Bersepeda ke Museum Bahari, Jejak Sejarah Batavia dan Jalur Dagang Jayakarta di masa New Normal

Museum Bahari

Bersepeda ke Museum Bahari, Jejak Sejarah Batavia dan Jalur Dagang Jayakarta
Maritime Museum
Benarkah Nenek Moyang Kita Seorang Pelaut, Menengok Kejayaan Maritim Indonesia di Museum Bahari

Seri : Jelajah Museum

Museum Bahari
Kembali  bertemu The Six Boys yang kali ini akan menceritakan pengalaman bersepeda dan menjelajah Museum Bahari.atau Maritime Museum. 

Museum Bahari
Nenek moyangku, seorang pelaut

Salah satu bagian judul tulisan ini diambil dari kalimat pertama lirik lagu anak-anak ciptaan Ibu Soed pada 1940. Nama aslinya Saridjah Niung kelahiran Sukabumi, Jawa Barat 26 Maret 1908. Pada 1927 menikah dengan Raden Bintang Soedibjo dan kemudian terkenal dengan sebutan Ibu Saridjah Niung Bintang Soedibjo atau Ibu Soedibjo dan disingkat menjadi nama panggilan “Ibu Soed”. Sosok Ibu Soed dikenal sebagai pencipta lagu anak-anak yang mengandung pesan-pesan moral sangat tinggi, baik pesan-pesan yang bersifat menumbuhkan semangat perjuangan dan kepahlawanan maupun pesan-pesan yang dapat menjunjung harkat-martabat dan jatidiri bangsa. Lagu “Nenek Moyangku Orang Pelaut”, salah satu ciptaan Ibu Soed yang mengandung nilai-nilai pesan moral dan mengekspresikan bahwa bangsa kita adalah bangsa yang terbiasa mengarungi samudera nan luas. Dengan kata lain lagu tersebut mengekspresikan bahwa Bangsa Indonesia adalah bangsa yang memiliki dan menguasai pengetahuan tentang kemaritiman.

Benarkah Nenek Moyang Bangsa Indonesia seorang Pelaut.  Mari kita simak Edisi Nggowes Museum Bahari bersama The Six Boys.

Edisi nggowes di Museum Bahari, bekas gudang barat VOC untuk menampung Rempah Rempah hasil Bumi Nusantara.

Baca juga :

Pernik Sejarah Kehidupan Maritim DKI
Pada masa pendudukan Belanda, gedung ini berfungsi untuk menyimpan, memilih dan mengepak hasil bumi seperti rempah rempah yang merupakan komoditi utama VOC yang sangat laris di pasaran Eropa.
VOC juga memanfaatkan gedung ini untuk menyimpan komoditi lain seperti Kopi, Teh, Tembaga, Timah dan Tekstil.

Museum dengan keterangan di Google Map :
Museum kelautan mengingatkan tentang warisan pelayaran Indonesia dengan model perahu kecil & jangkar.

Info Museum Bahari
Informasi di google per tanggal 28 Februari 2021 dengan 4.4 bintang dan 2460 ulasan.

Alamat Museum Bahari
Alamat dari Museum Bahari Jl. Pasar Ikan No.1, RT.11/RW.4, Penjaringan, Kec. Penjaringan, Kota Jkt Utara, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 14440

Sejak Pak Komisaris Yusti bercerita nggowes menyusuri megahnya Museum Bahari, Mercusuar yang bersejarah serta Kantor VOC pengumpul hasil bumi Indonesia dan mendistribusikannya ke seluruh Eropa bahkan seluruh dunia.

Info Museum Bahari
Dalam nggowes kali ini kami rencana berenam akan bersama sama mengayuh sepeda menuju Museum Bahari termasuk satu undangan Pak Komandan Messi.  Tapi sayangnya, tepat pada hari penggowesan, hanya kami bertiga yang bisa merealisasikan nggowes ke Museum Bahari ini.

Museum ini ada hal yang dikunjungi,
  1. Museum Bahari
  2. Menara Syahbandar yang dilengkapi dengan Mercu Suar

Titik kumpul di daerah KS Tubun Raya, dan tepat pukul 06.48 WIB kami berkumpul dengan masing masing seli atau sepeda lipat nya dengan peserta.

