Misteri Menara Pengawas Yang Bergoyang, Cerita Menara Syahbandar Saksi Sejarah Maritim Batavia

Menara Syahbandar
Misteri Menara Goyang, Menara Syahbandar yang Bisa Bergoyang Sendiri
The Rocking Outlook Tower

Seri : jelajah Museum 
Menara Syahbandar

Melanjutkan cerita nggowes The Six Boys ke Museum Bahari, berikutnya kami menyusuri jalan di sekitar Jalan Pasar Ikan untuk menyaksikan Tonggak Sejarah Pengatur Lalu Lintas Kapal pada masa kejayaan Batavia.

Kapal Pedagang dari seluruh dunia yang membongkar muat dagangan para saudagar dan Kapal kapal VOC yang mengangkut hasil bumi dari seluruh Nusantara tidak akan bisa berlabuh dengan baik tanpa arahan dari menara Pengawas ini.

Menara Syahbandar

Menara Syahbandar
The Rocking Outlook Tower

Menara Syahbandar dibangun pada tahun 1839 dan berfungsi sebagai menara pengawas lalu lintas kapal di pelabuhan Batavia.

Bangunan menara pengawas ini memiliki ketinggian 12 meter dan berada di tepi barat muara Sungai Ciliwung.

Menara Syahbandar

Bangunan ini disebut menara Syahbandar, tempat jawatan Syahbandar melakukan pengawasan. Dari menara ini lah Jawatan Syahbandar melakukan pengawasan terhadap kapal dan perahu yang tengah melakukan aktivitas perdagangan di sepanjang Muara Sungai Ciliwung.

Dari menara ini pula petugas Jawatan Syahbandar bisa mengawasi aktivitas perekonomian yang tengah berlangsung di pelabuhan Sunda Kelapa sekaligus bisa melihat ke laut lepas.

Pada masa lalu, bangunan menara disebut De Uitkijk yang berarti Menara Peninjau. Di dekat menara terdapat bangunan lain yang lebih rendah dan berfungsi sebagai bangunan administrasi tempat melakukan pencatatan dan segala urusan administrasi Pelabuhan.

Di dalam salah satu ruangan bangunan terdapat lempengan  batu bertuliskan huruf Cina yang bila diterjemahkan memiliki arti BatasTitik.

Atas peninggalan inilah pada masa lalu, titik nol Jakarta berada di Menara Syahbandar sebelum akhirnya titik nol kota Jakarta dipindahkan ke Monas di pertengahan tahun 1960 an.

Masyarakat banyak menyebut Menara Syahbandar dengan nama Menara Goyang, sebab ketika tengah berada di bagian paling atas dan kebetulan saat angin bertiup kencang atau saat mobil truk besar melintas di jalanan depan Menara, maka menara tersebut terasa bergoyang goyang.

Saya terkagum kagum dengan peninggalan sejarah yang luar biasa ini dan mencoba naik ke menara.

Takjub. Saya bisa melihat Pelabuhan Sunda Kelapa, Kantor  VOC, Pintu Air dan sebenarnya dulu Kapal bisa bersandar di dekat menara. 

Sayangnya sekarang sudah menjadi bangunan dan ada yang tinggal menyisakan puing, demikian juga dengan Pasar Ikan.

Supaya lebih lengkap, saya akan bercerita dari awal pertama masuk ke Menara Pengawas atau Menara Syahbandar ini.

Di kompleks Menara Syahbandar ada 3 bangunan yang terlihat terawat rapi dan masih kokoh tegak berdiri.

