Pengalaman Berkunjung ke Gedung Perundingan Linggarjati, Jejak Sejarah Kemerdekaan Indonesia.

Pengalaman Berkunjung ke Gedung Perundingan Linggarjati, Jejak Sejarah Kemerdekaan Indonesia. 


Setelah check in di Hotel selesai dan barang barang diturunkan, disimpan ke kamar hotel, kami melanjutkan perjalanan ke tempat wisata berikutnya.

Sebelumnya kami mengecek peralatan kamera, tripod beserta bateray cadangan dan perlengkapan lainnya untuk menuju wisata berikutnya.
Tujuan kami adalah  tempat bersejarah Gedung Perundingan Linggarjati.

Gedung Perundingan Linggarjati
Perjalanan dari Hotel menuju Gedung Bersejarah Linggarjati yang terletak di kecamatan Cilimus atau sekitar 15 km dari Kota Kuningan.

Kali ini pilotnya adalah Pak Razil, yang berpengalaman di medan berkelok.  Kecamatan Cilimus di tempat yang mendaki dan berbukit. Udara sangat segar dan kami bersyukur masih bisa menghirup udara segar di Kuningan.

Sang Pilot yang berpengalaman
Sabtu, Pukul 14.56 
Pukul 14.56 WIB, kami memasuki Gerbang kawasan Museum Perundingan Linggarjati yang sangat asri, lokasinya berada di Kecamatan Cilimus, Kabupaten Kuningan mendekati dan berada di lereng kaki Gunung Ciremai.

Pedagang Souvenir di Gedung Linggarjati
Parkir di halaman gedung yang sangat luas yang dikelilingi kios para pedagang makanan dan souvenir.Kami satu satunya mobil pengunjung yang parker di halaman saat itu 
Halaman Depan Gedung Perundingan Linggarjati
Gedung Linggarjati berada di seberang dan sudah terlihat gagah dan kokoh, tampak terawat. Kesan pertama yang membuat kami semakin bersemangat untuk mengetahui isi dalam gedung bersejarah ini.

Baca Juga : Pengalaman Belanja Batik Trusmi di Cirebon

Ada apa dengan Gedung Linggarjati?
Linggajati, juga dieja Linggarjati, adalah sebuah desa di kecamatan Cilimus, Kuningan yang terletak di kaki Gunung Ceremai, Kabupaten Kuningan. Di tempat ini dilangsungkan Perundingan Linggarjati antara Indonesia dan Belanda pada tahun 1946. Tempat diselenggarakannya Perundingan Linggarjati kini dilestarikan dan dikenal sebagai Museum Linggarjati.atau nama sesuai keputusan menteri adalah Gedung Perundingan Linggarjati.

Desa Linggajati berada di wilayah Cilimus, Kabupaten Kuningan, Provinsi Jawa Barat. Desa ini terletak pada ketinggian 400 meter dari permukaan air laut. Desa ini mudah dijangkau, baik dari Kota Cirebon maupun Kota Kuningan. Jarak tempuh dari Kota Cirebon adalah sekitar 25 km, sementara jika dari Kota Kuningan berjarak sekitar 17 km

Dari arah Kuningan,  posisi bangunan berada di sebelah kiri dengan pintu gerbang. Selanjutnya setelah melewati pintu gerbang, sekitar 50 meter dari jalan besar, tersedia tempat parkir yang luas.
Monumen Linggarjati tampak dari Gedung Linggarjati
Gedung Linggarjati berada di areal tanah yang luas dan asri.  Di sebelah kanan jalan masuk, tampak taman dengan monument peresmian Gedung Linggarjati yang dipugar.  
Menurut informasi dari Bapak Tour Guide kami, ruangan dan segala perabotan yang ada di dalam gedung pada tahun 1976 pada saat dipugar oleh pemerintah, dibuat sedemikian rupa agar data dan suasananya sedapat mungkin sama pada seperti tahun 1946 seperti saat perundingan dilaksanakan. 
Selain itu, di dalam gedung juga dilengkapi dengan foto situasi saat perundingan  berlangsung dan bahan-bahan informasi lain bagi pengunjung. Halaman dan taman sekeliling bangunan juga dipugar.