  1. Pak Komisaris Yusti dengan Ecosmo edisi khusus
  2. Saya sendiri dengan Dahon butut
  3. Bang Dul dengan Roar the legent

Titik Kumpul di KS Tubun Raya

Sepeda sepeda yang walaupun biasa saja, tetapi jam terbangnya sudah tinggi. Kali ini saya hanya mendetailkan sepeda lipat ecosmo karena  2 sepeda yang lain sudah pernah saya ulas.

Element Folding Bike Ecosmo 10sp Edisi Filosofi Kopi yang pada saat keluar dibandrol Rp5.350.000 adalah produksi Elemant. Mungkin sekarang bisa digoyang.

Element Folding Bike Ecosmo 10sp Edisi Filosofi Kopi adalah sepeda lipat dari Brand Element yang bekerja sama dengan Brand Kedai Kopi ternama di Indonesia yang di dirikan oleh Chico Jeriko
  • Frame (Bahan Rangka) Alloy : 
  • Warna Black & Green 
  • Fork (Garpu Depan) Hi Ten Steel
  • Shifter (Pengoper Gigi)
  • Front Derailleur (Pemindah Gigi Depan) : 1 x 10 Speed
  • Rear Derailleur (Pemindah Gigi Belakang) : 10 Speed
  • Crankset (Poros Engkol) : Alloy 170mm 52 T
  • Bottom Bracket (As Engkol) : Square Tapered
  • Cassette (Gigi Belakang) : -
  • Chain (Rantai) : Tech-PWR
  • Pedal : Element PVC Component
  • Front Brake (Rem Depan) : Hydraulic Disk Brake
  • Rear Brake (Rem Belakang) : Hydraulic Disk Brake
  • Handle Bar (Stang) : Alloy 580m
  • Handle Post (Leher Stang) : Teleskopik
  • Saddle (Sadel) : Element Component
  • Seatpost (Tiang Sadel) : Alloy
  • Rims (Velg) : Eclipse Double Wall
  • Tires (Ban) : 20 x 1,50
  • Spokes (Jari-Jari) : 24 Spokes
  • Extra : Free Front Block
  • Berat Total : 13,8 Kg
  • Ukuran Kemasan (Dalam Cm): P 86 X L 37 X T 72

Kalau yang Roar dan Dahon sudah pernah dibahas di tulisan sebelumnya di 
Jelajah Jejak Sejarah Indonesia di Jakarta, Gowes Bersama ABI Cycling Community

Setelah mempersiapkan segala sesuatu, seperti helm, masker, sanitizer, Bekal minuman,  Tepat pukul 07.07 WIB kami pun start nggowes. 

Info Museum Bahari di Google Maps
Kami memulai rute dengan menyusuri Jl KS Tubun Raya melintas Stasiun Tanah Abang dan terus melintas jalan Gajah Mada.

Menjelang Jalan Gajah Mada, Jakarta

Selanjutnya sempat kami ingin melintas Gloria dan melewati Vihara, tetapi karena kondisi sedang New Normal dan dalam masa pandemi, kami urungkan, hanya berfoto di dekat gang masuk dan kembali melintas jalan utama dan menuju ke arah Kota Tua. 

Di Sekitar Gloria

Selanjutnya melintas Museum Mandiri yang terlihat sangat megah. 

Museum Mandiri
Kami menyempatkan diri untuk berfoto di Museum Bank Mandiri dan ternyata banyak juga goweser yang berfoto seperti kami atau kami yang seperti mereka.

Berikutnya melintas jalan pertigaan dan berbelk kanan menuju ke jalur jalan Pasar Ikan.

Mengikuti Jalur Menuju Museum Bahari

Berhenti sejenak untuk minum karena tenggorokan  terasa haus di Jalan Tiang Bender 4 yang masih sepi karena mungkin hari minggu dan banyak yang belum beraktifitas.  


Melintas Jalan Tiang Bendera

Di ujung jalan, kami berbelok ke kiri melintas PT Sinar Antjol Indonesia dan Bang Dul menjadi foto modelnya. 

Di perempatan pertama, kami berbelok ke kiri dan terus mengikuti jalur nggowes sesuai Marshal Pak Komisaris.  Lho kok ke kiri, Pasar Ikan khan sesuai rambu disuruh lurus, mungkin Pak Kom mau nggowes lebih jauh.  Beliau biasa nggowes dengan track jauh. 


Mengikuti Jalur menuju Pasar Ikan

Pas di ujung jalan bertemu pertigaan dan sampailah kita di Tugu Menara Pekojan yang diresmikan pada 12-12-2015, pukul 12.12 WIB. Pekojan Maju, Pekojan Kita, sehat, Sejahtera Mandiri.