  1. Menara Syahbandar
  2. Ruang Administrasi dan Titik Nol
  3. Ruang Mercusuar
Baca juga :

Selain itu ada tugu atau monumen yang dibuat untuk menghormati para pendiri Menara Syahbandar.
Tugu di Menara Syahbandar

Tertulis di Tugu Prasasti ini :
Tugu Ini
Tegak disini
Pada Peringatan
Jakarta 450 tahun
dipersembahkan 
Kepada Mereka
Yang Pada Masa Lalu
Pernah Menyusun Batu Batu 
Bagi Landasan Pembangunan 
Hari ini
Jakarta, 7 Juli 1977
Pj. Gubernur Kepala Daerah 
Khusus Ibukota Jakarta

M Ali Sadikin 
Letnan Jendral TNI Marinir

Diketik sesuai urutan dan kata serta posisi.
Dibalik tugu monumen ini terdapat informasi penting. 

Titik Astronomi di Menara Syahbandar

Tertulis :
Survey Geodesi Indonesia
Titik Astronomi TK I
Jakarta

Milik Negara
Dilarang merusak dan mengganggu tanda ini
Pemetaan Nasional
Jantop TNI AD
28 - 3 - 1978

Posisi tugu monumen ini berada di tengah tengah area halaman Menara dan menjorok ke bagian bibit sungai.

Meriam di sepanjang dinding Menara Syahbandar

Di sepanjang tembok yang menghadap ke sungai terdapat beberapa meriam yang memang berfungsi untuk menjaga Menara dari serangan Perampok , dan menurut cerita dari Pak Penjaga, dulunya kapal bisa berlabuh di tepi Menara dan di sepanjang muara Ciliwung.

Meriam di sepanjang dinding Menara Syahbandar
Salah satu meriam mengarah ke Pintu Air karena di sepanjang sisi inilah dulu kapal kapal para pedagang berlabuh dan bersandar untuk antri membongkar muatan.


Jelajah Jejak Sejarah Indonesia di Jakarta, Gowes Bersama ABI Cycling Community

Di tengah bagian kanal, terdapat bekas atau sisa sisa bangunan beton saksi sejarah kejayaan Batavia.

Pintu Air, bangunan Belanda Saksi Sejarah Kota Batavia
Tampak Pintu bangunan  Pintu Air yang terlihat terawat.  Jadi, warga yang dilintasi sungai Ciliwung harus berterima kasih dengan adanya Pintu AIr ini.  Sudah sangat senior dan tetap melayani masyarakat hingga kini.

Bangunan Ruang Mercusuar  di Menara Syahbandar
Di sebelah kiri dari arah gerbang masuk, terdapat bangunan yang berada di ketinggian sekitar 60 cm.

Lampu penerangan di Teras Bangunan Ruang Mercusuar di Menara Syahbandar
Berhiaskan lampu kuno di teras yang membuat bangunan ini semakin terlihat umurnya.
Pintu Ruang Mercusuar di Menara Syahbandar

Pintu masuk terkihat kokoh dan di bagian atas kusen tertulis R. Mercusuar.  

Ruang Mercusuar dan peralatan Mercusuar di Menara Syahbandar
Bangunan yang berukuran sekitar 8  x 6 meter ini sangat kokoh dan didalamnya terdapat beberapa peralatan yang sepertinya adalah perlengkapan lampu lampu mercusuar.

Mercusuar, The Light House
Pedoman dalam Gelap Lautan 

Pada puncak menara mercusuar inilah, banyak kapal yang berlayar malam hari menggantungkan keselamatannya agar tidak menabrak karang.  Lampu lampu yang menyorot dari tempat itu memberikan tanda tanda dan pedoman pelayaran. 

Berikut cuplikan tulisan yang ada di Ruang Mercusuar :
Sunyi membalut hari hati penjaga mercusuar.  Hanya angin dan burung burung camar menjadi pengisi setiap hari di ujung sepi.
Mereka meninggalkan sanak keluarga berhari hari, sendiri di pulau terpencil, hanya untuk menyalakan lampu sebagai penuntun kapal kapal berlayar.

Di Distrik Navigasi Kelas 1 Tanjung Priok, terdapat 27 Menara Mercusuar yang tersebar di tiga wilayah : Selat Bangka, Selat Belitung, dan Selat Sunda.  Di Indonesia terdapat sekitar 3.000 mercusuar di bawah Departemen Perhubungan, yang kebanyakan merupakan peninggalan zaman Belanda. 