Penjelasan pertama adalah cerita mengenai sejarah bangunan Gedung Pertemuan Linggarjati.

Tahun 1930 - 1935, awalnya gedung Linggarjati merupakan bangunan milik perorangan pribumi yang selanjutnya berpindah tangan pada seorang berkebangsaan Belanda. 
Pak Tour Guide menjelaskan bahwa pembeli yang bernama Mr. Jacobus (Koos) Johannes Van Ose atau Kulve Van Os merombak bangunan yang sebelumnya semi permanen menjadi permanen. Keluarga ini menjadikan bangunan ini menjadi rumah peristirahatan. Mr. Van Os memiliki pabrik semen serta perajin ubin dan akhirnya menikah dengan wanita Indonesia. Pabrik Semen dan Ubin ini yang melayani dan mengirimkan semen ke kota kuningan. 
Mr. Yacobus (Koos) Johanes Van Os Pemilik Gedung Linggarjati
Tahun 1935 - 1946. Selanjutnya bangunan disewa oleh Mr. Heiker yang juga berkebangsaan Belanda untuk dijadikan Hotel yang bernama Rus Toord.

Pak Tour Guide menjelaskan cerita dengan lancar dan hafal di luar kepala.

Pada saat Jepang menjajah Indonesia, Hotel Rus Toord berubah nama menjadi Hotel Hokau Ryokan. Setelah Indonesia merdeka dan bangunan diserahkan kepada Pemerintah Indonesia dari Pemerintah Jepang, bangunan Hotel ini berubah nama menjadi Hotel Merdeka.


Gedung Perundingan Linggarjati
Saat kami berkunjung, terpampang di papan nama depan Gedung Linggarjati tertulis, Bangunan Cagar Budaya, Gedung Perundingan Linggarjati,  Dilindungi Undang Undang No. 11 Tahun 2010, Tentang Cagar Budaya, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Balai Pelestarian Cagar Budaya, Serang.
Sedang Serius berdiskusi tentang Gedung Perundingan Linggarjati

Memasuki Gedung Perundingan Linggarjati

Setelah mendaftar dan menyelesaikan administrasi dengan Person In Charge alias PIC, Om Ojo Fauzi Nurul Hamzah, kami dibantu oleh Tour Guide yang memang karyawan di Museum dan memang kami sengaja minta ditemani Tour Guide agar kami dapat mengikuti sejarah Gedung Pertemuan Linggarjadi dengan baik serta mendapatkan cerita yang runut dan jelas. 
Seperti kami jadinya mengetahui bahwa sejarah Gedung Pertemuan Linggarjati yang ternyata adalah bekas Pabrik Semen dan Pabrik Ubin, dan ubinnya terpasang hingga saat ini. Disaat kami berkunjung ke Museum ini.
Gedung Perundingan Linggarjati dari sisi kanan Pintu masuk bangunan
Selanjutnya kami memasuki bangunan dari pintu masuk sesuai petunjuk Tour Guide (Saya lupa nama Bapak yang menjadi tour guide). 
Berfoto bersama di Meja Saksi
Tujuan pertama adalah Diorama yang ada di bagian depan ruangan. Diorama menceritakan proses perundingan ini dan posisi dan situasi pada saat perundingan dengan jelas dan kami pun berlomba untuk mengabadikan  Etalase Diorama yang ada di bagian sisi depan kanan ruang perundingan tersebut.
Diorama suasana Saat Perundingan Linggarjati
Di dalam Diorama suasana saat berlangsungnya Perundingan Linggarjati. Meja dan tempat duduk ditata sedemikian rupa baik posisi duduk dari Penengah dari Inggris, Delegasi Indonesia dan Delegasi dari Belanda.