Monumen Pekojan

Oke kita langsung saja mendekat ke Jalan Pasar Ikan, tempat Museum Bahari.

Baca juga :
Pengalaman Berkunjung ke Gedung Perundingan Linggarjati, Jejak Sejarah Kemerdekaan Indonesia.

Sesampai di Museum Bahari, kami langsung berfoto di depan pintu masuk Museum Bahari.  

Berpose di Gerbang Museum Bahari

Berikutnya, kami pun memasuki Museum Bahari yang menerapkan protokol Covid.

Kami masuk dengan membawa sepeda seli kami masing masing.

Jangkar yang menjadi Icon Museum Bahari

Di Gerbang masuk, ada Pak Satpam yang menjaga dan meminta pengunjung untuk mencuci tangan dengan desinfektan terlebih dahulu, dan kami pun satu persatu mencuci tangan di wastafel yang ada di depan gerbang pintu masuk.

Pengecekan Suhu sebagai salah satu Protokol Covid 19
Berikutnya, satu persatu kami diminta untuk menecek suhu tubuh untuk menseleksi pengunjung yang suhunya di bawah 37 derajat bisa langsung berkunjung dan berwisata budaya dan pengetahuan di Museum Bahari dan langsung membeli tiket.

Proses pembelian tiket di Museum Bahari

Berikutnya, kami pun membeli tiket yang bisa dibeli online dan di loket yang ada di Museum Bahari.

Tiket untuk 3 orang

Harga tiket per orang Rp. 5.000,- dan sudah termasuk saat nanti memasuki Menara Syahbandar.  Luar biasa murah dan berikut informasi mengenai harga tiket dan layanan di Museum Bahari.

Pengumuman untuk harga tiket dan Pemandu alias Guide

Berikut informasi mengenai Museum Bahari.

Museum Bahari

Gedung Museum Bahari dibanguna Belanda sebagai  tempat penyimpanan rempah rempah .  Pembangunan gedung dilakukan tiga tahap, yaitu Tahap pertaa tahun 1718, tahap kedua tahun 1773 dan tahap ketiga tahun 1774.  Setelah masa kemerdekaan gedung ini menjadi kantor telekomunikasi.

Tahun 1972 ditetapkan sebagai bangunan bersejarah yang dilindungi undang undang monumen (monumenten ordonantie STBL. 1931 No. 238 dan surat keputusan Gubernur KDKI Jakarta  No. CB.11/12/72 tanggal 10 Januari 1972.

Kemudian pada tanggal 17 Juli 1977 diresmian sebagau Gedung Museum Bahari.  Tulisan ini disusun oleh Dinas Museum dan Sejarah DKI Jakarta.  

Tepat di samping kanan loket, ada satu lukisan yang sangat menarik. Tampak kapal layar saudagar pedagang yang dikepung oleh 2 kapal perompak.  Suasana pertempuran dengan semangat mempertahankan harta dan barang dagangan yang akan dipasarkan ke tujuan mereka.

Salah satu lukisan tentang kisah Pelaut di Museum Bahari

Berikutnya di samping lukisan, ada pintu untuk masuk ke salah satu ruangan museum. Ruangan museum yang berisi benda benda bersejarah yang sangat lengkap. 

The City of Batavia in the Island of Java and Capital of all, The Dutch Factories, Settlement in the East Indies   
Di sebelah kiri, tampak lukisan Kota Batavia pada saat itu. 

Saat  memasuki ruangan yang cukup luas dan bersih, tampak berbagai  koleksi museum yang mungkin perlu waktu lebih banyak untuk mengeksplore salah satu ruangan di  Museum Bahari ini.

Salah satu ruang Pamer di Museum Bahari

Terdapat miniature Kapal Phinisi yang legendaris.

Replika Kapal Phinisi

Phinisi Nusantara, kapal tradisional rakyat Bugis, Tana Beru Ujung Pandang  yang terbuat dari kayu ulin untuk lunas perahu dan kayu bitti, na'massa, mangga dan cembaga untuk bagian lain perahu.

Ciri utama kapal phinisi adalah bentuk kapal menggunakan prinsip lambung dari belah sabut kelapa  dilengkapi 7 buah layar depan, 2 layar utama dan 2 layar puncak.

