atau bernuansa sufi,

Berpose di bagian depan Lawang Seblawong Keraton Kanoman

Menurut penuturan sejarah, Pintu Seblawong diyakini hanya ada di 3 tempat yaitu Keraton Kanoman Cirebon, Kerajaan Pajajaran dan Kahyangan konon dipercaya bisa terhubung dengan dunia gaib atau lelembut dan bila ditarik garis lurus Pintu Seblawong searah dengan Gunung Jati serta menjadi inspirasi Daendels membuat gerbang serupa di Perancis.

Jika memang Lawang seblawong ini salah satu dari 3 penghubung ke dunia gaib, memamng harus dipelajari dan ditelusuri.

Saya pun mencoba menyelami dari bagian depan pintu dan bagian belakang pintu.  Mencoba energi yang terpancar di gerbang Lawang Seblawong, khususnya pintu kayu Jati yang masih menyimpan jejak jejak magis dan prana prana berwarna biru tua hingga biru muda.

Lembaran Daun Pintu Si Blawong atau Seblawong ini memang menyerap energi energi positif yang dilintasi beberapa energi yang tidak dikenal.

Saat memegang bagian tengah pintu yang terbuat dari Kayu Jati tebal, sekelebat energi berwarna biru kembali melintas ke arah belakang yang menembus Bangsal Witana.

Ritula Panjang Jimat  yang dalam etimologi bahasa kata Jimat, merupakan akronim dari kata Diaji dan Dirumat yang berarti dipelajari dan diamalkan yakni ajaran-ajaran Islam dengan maneladani Nabi Muhammad SAW.

Menurut sejarahnya, Panjang Jimat mempunyai sejarah khusus yaitu satu benda pusaka Keraton Cirebon yang merupakan pemberian dari Sanghyang Bango ketika masa pengembangan dari Raden Walangsungsang Pangeran Cakrabuan dalam mencari dan mengabdi kepada Sang Pencipta hingga masuknya  Agama Islam.

Pada masa lalu, peringatan Maulud Nabi atau muludan memiliki fungsi ekonomi. Ini dikarenakan pada masa itu muludan menjadi ajang jual beli. Dalam hal ini muludan menjadi ajang penjualan hasil panen, ikan tangkapan, kerajinan, dan sebagainya  bagi para petani, nelayan, pengrajin, dan sebagainya. Sementara itu pembeli datang untuk membeli barang-barang yang dihasilkan para petani, nelayan, pengrajin, dan sebagainya dikarenakan Muludan menjadi ajang bagi masyarakat untuk berkumpul sekaligus sebagai pembeli.

Tradisi yang masih dipegang teguh keluarga keraton dan masyarakat Cirebon adalah peringatan Mauludan yang jatuh pada setiap tanggal 12 Maulud tahun Hijriyah, hari kelahiran Nabi Muhammad saw., yaitu dengan merayakan Upacara Panjang Jimat. 

Panjang yang diumpakan tempat diisi makanan dengan unsur terpenting berupa nasi. Beras yang dipakai tidak boleh ditumbuk, namun satu persatu kulit gabahnya dikupas oleh ibu-ibu dari kalangan keraton, kemudian dicuci dan ditanak. Panjang berisi makanan, selanjutnya dibungkus dengan kain tenun bercorak tuluwatu kluwungan atau bangun tulak. 

Pada hari itu juga dilakukan perawatan dan pencucian benda benda pusaka alias Jimat atau Barang Siji Sing Dirumat.

Selama pintu ini ada yang diaji dan dirumat, yaitu kaitannya dengan ruwatan panjang berupa rasa syukur dengan makanan yang disajikan.

Lintas Dimensi selama acara Panjang Jimat, menjadikan Pintu Seblawong diibaratkan sebagai penghubung antara dimensi yang berbeda.

Acara adat Panjang Jimat, tetap ada hingga saat ini dan menjadikan Pintu Seblawong selain sebagai warisan leluhur dan menjadi saksi berkembangnya Kota Cirebon dan agama Islam di Kota Cirebon.  

Kata kata bijak 

Hidup akan terasa lebih mudah jika kamu melihatnya sebagai perjalanan untuk dinikmati, bukan tuntutan untuk dijalani.


Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "Terkagum kagum di Lawang Seblawong Keraton Kanoman, Pintu Akses ke Alam Gaib"

Post a comment

Popular Posts