Tidak sabar untuk memfoto suasana di Gedung Linggarjati
Saat memperhatikan diorama dan dengan semangatnya Pak Tour Guide menjelaskan isi diorama, terbayang suasana perundingan saat itu. Ruangan yang berisi meja dan kursi yang sudah tersusun sesuai delegasi yang hadir. Merinding membayangkan para peserta berdebat dan berteriak memertahankan pendapat. yang bisa diterima.
Suasana Perundingan yang serius dengan Delegasi Belanda dan Delegasi Indonesia duduk berhadapan
Perundingan adalah pembicaraan tentang sesuatu, perembukan, permusyarawaratan. Perundingan merupakan tindakan atau proses menawar untuk meraih tujuan atau kesepakatan. Jadi, proses debat pendapat, saling lobby dan berargumentasi setidaknya terjadi saat Perudingan linggarjati ini.

Tampak Samping Diorama Perundingan Linggarjati
Dalam perundingan dibutuhkan tindakan kedua belah pihak baik yang nyata maupun yang tidak, dimana pihak-pihak yang berunding memberikan persetujuannya. Perundingan tidak mencari cara untuk mempengaruhi satu pihak, namun terjadi karena kedua belah pihak merasakan hal yang sama: ingin mencapai kesepakatan. Apalagi perundingan ini membahas mengenai wilayah negara, kedaulatan negara, kekuasaan dan penjajahan. Pasti seru.

Baca Juga : Menikmati Kuliner Empal Gentong H Apud yang legendaris

Berikut Detail dari Peserta rapat sesuai Diorama :
Di meja ujung tengah Pemerintah Inggris selaku mediator, Meja Lord Killearn, seorang mediator dari Inggris utusan khusus Inggris untuk Asia Tenggara, berkedudukan di Singapura.
Meja Lord Killearn, Penengah atau mediator  dari Inggris 
Di Sebelah kanan dari pintu masuk, berjajar barisan yang mewakili pemerintah Indonesia Meja Delegasi Indonesia atau berada di sebelah kiri dari arah Meja Mediator  perhatikan foto dokumentasi dari kanan ke kiri
  1. Sutan Sjahrir sebagai Chairman alias Ketua Delegasi Indonesia 
  2. Mr.Soesanto Tirtoprodjo sebagai anggota
  3. Dr.Andan.Kapal Gani atau sering dikenal sebagai AK Gani sebagai anggota
  4. Mr.Muhammad Roem sebagai anggota

Delegasi Indonesia
Bapak Soetan Sjahrir sebagai ketua delegasi Indonesia di Perundingan Linggarjati
Di Sebelah kiri dari pintu masuk, berjajar barisan yang mewakili pemerintah Belanda. Meja Delegasi Belanda (Dutch Delegation) atau berada di sebelah kanan dari meja moderator Lihat foto dokumentasi kami yang jelas dan terang perihal delegasi Belanda terdiri dari
  1. Prof.Ir. Schermerhorn
  2. Mr.Van Poll
  3. Dr.F.DeBoer
  4. Dr.Van Mook
Meja Delegasi Belanda
Dr. H.J Van Mook, salah satu delegasi Belanda
Meja notulen dan saksi tamu berada di meja bundar yang ada tengah tengah dengan 4 kursi yang berisi 
  1. Dr.J.Leimena
  2. Dr.Soedarsono
  3. Mr. Ali U Boedihardjo
  4. Mr. Amir Syarifudin 
Termasuk meja para saksi yaitu Presiden Soekarno serta wakil presiden Mohammad Hatta
 Meja Para Saksi
Diorama Para Saksi yang hadir
Mengapa memilih Gedung Linggarjati sebagai Tempat Perundingan?
Linggarjati dipilih karena merupakan tempat yang netral untuk Pihak Indonesia dan Pihak Belanda, dan disetujui untuk dimediatori oleh Inggris selaku negara yang menangani konflik perang di Asia, diwakili oleh Lord Killearn.
Tulisan yang mengusulkan Gedung Linggarjati sebagai tempat perundingan
Pak Tour Guide juga menceritakan proses negosiasi terkait pemilihan tempat Gedung Linggarjati sebagai lokasi perundingan antara Indonesia dan Belanda yang difasilitasi oleh Inggris.
Mulai dari proses pemilihan tempat dimana ada putri asli Kuningan yang mengusulkan tempat netral untuk perundingan.