Setiap Mercusuar dijaga lima orang yang masing masing bertugas selama 4 bulan di satu lokasi, kemudian pada akhir masa tugas digiir ke lokasi lain selama empat bulan berikutnya dengan tugas yang sama yaitu menjaga menara dan menyalakan lampu Mercusuar.

Lokasi paling favorit adalah Pulau Edam atau Pulau Damar di Kepulauan Seribu, karena jaraknya dekat dari Jakarta.  Hanya sekitar dua jam menggunakan kapal nelayan dari Muara Angke.  Kondisi mercusuar setinggi 52 meter ini merupakan peninggalan Belanda pada masa Raja Willem III pada tahun 1879.  Kondisi Pulau seluas empat hektar ini masih cukup asri.

Sedangkan lokasi neraka bagi petugas mercusuar antara lain Pulau Srutu, Kalimantan Barat.  Pasalnya, mercusuar setinggi 20 meter itu berada di puncak bukit yang tinggi, sehingga sulit mengangkut perbekalan dari pantai menuju puncak sejauh lima kilometer.  Begitupun Pulau Serdang  di perairan Selat Sunda, sekelilingnya berupa jurang batu.  

Di pulau Tempurung, Merak - Banten, mercusuarnya di tengah sebongkah karang.  Untuk mencapai mercusuar di Pulau Nusakambangan, yang letaknya sekitar 10 kilometer dari desa terdekat, hanya bisa dicapai dengan jalan kaki menembus hutan lebat.

Di pantai selatan Jawa Tengah, terdapat 7 menara Mercusuar: Tiga di Nusakambangan, satu mercusuar besar di Cilacap, lainnya di Kebumen, Ciamis perbatasan Jawa Tengah - Jawa Barat dan Samas.  Beberapa mercusuar di pantai selatan lainnya terletak di Pulau Tanjung Layar, Pandeglang, Banten, Pulau Berhala yang berada 48 mi laut dari Belawan, Medan, Pulau Rakit di Indramayu.

Rata rata tenaga listrik lampu menara suar dan rambu rambu berasal dari Solar Cell.  Menyala dan padam secara otomatis.  Bila matahari terbenam, lampu langsung menyala.  Bila matahari terbit, lampunya padam.  Adapula yang menggunakan diesel dan aki.

Penjaga Mercusuar selalu menyalakan lampu sebagai pedoman Kapal
 
Ok, kembali ke cerita Ruang Mercusuar. Berikut keterangan dari masing masing instrumen 
  1. Lampu Mercusuar
  2. Lampu Suar Kristal
  3. Pelindung Lampu
  4. Lensa Fresnel
  5. Almari Penyimpan lampu badai dan lampu kecil
  6. Pelampung pengarah
Lampu Mercusuar di Menara Syahbandar
Lampu mercusuar 
Lampu mercusuar merupakan sumber cahaya yang digunakan pada mercusuar dan diletakkan di puncak bangunan menara mercusuar.  Pada awalnya sumber cahaya lampu suar berasal dari api dengan menggunakan bahan bakar minyak, namun pada perkembangannya pencahayaan dilakukan secara elektrik dengan menggunakan bola lampu.
Lampu mercusuar dilengkapi dengan lensa yang digunakan untuk memancarkan sumber cahaya mercusuar agar dapat terlihat dari tengah laut.
Lampu Suar Kristal di Menara Syahbandar
Lampu Suar Kristal
Merupakan bagian dari Mercusuar sebagai penanda di laut. Lampu suar kristal bisanya diletakkan di bagian puncak rambu eambu laut 
Pelindung Lampu Mercusuar di Menara Syahbandar
Pelindung Lampu Mersuar