Ukuran asli kapal Phinisi panjang 37 meter, lebar 8 meter, tinggi layar or height of the ship's mast 12 meter dan berat 120 ton.

Selanjutnya untuk keperluan Nusantara, dibuatlah Phinisi Nusantara.

Phinisi Nusantara adalah kapal layar yang dibuat secara tradisional oleh para pengrajin dari Bugis, tepatnya di desa Tana Beru, Kecamatan Bulukumba, Makssar, Sulawesi Selatan.   Kapal tersebut sengaja dibuat untuk ikut berpartisipasi pada pameran bertaraf internasional di Vancouver, Kanada pada tahun 1986.

Phinisi Nusantara dibuat secara khusus agar mampu mengarungi Samudera Pasifik dengan rute pelayaran Jakarta - Bitung -  Vancouver sejauh 11.000 mill laut selama 68 hari. 

Ekspedisi Vancouver ini dinakhodai oleh Kaptem Gita Ardjakusuma dengan 11 ABK (anak Buah Kapal) yang merupakan pelaut alam dari Bugis, Jawa, Sunda, Padang dan Timor.  Dengan mengutamakan kebersamaan, setia kawan, kerja sama, tanggung jawb sert disiplin yang tinggi mereka mampu melaksanakan misi sejarah dengan selamat.  

Tantangan alam laut pasifik saanggup mereka lewati.  Setelah berhasil sampai di Vancouver, Phinisi Nusantara masih mampu berlayar lagi ke San Diego, Amerika Serikat sejauh lebih kurang 1.000 mill  laut selama 2 minggu.  Ekspedisi lanjutan tersebut sekaligus membuktikan catatan sejarah bahwa di Acapulco Meksiko telah ditemukan fosil kapal sejenis Phinisi.

Tidaklah berlebihan bila kemudian Phinisi Nusantara dianggap sebagai pendobrak sekaligus bukti sejarah kejayaan nenek moyang bangsa Indonesia di dunia bahari.

Pelaut dan Pelayar yang pernah singgah di Sunda Kelapa
Selanjutnya beberapa infornasi terkait pelabuhan Sunda Kelapa.

Jauh sebelum kedatangan Portugis atau sebelum abad 16 Masehi, Pelabuhan Sunda Kelapa boleh dibilang sudah merupakan pelabuhan internasional.

Pada masa masa itu, Sunda Kelapa banyak disinggahi kapal kapal yang berlayar dari berbagai negara di dunia.

Pelabuhan Sunda Kelapa
Bandar terpenting dari Kerajaan Pakuan Padjajaran ini tidak hanya disiinggahi oleh aneka maam kapal dari berbagai daerah di Nusantara seperti Palembang, Tanjungpura, Maluku, Gowa (Makasar) dan Madura tetapi juga berbagai kapal dari berbagai negara Asia, seperti China, India, Arab, Persia, dan Ryuku alias Jepang.

Kedatangan kapal kapal ini tidak hanya untuk kepentingan perdagangan,saja tetapi juga untuk kepentingan keagamaan.  Negara negara Timur Tengah seperti Arab, Persia dan Turki pada abad 13 Masehi dalam pelayarannya ke Nusantara selain berdagang juga memiliki misis untuk menyebarkan agama Islam.

    

Koleksi di Museum Bahari

Masih banyak informasi yang bisa dipelajari terkait sejarah Bahari Indonesia di Museum Bahari ini.

Ternyata Nenek Moyang kita adalah seorang Pelaut seperti lagu yang diciptakan oleh Ibu Soed.


Pengunjung Museum Bahari yang sedang mendengarkan Sang Tour Guide

Saya pun memutuskan untuk nanti datang kembali dan membuat sesi berkunjung khusus untuk mengeksplore Museum Bahari.

Museum Bahari 

Di lantai 2 juga masih ada ruangan diorama museum dengan koleksi yang berbeda.

Museum Bahari

Berikutnya kami memulai cerita dengan foto foto dan membawa serta sepeda kami menuju bagian selasar tengah Museum Bahari.

Jendela jendela Kokoh Museum Bahari saksi bisu sejarah Bahari Indonesia

Wow...Takjub kami menyaksikan bangunan yang megah dengan arsitektur khas Belanda atau Eropa.  Pintu dengan daun yang tebal dan lebar, daun jendela dengan daun pintu yang besar dan kokoh serta engsel yang masih asli.

Bangunan Megah di Museum Bahari

Halaman selasar tengah ini sangat indah dengan bangunan arsitektur Belanda - Eropa yang megah dan sepertinya sudah pernah dipugar.