Di salah satu lukisan yang dipajang disebutkan :

Berdasarkan keterangan dari Soebandio Sastrosetomo dan Ali Boediardjo bahwa yang mengusulkan tempat perundingan di Linggarjati kepada Sutan Syahrir adalah Ibu MR. Maria Ulfah Santoso (menteri Sosial RI yang pertama). Beliau memilih Linggarjadi karena ayahnya adalah mantan Bupati Kuningan. Sehingga beliau mengenal dengan baik 
daerah tersebut. Selain itu Residen Cirebon Hamdani dan Bupati Cirebon Makmun Sumadipradja merupakan anggota partai Nasionalis sehingga keamanannya bisa terjamin
 Dok Ibu MR. Maria Ulfah Santoso yang mengusulkan Gedung Linggarjati sebagai tempat perundingan
Jadi memang tepat memilih Rumah Bekas Pabrik Semen ini untuk menjadi tempat perundingan yang netral. Jauh dari Ibukota, jauh dari pelabuhan, jauh dari Bandara sehingga proses perundingan diharapkan tanpa intimidasi dari pihak pihak yang berkepentingan.

Apa saja Isi dari Gedung Perundingan Linggarjati?
Pak Tour Guide menjelaskan bahwa Bangunan Gedung Pertemuan Linggarjati merupakan bangunan  dengan luas bangunan 800 m2.  Bagaikan seorang Arsitek beliau menjelaskan dengan detail bagian bagian dari gedung Perundiangan Linggarjati.
Bangunan ini terdiri dari beberapa ruang, yaitu ruang tamu, ruang tengah, kamar tidur, kamar mandi dan ruang belakang. Ruang tamu dipergunakan sebagai ruang untuk melakukan lobbi dan meeting informal, ruang tengah merupakan ruang utama, dimana perjanjian Linggarjati dilaksanakan. 
Posisi Meja dan Kursi pada saat Perundingan
Posisi kursi yang diduduki oleh para anggota perundingan masih sama seperti dulu waktu perundingan dilangsungkan dan digambarkan dengan jelas di diorama.
Salah Satu Ruang yang bersejarah, tempat Presiden Soekarno dan Lord Killearn Bertemu
Dokumentasi kumpulan foto anggota The Six Boys yang aktif merekam dari beberapa sisi ruang perundaingan beserta pembagian meja. Berikut detail pembagian ruangan dari hasil penjelasan Pak Tour Guide. 
  1. ruang sidang, tempat berlangsungnya Pertemuan Linggarjati
  2. ruang sekretaris, untuk pertemuan para notulis
  3. kamar tidur Lord Killearn (Inggris), posisi di belakang
  4. ruang pertemuan Presiden Soekarno dan Lord Killearn, di samping ruang istirahat Lord Killern
  5. kamar tidur delegasi Belanda, berisi 4 tempat tidur lengkap dengan lemari
  6. kamar tidur delegasi Indonesia, berisi 4 tempat tidur lengkap dengan lemari
  7. ruang makan, yang cukup untuk 10 orang
  8. kamar mandi/WC, 
  9. ruang setrika, 
  10. gudang, 
  11. bangunan paviliun, dan 
  12. bangunan garasi.

Satu persatu bangunan dijelaskan dengan detail oleh Pak Tour Guide.