Lensa Fresnel di Menara Syahbandar
Lensa Fresnel
Lampu Fresnel adalah sebuah lensa yang biasa digunakan pada mercusuar. Lensa ini disumbangkan oleh seorabg fisikawan berkebangsaan Perancis bernama Augustin  Jean Fresnel dan mulai diperkenalkan penggunaannya pada mersuar sejak tahun  1823.
Sehubung atau lensa lampu ini berbentuk  sedemikian rupa sehingga menghasilkan pembiasan dan refleksi cahaya sehingga menghasilkan cahaya 90% lebih terang dibanding sumber cahaya aslinya.
Almari Penyimpanan Peralatan di Bangunan Mercusuar di Menara Syahbandar

Kelengkapan lainnya seperti Pelampung dan spare part yang disimpan dilamari. 


Rambu Rambu di Lautan

Berikutnya di bangunan yang ada di sebelah kanan dari Pintu Gerbang ada bangunan yang ukurannya lebih kecil.
Pintu di Ruang Administrasi dan Titik Nol Batavia di Menara Syahbandar

Tertulis di Pintu Masuk Ruang Titik Nol Batavia. Di dalam bangunan terdapat informasi mengenai Prasasti China.

Prasasti CIna Titik Nol Batavia


Apa itu Prasasti Cina?
Di dalam ruangan Titik Nol terdapat Batu Bertuliskan aksara Cina, Tulisan Tionghoa pada lantai Menara  Syahbandar yang berarti :
Ce liang ju : Kantor Survey - Office measurement
Jing du      : Garis Bujur - Longitude
Yuan dian  : Titik 0 (Nol) Batavia

Jika dirangkum menjadi : Garus Bujur Nol Batavia, Asal Garis Bujur Berdasarkan Kantor Jawatan Survey sesuai yang diterbitan oleh Museum Kebaharian Jakarta.

Berikutnya peralatan yang ada di Ruang Titik Nol :

Barometer
Barometer yang merupakan alat untuk mengetahui tekanan atau kelembaban, dan suhu udara di dalam kapal dan dibuat pada sekitar abad XIX. 

Sextant
Sextant
Sekstan adalah suatu instrumen yang digunakan untuk mengukur  sudut antara dua benda yang terlihat.  Penggunaan utamanya adalah untuk menentukan  sudut tinggi elevasi antara obyek langit dan cakrawala.  Sudut dan waktu ketika diukur, dapat digunakan untuk  menghitung garis posisi di laut.  Penggunaan umum dari sekstam adalah  mengukur elevasi matahari di siang hari dan untuk mengukur wlwvasi ketinggian sudut di malam hari dari pesawat cakarawala pada bintang Polaris untuk menemukan lintang posisi navigator.

Bingung khan, memang pelaut jaman dahulu luar biasa.

Berikutnya adalah Certificate of Aunthenticity yang dikeluarkan oleh The Map House - Thornton (John & Samuel) : A large draught  of the Coast of Java dan  Blaeu Willem : Loluccae Insulae Celeberrimae.

Setelah berkeliling di Ruang Titik Nol, kamipun melanjutkan eksplore di Menara Syahbandar di bangunan utama.
Menara Syahbandar
Menara Syahbandar 
Di Menara Syahbandar ada 3 lantai.  Saya pun mulai mengeksplore tiap Lantai.
Lantai 1
Di lantai 1 terdapat 3 pintu dengan ornamen khas bangunan Belanda.  
  1. Pintu pertama tanpa informasi berisi foto dan lukisan yang menceritakan Menara Syahbandar. 
  2. Pintu kedua, Ruang Mercusuar, berisi koleksi benda benda terkait kesyahbandaran
  3. Pintu ketiga, Ruang Menara Syahbandar, merupakan pintu untuk naik ke Menara Syahbandar.
Berikut koleksi benda di Pintu kedua,
  1. Rambu Rambu
  2. Tung Woo Masthead Light
  3. Topdal Tunda
  4. Batu Duga
  5. Lampu Navigasi Kapal

Rambu Rambu 
Ada beberapa rambu rambu laut yang ada di Ruangan Pintu no 2 
Rambu Rambu

Rambu Rambu

Rambu Rambu

Berikutnya adalah Tung Woo Masthead Light.