SAlah satu sudut di Museum Bahari
Kami pun berpose dengan masing masing sepeda kami di depan salah satu Pintu yang tembus hingga ke batas bangunan. 


Museum Bahari yang asri dan bersih

Tampak beberapa pohon kelapa tumbuh dan menjadi element landscape yang menghijaukan taman di Museum Bahari.

Salah satu sudut Museum Bahari

Bangunan Museum tampak terawat dan dipelihara dengan baik.

Disini kami sempat berfoto beberapa kali karena mengagumi betapa indah dan megahnya Museum Bahari.

Halaman Museum juga ditata dengan rapi dan asri.  Ada tempat duduk batu yang menjadi tempat bersantai dan beristirahat untuk pengunjung.

Berpose di halaman tengah Museum Bahari

 Dari sisi selasar tengah, saya mencoba masuk ke pintu lengkung yang ternyata di dalamnya ada cafe Bahari, dan sepertinya dimasa Pandemi ini sedang tutup. 

Salah satu pintu di Museum Bahari, tertera tahun 1774
Pintu lengkung tersebut, di atas lengkungannya tertera tahun 1774 ang mungkin adalah tahun pembangunannya.

Cafe di Museum Bahari untuk para pengunjung

Bagian ruangan ini terhubung denga Kantor Museum Bahari. Dari selasar tengah, kami menyusuri lotorong hingga memasuki halaman tengah yang luas dan asri.

Museum Bahari yang bersih dan terawat

Ternyata ini adalah ruang koleksi Perahu yang pernah berlayar dan berkunjung baik membongkar sauh dan berdagang di Batavia serta perahu perahu yang ada di Nusantara.

Berpose di depan Koleksi Perahu Museum Bahari

Berbagai macam perahu disimpan dan menjadi koleksi di dalam ruangan ini. Sebelum memasuki ruang pameran, kami berfoto dulu di halaman ruang pamer perahu yang sangat asri. Ada jendela yang luar biasa kokoh dengan baha kayu pilihan.


Salah satu cara mengagumi kemegahan Museum Bahari

Sebelum memasuki ruang pamer perahu, kami berforo sekali lagi dengan sepeda dan posisi masing masing.

Ruang Koleksi Perahu Museum Bahari

Ada sekitar 11 perahu yang dipajang dengan berbagai bentuk dan ornamen dan berikut beberapa koleksi dimana kami berfoto dan berpose bersama Sang Perahu.

Perahu Jayapura 2
Berpose di Perahu Japaypura 2 yang sangat unik dan artisitik.
The Six Boys Bersiap berlayar

The Six Boys Berlagak seperti sedang mendorong Perahu untuk melaut dengan semangat nenek moyangku seorang pelaut.  
The Six Boys Mengajak Perahu Arnyacala berlayar
The Six Boys melaut bersama Perhu Arnyacala yang semuanya berwarna putih bersih.

Perahu Cadik Nusantara

Perahu Jegongan

Perahu Jegongan.
Perahu yang dibuat di daerah Selat Madura.  Kata Jegongan berarti perhubungan.  Bentuknya sama dengan perahu lete tetapi ukurannya lebih kecil.
Perahu ini banyak dijumpai di Pangkalan Sampang Camplong dan juga Kamal bagian selatan Madura juga di daerah Gresik.  Di sampinguntuk mengangkut garam, perahu ini ini juga bisa untuk mengangkut kelapa.
Perahu Jegongan merupakan jenis perahu niaga.  Perahu niaga untuk jarak sedang dan umumnya dipakai untuk mengangkut garam yang berasal dari ladang ladang garam yang dihasilkan di sepanjang Pantai Madura antara Pamekasan dan Sumenep.

Perahu Layar Tradisional

Suasana di Ruang Pamer Perahu

Perahu Rescue Kalimaya

Kapal Kalimaya dan Kapal Rescue.  Kalimaya adalah nama kapal cepat milik Ir. Maruto Yuwono.  Pada tahun 1983, saat tengah mengikuti lomba menyeberangi selat sunda, kapal ini pernah lolos saat diterjang ombak setinggi 6 meter.
Kapal Rescue adalah kapal penyelamat Porlasi atau Persatuan Olahraga Layar Seluruh Indonesia yang digunakan untuk menyelamatkan Kapal Kalimaya yang diterjang ombak saat mengikuti lomba menyeberangi Selat Sunda. 