Bapak Tour Guide kami menjelaskan dengan semangat dan runut peristiwa perundingan Linggarjati
Sebelumnya kami mohon maaf dengan Bapak Tour Guide yang mendampingi dan menjelaskan peristiwa dan proses perundingan karena terkadang kami sibuk sendiri dengan mengabadikan moment dan suasana ruangan sehingga harus mengulang penjelasannya mengenai cerita dari masing masing ruangan
Mengunjungi Kamar Para Delegasi
Kami juga berkeliling di dalam kamar kamar yang dihuni oleh para delegasi yang isinya masih perabot asli dan lantai ubin yang terawat dengan baik.
Bak Penampungan air di bagian belakang Gedung Linggarjati, airnya dingin dan sejuk. Tempat cuci muka biar awet muda


Pada saat perundingan diceritakan bahwa Delegasi dari Belanda dan Penengah dari Inggris tidak menginap di Gedung Linggarjati, tetapi langsung kembali ke Jakarta.  
Salah satu sudut tempat tidur yang didokumentasikan
Kapal Perang Belanda  Banckert bersandar di Pelabuhan Sunda kelapa siap membawa kembali delegasi Belanda setelah perundingan selesai.

Setelah perundingan berlangsung, Lord Killearn dan beberapa delegasi Belanda  seperti Schermerhorn, Ivo Samkalden, P. Sanders menginap di Linggarjati
Perabot dan perlengkapan Kamar yang masih terjaga rapi
Kamar-kamar yang ditempati tokoh-tokoh perundingan dilabeli dengan baik di setiap ruangan termasuk dengan perabot museum. 
Foto Penyerahan Kedaulatan RI di Jakarta tanggal 27 Desember 1949
Letnan Gubernur Jenderal van Mook dan anggota delegasi lainnya lagi menginap di Kapal Perang Banckert. Sedangkan delegasi Indonesia menginap di rumah Bung Sjahrir di Linggasana, desa tetangga Linggarjati, berjarak sekitar 20-25 menit jalan dari lokasi gedung Linggarjati.

Selain perabot yang rapi di setiap kamar ditempelkan berita berita terkait perundingan serta penjelasannya. Diantaranya berupa  berupa akte penyerahan kedaulatan dan serta pengakuan, Koran Belanda yang menyebutkan Perundingan Linggarjati serta berita yang lain terkait perundingan linggarjati.
Salah Satu Buletin yang mengulas Perundingan Linggarjati
Di ruang pertemuan ditempelkan berbagai foto terkait gedung linggarjati mulai dari foto peserta perundingan dengan latar belakang bangunan Gedung Linggarjati, suasana lobby antar delegasi, suasana saat Presiden Soekarno berbicara dengan Lord Killearn Proses Penandatangan Perjanjian Linggarjati dan banyak lagi foto foto yang terpampang.
Foto Suasana Saat Perundingan Linggarjati
Sejumlah foto-foto dokumentasi seputar perundingan menghiasi dinding Ruang Perundingan Linggarjati. Antara lain foto wartawan mancanegara mengetik naskah berita di pagar tangga kediaman Bung Sjahrir di Linggasana. 
Foto Para Wartawan yang meliput berita Perundingan Linggarjati
Menurut keterangan pemandu foto-foto diperoleh dari Kedutaan Belanda.
Selain itu juga ada foto kondisi bangunan saat perundingan dan para peserta perundingan.
Para Wartawan peliput Perundingan Linggarjati yang bersantai
Dokumentasi Penandatangan Perundingan Lingarjati
Foto Para Peserta Perundingan di depan Gedung Linggarjati
Lorong lorong yang menghubungkan antar ruanga juga ditata sangat rapi dan beberapa foto terkait sejarah Indonesia dipajang di lorong lorong ini.
Foto Foto terkait perundngan Linggarjati yang dipasang di lorong atau gang antar ruangan
Lorong dari Kamar Delegasi menuju Ruang utama, Lorong dari ruang mediator di belakang ke ruang utama serta dapur dan ruang makan yang masih tampak asli dan tertata rapi,
Pak Komisasris Yusti sedang melewati lorong menuju Taman Belakang