Tung Woo Masthead Light
Lampu tiang utama ini diproduksi oleh Tung Woo ltd. perusahaan yang berbasis di Hongkong.  Tung Woo meruapakan perusahaan yang cukup disegani dalam produksi lampu navigasi dan sudah beroperasi sejak pertengahan tahun 1800 an.

Tung Woo Masthead Light
Berikutnya adalah Topdal Tunda

Topdal Tunda
Merupakan salah satu alat navigasi yang berfungsi untuk mengukur kecepatan kapal. Bila log vin ditarik maka akan berputar dengan kecepatan yang tergatung dari kecepatan kapal yang menundanya.  Apabila Log Vin ditarik maka akan berputar dengan kecepatan yang tergantung kecepatan kapal yang menundanya selanjutnya jumlah putaran logvin akan menunjukkan kecepatan kapal akan tetapi yang akan ditunjukkan langsung adalah jarak yang telah ditempuh oleh Kapal.
Topdal Tunda
  
Berikutnya adalah Batu Duga.
Batu Duga
Merupakan alat navigasi konvensional, berfungsi untuk mengukur kedalaman laut.  Biasa digunakan untuk mengukur kedalaman laut di sekitar dermaga agar kapal tidak terdampar di area dangkal saat akan bersandar.
Batu Duga

Berikutnya Lampu Navigasi Kapal
Merupakan lampu Navigasi kapal berfungsi sebagai penerang dalam pelayaran kapal dan wajib dinyatakan pada waktu kapal berlayar diantara matahari terbenam dan terbit, atau ketika berlayar pada saat kondisi badai yang sulit akibat cuaca buruk.

Lampu Navigasi Kapal

Selanjutnya dari Pintu tengah bergeser ke arah pintu ketiga, yang merupakan Pintu untuk menuju Ruang Menara Syahbandar.

Lantai 1 Menara Syahbandar

Batu Prasasti Cina di Menara Syahbandar

Saat memasuki Pintu ini, terdapat batu prasasti cina yang dijadikan titik nol. 

Keterangan Batu Prasasti Cina

Foto tulisan beraksara Cina di lantai Menara Syahbandar ini menyatakan bahwa tempat ini adalah Kantor Pengukuran dan penimbangan serta dsinilah titik Nol Jakarta.

Foto tulisan beraksara Cina yang terdapat di Menara Syahbandar ini adalah Prasasti Kedatangan Saudagar Cina Abad 17.

Lantai 2 Menara Syahbandar 

Tangga menuju lantai 2 
Selanjutnya kami naik ke lantai 2 dan di lantai tersebut terdapat beberapa peralatan.
Peralatan Koleksi Bahari di Lantai 2

Teropong 
Termasuk salah satu alat perlengkapan di kapal untuk melihat keadaan di depan dan di sekitar arah kapal yang sedang berlayar.
Teropong adalah alat untuk membantu melihat obyek yang berada di kejauhan.  Dalam pelayaran, teropong digunakan untuk melihat obyek yang dijadikan acuan dalam navigasi misalnya Gunung, bintang atau benda benda langit sebagai patokan arah.
 
Teropong 

Binokular
Merupakan alat pendukung di kapal untuk membantu melihat obyek berada di kejauhan.  Binocular merupakan penyempurnaan dari periskop dan sudah mengunakan dua buah lensa sehingga lebih nyaman digunakan dalam pelayaran, digunakan untuk melihat obyek yang dijadikan acuan dalam navigasi, pmisalnya Pantai, Dermaga mercusuar. 

Binocular
  
Lantai 3 Menara Syahbandar
Setelah mengeksplore lantai 2, kami pun menuju ke lantai 3 yang merupakan menara bersama Bang Dul Parlindungan, penulis handal.