Cadik Nusantara

Perahu Arnyacala

Beberapa koleksi perahu tersebut terlihat sangat terawat dan tidak ada debu sedikitpun.

Halaman antara Ruang Pamer Koleksi Perahu sebelah kanan yang dibuka dan Ruang Pamer Perahu sebelah kiri ditutup 

Jalanan Penghubung dengan Gudang penyimpanan hasil bumi.

Sepeda kamipun ikut menyaksikan kejayaan Bahari Indonesia

Dari Ruang Koleksi Perahu, kami terus melanjutkan perjalanan menuju lorong berikutnya. 
Tangga spiral menuju lantai 2

Saya memasuki area gudang yang kosong dan dibalik pintu ada tangga menuju ke lantai 2. 

Ruangan Kosong alias gudang yang dulunya tempat menyimpan hasil bumi Nusantara

Di lantai 2, berupa ruangan kosong dan sangat luas.

Tangga menuju lantai 3

Selanjutnya saya melajutkan baik tangga menuju lantai 3. DI lantai 3 juga masih kosong dan seperti baru direnovasi.  Kayu Kayu balok berukuran raksasa menjadi penopang konstruksi yang kuat dan kokoh 

Ruangan Kosong di Lantai 3

Tangaga terpasang dengan rapi dan kuat.  Sewaktu saya naik, tidak ada sedikitpun rasa goyang atau bergetar. 

Tangga menuju lantai 3

Di ruangan ini, saya bertemu dengan rombongan pengunjung yang sepertinya dari Jawa Timur sedang serius mendengarkan penjelasan dari tour guide.
Rombongan pengunjung sedang mendengarkan penjelasan Tour Guide 

Saya kembali ke lantai 2 dan keluar menuju selasar yang memiliki koridor ke gedung sebelahnya.  Sayang gedung sebelahnya tertutup untuk umum.

Jendela yang menjadi sirkulasi udara dalam gudang di Museum Bahari

Dari lantai 2 ini, saya memotret halaman belakang Museum yang ternyata adalah perkampungan yang  padat.

Perkampungan di belakang dinding Museum Bahari

Setelah puas menikmati ruangan di lantai 2, saya pun menuruni tangga dan melanjutkan mengeksplore dinding pembatas luar Museum Bahari.

Dinding Pembatas Museum Bahari dengan bagian luar

Setelah menyeberang ruang kososng dan menaiki tangga ke lantai 2, sampailah saya di dinding pembatas luar.

Lorong di dinding pembatas yang bisa dilewati dan berfungsi untuk inspeksi

Di dinding pembatas ini ada lorong yang bisa dilewati dan menuju ke Gerbang utama.

Halaman luar Museum Bahari tampak hamparan lahan yang tidak terurus dan sepertinya sebelumnya adalah bangunan atau tempat mirip pasar.
 
Halaman depan dari lantai 2 pembatas dinding

Saya mencoba menyusuri dinding melewati lorong inspeksi.  Ternyata di bagian luar dinding, terpasang meriam meriam yang menjadi pelindung Museum Bahari yang dulunya adalah Gudang barat yang berisi hasil bumi yang dikumpulkan dari seluruh Nusantara Indonesia.

Lantai dasar dilihat dari lorong inspeksi

Meriam meriam itu mengarah ke arah laut dan memang dulunya di depan gudang barat adalah muara yang menghubungkan sungai Ciliwung dengan laut. 

Meriam yang melindungi Gudang Barat dari pencurian dan penjarahan


Berikutnya saya menuruni lorong dinding pembatas dan menyusuri saksi bisu sejarah Kota Batavia yang berdiri megah dan bertahan dari ancaman kerusakan karena alam dan karena tangan tangan usil.


Sebenarnya masih banyak hal bagian museum yang belum saya eksplore, tetapi karena masih akan melanjutkan nggowes maka untuk kunjungan kali ini cukup sekian dulu.

Jangkar Kokoh

Suasana Kunjungan ke Museum Bahari

Saat kunjungan ke Museum Bahari, pelayanannya sangat bagus dan excellent.  Petugasnya ramah dan bersedia menjelaskan dan membantu menunjukkan rute berkeliling.  
Bagi teman teman yang ingin penjelasan lebih detail, bisa meminta bantuan Guide yang akan menjelaskan secara detail dan terperinci isi dari Museum Bahari dan cerita cerita yang hanya bisa didapatkan dari penjelasan Sang Guide.