Sedikit perasaan yang muncul, saat di kamar Lord Killearn, sekelebat bayangan beliau melintas di antara kamar mandi dan menyapa dengan ramah dan saya pun mengucapkan terima kasih sudah disapa dan semoga beliau baik baik saja.
Kursi di Kamar Mediator Lolrd Killearn
Apa Hasil Perundingan Linggarjati ?
Tahukah anda bahwa Perundingan Linggarjati 11- 13 November 1946, merupakan perundingan bersejarah perihal Status Kemerdekaan Indonesia.
Berunding di Gedung Perundingan Linggarjati
Perundingan tersebut menghasilkan naskah perjanjian Linggajati yang terdiri dari 17 pasal, yang selanjutnya ditanda-tangani di Jakarta pada tanggal 25 Maret 1945 dan menghasilkan beberapa poin dan pasal, diantaranya:
  1. Belanda mengakui secara de facto wilayah Republik Indonesia, yaitu Jawa, Sumatera dan Madura
  2. Belanda harus meninggalkan wilayah Republik Indonesia selambat-lambatnya tanggal 1 Januari 1949
  3. Belanda dan Indonesia sepakat membentuk negara Republik Indonesia Serikat (RIS).
  4. RIS harus bergabung dengan negara-begara persemakmuran di bawah Kerajaan Belanda
Sisi Halaman Belakang, Perhatikan Ornamen jendela dan pintu yang terawat dan bersih

Apa Dampak Setelah Perjanjian Linggarjati?
Setelah Perjanjian Linggarjati dibuat, ada beberapa dampak yang dialami oleh Indonesia.

Dari sisi positifnya, citra Indonesia semakin kuat di mata dunia internasional setelah diakui kemerdekaannya oleh Belanda.
Belanda mau mengakui kekuasaan Indonesia atas Pulau Jawa, Madura, dan Sumatra secara de facto; dan konflik Indonesia-Belanda dianggap selesai.

Sisi negatifnya, wilayah kekuasaan Indonesia semakin kecil dan harus mengikuti persemakmuran Indo-Belanda, perjanjian yang ditentang oleh sejumlah masyarakat, Sutan Syahrir sebagai ketua dianggap memberi dukungan pada Belanda, serta Belanda jadi memiliki waktu mempersiapkan agresi militer.
Pengambilan dokumentasi Gedung Linggarjati oleh Om Irwan Sang Pakar Video
Kemudian, empat bulan setelah Perjanjian Linggarjati, pada 20 Juli 1947 Belanda berkhianat dengan menyatakan tidak terikat lagi pada Perjanjian Linggarjati.
Bahkan, tanggal 21 Juli 1947 Belanda menyerang Indonesia kembali yang dikenal dengan Agresi Militer Belanda 1
.
Museum Bersejarah Gedung Perundingan Linggarjati
Peristiwa perundingan yang berlangsung tiga hari itu ternyata merupakan satu mata rantai sejarah yang mampu mengangkat nama sebuah bangunan yang kokoh dan asri di desa terpencil itu menjadi terkenal di seluruh Nusantara, bahkan di pelbagai penjuru dunia. 
Gedung Linggarjati tampak dari sisi sebelah kanan, tangga menuju ke Taman dan Monumen Linggarjati

Tahun 1945 direbut oleh pejuang Indonesia untuk markas BKR dan diubah namanya menjadi Hotel Merdeka. 

Tahun 1946 di Hotel Merdeka berlangsung Perundingan Linggarjati. 
Tahun 1948 - 1950 dijadikan untuk markas tentara Kolonial Belanda. Terkait aksi dan agresi Militer Belanda.