Bang Dul berpose di Lantai 3 Menara Syahbandar  

Di menara ini ada 4 sisi dan bisa menyaksikan dengan jelas pemandangan di 4 sisi Menara.
  • Sisi 1 yang menghadap ke laut, tampak di kejauhan Museum Bahari, Menara masjid di tengah dan pelabuhan Sunda Kelapa di sebelah  kanan
  • Sisi 2, yang menghadap ke Pintu Air
  • Sisi 3, yang menghadap ke Kantor VOC
  • Sisi 4, yang menghadapk ke jalan lalulintas
Di lantai 3 menara Syahbandar sebagai Menara Pengawas 

Berikut tampilan dari masing masing sisi.
Bangunan Ruang Mercusuar

Bangunan Mercusuar

Sisi 1 yang menghadap ke laut, tampak di kejauhan Museum Bahari, Menara masjid di tengah dan pelabuhan Sunda Kelapa di sebelah  kanan

Gambaran kiri dilihat dari menara sisi 1 


Pemandangan sisi tengah dan kanan dari jendela sisi 1

Sisi 2, yang menghadap ke Pintu Air
Pemandangan dari Menara Syhabandar sisi 2, Pintu Air

Sisi 3, yang menghadap ke Kantor VOC
Pemandangan dari Menara Syhabandar sisi 3, Kantor VOC

Sisi 4, yang menghadapk ke jalan lalulintas
Pemandangan dari Menara Syhabandar sisi 4, Jalan Lalu Lintas

Suasana di Menara Syahbandar
Dari atas menara yang berketinggian 12 meter ini, kami bisa melihat ke sekeliling area yang saat ini sudah penuh dengan bangunan banguna baru sehingga tidak tampak lagi bahwa Menara Syahbandar ini adalah fasilitas pelayaran.

Museum Bahari dari lantai 3 Menara Syahbandar

Di Menara juga dipasang foto foto dokumentasi yang diambi dari atas menara. 


Foto 1 :

Panorama Pasar Ikan di Batavia dilihat dari Menara Syahbandar tahun 1870
Foto 2 :
Panorama Pasar Ikan di Batavia dilihat dari Menara Syahbandar tahun 1880

Foto 3 :
Kanal Pelabuhan dan Jalan jalan dari Batavia dilihat dari Menara Syahbandar tahun 1908

Foto 4 :
Panorama Pasar Ikan di Batavia dilihat dari Menara Syahbandar tahun 1935

Foto 5 :
Panorama Pelabuhan Sunda Kelapa dilihat dari Menara Syahbandar tahun 1940

Foto 6 :
Panorama Pasar Ikan di Batavia diihat dari Menara Syahbandar tahun 1949

Foto 7 :
Panorama Pasar Ikan di Batavia dilihat dari Menara Syahbandar tahun 1949

Foto 8 :
Panorama Pasar Ikan di Batavia dilihat dari Menara Syahbandar tahun 1954

Foto 9 :
Pemandangan dari Menara Syahbandar, Pintu Air antara Pasar Ikan dan Pelabuhan Sunda Kelapa 1992

Foto 10 :
Pemandangan dari Menara Syahbandar tahun 1993

Foto 11 :
Panorama Pasar Ikan di Batavia diihat dari Menara Syahbandar tahun 2016

Foto 12 :
Panorama Pasar Ikan di Batavia diihat dari Menara Syahbandar tahun 2018


Suasana di Menara Syahbandar
Saat berkunjung ke Museum Bahari dan Menara Syahbandar ini, suasana semangat Nenek Moyangku adalah Pelaut memang terbukti dari benda benda koleksi dan bangunan yang menjadi saksi bisu sejarah Kebaharian atau Kemaritiman Indonesia.
Menara Syahbandar
Penilaian dan Rekomendasi
Berdasarkan kunjungan ke Museum bahari ini, saya takjub dengan koleksi benda benda museum yang terawat dan ditata rapi, para pegawai museum yang ramah dan bersahabat.  Rekomendasi sebagai tempat study tour untuk mempelajari sejarah Jakarta dan menjadi destinasi edukasi sejarah Indonesia.