Benarkah kita bangsa Indonesia adalah bangsa maritim, bangsa yang memiliki nenek moyang pelaut ulung? Mengapa bangsa Indonesia juga dikenal sebagai bangsa agraris? dua hal yang saat ini menjadi permasalahan bangsa cukup krusial. Sebagai bangsa maritim kita belum mampu mengelola secara maksimal lautan dan samudera yang kita miliki. Kementerian Kelautan baru terbentuk pada masa Presiden Abdurrahman Wahid, kelautan dan kemaritiman mulai keluar “taring”nya sejak Ibu Susi menjadi menteri. Demikian pula sebagai bangsa agraris masalah swasembada pangan hingga saat ini negara kita masih import beras, gula, jagung, kedelai dan bahkan garam.

Permasalahan bangsa Indonesia, apakah kita ini bangsa maritim atau bangsa agraris tidak perlu diperdebatkan karena hanya menghabiskan waktu dan tenaga yang hasilnyapun sia-sia. Permasalahan penting yang perlu diangkat saat ini adalah bagaimana mengembalikan kejayaan nenek moyang bangsa ini sebagai bangsa maritim. Bangsa yang mampu mengarungi samudera nan luas mengokupasi ribuan pulau-pulau yang tersebar di Samudera Pasifik, dan menguasai perniagaan laut, seperti pada ribuan tahun yang lalu hingga munculnya kerajaan-kerajan besar seperti Sriwijaya dan Majapahit.

Saya semakin yakin dengan kunjungan ke Museum Bahari, bahwa nenek Moyang saya adalah Seorang Pelaut yang Tangguh.


Penilaian dan Rekomendasi
Museum Bahari merupakan museum yang sangat bagus untuk menjelaskan sejarah bahari Indonesia khususnya Batavia alias Jakarta.  Banyak pengetahuan dan sejarah yang bisa dipetik dan dipelajari langsung dari benda benda koleksi yang masih terawat dan terjaga denagn baik.

Pesan Moral
Jas Merah, Pesan Bung Karno kepada seluruh rakyat Indonesia di awal kita menapaki kehidupan sebagai bangsa yang merdeka terlepas dari belenggu penjajahan bangsa-bangsa lain. “Jangan sekali-kali meninggalkan sejarah” adalah pesan moral dari seorang pemimpin bangsa yang mencintai rakyatnya. Pesan moral yang mengandung makna sangat dalam bagi kehidupan manusia, karena sejarah adalah acuan, referensi dan bahkan sebagai tuntunan bagi kehidupan di masa kini dan masa yang akan datang. Studi arkeologi adalah memelajari sejarah berdasarkan tinggalan artefak, ekofak, dan ideofak yang tersisa dari kehidupan manusia masa lampau.

Asal-usul dan kejayaan bangsa Indonesia dimasa lampau adalah bukti sejarah yang tidak bisa kita pungkiri atau kita tinggalkan. Keberadaan Ras Australoid yang terlebih dahulu tinggal di kepulauan ini, kemudian datang Ras Mongoloid bermigrasi secara besar-besaran tidak ada satupun rintangan. Demikian pula kedatangan bangsa-bangsa lain berikutnya, yang akhirnya mereka harus saling berhubungan, berintegrasi, dan kawin-mawin, itu semua adalah Sunatullah yang patut kita syukuri (Kasnowihardjo, 2016).

Meskipun Museum Bahari pernah mengalami kebakaran, Museum Bahari tetap menjadi tujuan wisata atau destinasi wisata favorit di jakarta. 

Demikian sekelumit cerita nggowes The Six Boys di Museum Bahari semoga bermanfaat dan memotivasi teman teman untuk belajar Sejarah.  Ingat Jas Merah.

Terima kasih kepada Pak Komisaris Yusti atas foto foto kerennya.

Dari Museum Bahari, kami melanjutkan nggowes ke Menara Syahbandar yang ada mercusuar nya.

Megahnya Menara Syahbandar

Berikutnya ikuti episode :

Menara Syahbandar, Menara Pengawas yang Bergoyang, The Rocking Outlook Tower

Koleksi Lampu Mercusuar


Subscribe to receive free email updates:

0 Response to " Bersepeda ke Museum Bahari, Jejak Sejarah Batavia dan Jalur Dagang Jayakarta di masa New Normal"

Post a comment

Popular Posts