Periode 1950 -1975 difungsikan menjadi Sekolah Dasar Negeri Linggajati 1, selanjutnya pada tahun 1975 Bung Hatta dan Ibu Sjahrir berkunjung dengan membawa pesan bahwa gedung ini akan dipugar oleh Pemerintah, tetapi usaha ini hanya sampai pembuatan bangunan sekolah untuk Sekolah Dasar Negeri Linggajati

Tahun 1976 gedung ini oleh diserahkan Kepada Departemen Pendidikan dan Kebudayaan untuk dijadikan Museum Memorial.

Tahun 1976, Bangunan itu kemudian dipugar oleh pemerintah  dan dijadikan sebagai bangunan cagar budaya dan sekaligus objek wisata sejarah.

Tahun 1977 – 1979 proses pemugaran bangunan yang sudah banyak rusak oleh pemerintah kemudian dijadikan sebagai muesum memorial yang layak untuk menyimpan benda bersejarah dan layak dikunjungi.

GEDUNG PERUNDINGAN LINGGARJATI
Jl. Gedung Perundingan Linggarjati
Desa Linggarjati, Kecamatan Cilimus, Kabupaten Kuningan

Jam Kunjungan
Senin-Jumat 07.00-15.00
Sabtu-Minggu 08.00-17.00

Kami melanjutkan dengan berfoto foto dengan latar belakang Gedung Pertemuan Linggarjati. 
Kunjungilah Museum Gedung Perundingan Linggarjati untuk mengenal Sejarah Indonesia
Terima kasih kepada Pak Tour guide yang sudah menjelaskan dengan segenap daya upaya dan mampu menjawab segala pertanyaan dari kami dengan jelas dan memuaskan. 
Terima kasih Pak Tour Guide yang sudah memandu dan menjelaskan Sejarah Gedung Linggarjati
Terima kasih sudah menjadi fotografer kami yang handal dan menunjukkan spot spot tempat berfoto yang membuat foto kami semakin bagus dan berkesan.
Hasil jepretan Pak Tour Guide yang keren. Gedung Linggarjati sisi kanan depan.
Bersyukur kami masih bisa menyaksikan bangunan bersejarah yang menjadi bagian dari proses  Kemerdekaan Indonesia.

Baca juga : Perjalanan Liburan ke Kuningan Jakarta - Cirebon

Sabtu, 15.40 Waktu Linggarjati
Demikian sekilas informasi kunjungan The Six Boys ke Gedung Perundingan Linggarjati atau Gedung Linggarjati dan selanjutnya kami  melanjutkan perjalanan ke Obyek Wisata Cibulan untuk melihat Ikan Dewa alias Ikan Kancra Bodas Labeobardus douronensis yang dikeramatkan.


Lanjutan cerita perjalanan, berenang bersama ikan Dewa Kancra Bodas

Baca juga : Pengalaman Berenang Bersama Ikan Dewa Kancra Bodas di Kolam Keramat Cibulan


























































Subscribe to receive free email updates:

2 Responses to "Pengalaman Berkunjung ke Gedung Perundingan Linggarjati, Jejak Sejarah Kemerdekaan Indonesia. "

  1. Wah, jalan2nya seru amat deh, Mas Eko :D Sambil motret2 nih aku jg kepengen bisa cekrek2 yg kece pakai DSLR. Kalau berkunjung ke gedung atau monumen bersejarah yg ada dioramanya aku tuh suka ngeri, seolah2 mereka bisa bergerak di malam hari hihihihi :) Sejarah perundingan Linggarjati benar2 melukiskan momen yang istimewa ya.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Terima kasih Mbak Nurul. iya, bersyukur bisa berwisata sambil memotret. Betul Bu, kalau berkunjung ke Museum atau Situs Sejarah terkadang terbawa dalam memory Sejarah dan seolah olah ada yang mengamati dan mengikuti. Tapi biasanya baik baik dan ikut mendengarkan cerita Sang Guide. Di Linggarjati di Kamar Utusan Penengah dari Inggris yang sepertinya ikut memperhatikan. he..he..

      Delete

Popular Posts