Kantor VOC
Perjalanan Pulang Nggowes
Kunjungan wisata sejarah berlanjut ke Gedung VOC yang terletak di seberang Menara Syahbandar. Bangunan tua ini sudah tidak terlalu terawat dan banyak berubah fungsi menjadi kuliner dan perkantoran serta banyak yang tidak aktif, mungkin karena penurunan serta lesunya kondisi perekonomian karena pandemi Covid 19.

Berpose di Kantor VOC
Saya berpose sejenak di dekat Kantor VOC ini dan menjadi saksi bahwa dulu ada bangunan bersejarah yang menjadi cikal bakal kota Batavia atau sekarang Jakarta. 
Mercure Hotel yang Megah

Dari Kantor VOC kami nggowes pulang dan mampir di Hotel Mercure yang bangunannya bernilai sejarah.


Berpose di Hotel Mercure

Setelah menjelajahi Museum Bahari dan Menara Syabandar dan di sesi sebelum menjelajahi keunikan Kota Tua, pas melintas di Hotel Mercure Jakarta Batavia. 

Terletak di pusat peninggalan kolonial Belanda yang bersejarah, Hotl Mercure Jakarta Batavia adalah destinasi yang terinspirasi oleh Kota Tua dan ditujukan bagi pengunjung bisnis atau liburan. Kota Tua Jakarta terletak di bagian utara Jakarta Barat dekat Pelabuhan Sunda Kelapa. 

Pada abad ke-16, kawasan ini mewakili masa kejayaan Jakarta, dikenal dengan Batavia sebelumnya, pusat industri perdagangan rempah-rempah di Nusantara. Hingga hari ini, Kota Tua tetap menampilkan struktur, desain, dan arsitektur bergaya Belanda. Wisatawan dapat menjelajahi Museum Fatahillah, Museum Bank Indonesia, Museum Wayang Indonesia, Pelabuhan Sunda Kelapa, Jembatan Kota Intan, dan masih banyak lagi.

Jembatan Kota Intan
Di depan hotel, terdapat kanal yang diujungnya terdapat Jembatan Kota Intan.  Pada saat ngowes sebelumnya, sebenarnya saya sudah ingin memfoto hotel Mercure Batavia yang megah ini, tetapi karena rute bersepedanya ke arah Pelabuhan Sunda kelapa maka kesempatan berfoto baru kali ini terlaksana.

Sebelumnya, Mercure Jakarta Batavia merupakan Hotel Omni Batavia yang berganti nama menjadi de Rivier Hotel. Hotel ini memiliki konsep old heritage yang menampilkan ke-Indonesiaan.

Setelah mengagumi Bangunan Tua Hotel Mercure yang luar biasa megah, kamipun melajutkan perjalanan karena berasa sangat lapar.
Kuliner Soto Madura Jalan Juanda
Kali ini kami ingin Kuliner Soto Madura di jalan Juanda.
Cukup dengan 15 menit, kamipun sampai di Soto Madura yang cukup terkenal ini.  Saya memilih menu Soto Daging Madura sedangkan Pak Komisaris Yusti dan Bang Dul memilih Soto Madura Ayam.

enikmati Soto Madura Jalan Juanda
Rasa soto yang lezat dan gurih, menghilangkan lapar kami dan membuat kami segar kembali untuk melanjutkan nggowes.

Nampang Jualan Soto Madura

Jika Anda bersepeda atau melintas di Juanda saat jam makan, jangan lewatkan Soto Madura ini. Maknyusss.


Sampai ketemu di sesi nggowes berikutnya. Salam.













Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "Misteri Menara Pengawas Yang Bergoyang, Cerita Menara Syahbandar Saksi Sejarah Maritim Batavia"

Post a comment

Popular Posts