Jelajah Jejak Sejarah Indonesia di Jakarta, Gowes Bersama ABI Cycling Community

Jelajah Jejak Sejarah Indonesia di Jakarta, Gowes Bersama ABI Cycling Community

Pelabuhan Sunda Kelapa

Setelah sekian lama tidak bersepeda bersama karena Pandemi Covid 19, pada akhirnya kami dari The Six Boys dan Team ABI Cycling Community atas inisiatif Pak Komisaris mengadakan Nggowes bersama Menapak Jejak Sejarah Indonesia di Jakarta.

Dalam nggowes ini, akan mengunjungi beberapa bangunan bersejarah yang ada di Jakarta dan kali ini hanya titik tertentu yang akan dikunjungi karena keterbatasan waktu dan stamina. Kami akan menggowes menggunakan Seli alias sepeda lipat, bukan Seli tetangganya Bang Dul yang cantik.

Pak Komisaris bertindak selaku inisiator sekaligus Marshal yang akan mengarahkan kami dalam acara bersepeda kali ini.

Setelah diumumkan di anggota ABI (Araya Bumi Indonesia) Cycling Community, ternyata hanya kami bertiga yang bisa mengikuti acara Nggowes Menapak Jejak Sejarah Indonesia di Jakarta karena beberapa anggota berhalangan hadir dan masing masing memiliki kesibukan dan keperluan sendiri sendiri yang tidak bisa dipaksakan.

Jadilah kami bertiga yang semangat Ngoowes menyusuri Jejak Sejarah Indonesia di Jakarta.

Baca juga : ABI Cycling Community Bersepeda di Hutan Bike Park UI

Pak Komisaris Yusti, Ahli IT yang sangat pakar serta inisiator sekaligus marshal dalam nggowes kali ini. Memiliki pemahaman kota Batavia alias Kota Jakarta yang sudah di luar kepala dan pengendara sepeda yang tangguh dan berstamina prima. Beliau akan mengendarai sepeda lipat Fold X 16 inchi yang merupakan tunggangan para pesepeda yang sudah tidak diragukan lagi kehandalaannya. Spesifikasi Fold X yang merupakan keluaran tahun 2020 adalah Frame  Alloy, Fork Rigid, Shifter Thumbshifter L-TWOO, Rear Derailleur belakang 3 Speed L-TWOO, Pedal bisa dilepas pasang, Front Brake  V-Brake, Rear Brake  V-Brake, Handle Bar  Foldx Components, Stem  Foldx Components, Saddle Foldx Components, Tires (Ban) : 16 x 1.50, Spokes atau Jari-jari 16 inchi.

ABI Cycling Comuunity

Eko Buddy, saya sendiri, Agronomist penyuka tanaman dan pesepeda pemula yang baru bisa belajar naik sepeda dan sesekali nggowes sekitar perumahan. Sering hanya ikut ikutan bersepeda bersama tetangga yang suka bersepeda di JJ atau kadang ke trek Aquila. Baru ikut komunitas Gubraxxx dan Bukalam dan sering ketinggalan kalau bersepeda rombongan. saya menggunakan Dahon Vybe 7, dengan spesifikasi Frame Material Alloy, Fork : Hiten Steel, Shifter : Shimano Revoshift 7 speed, Handlepost  Alloy, Brake powerfull 110mm V-Brake Wheelset  20 Alumunium 28 Hole, Fold Dimension : 67x34x72 cm, berat 12.3 kg  dan maksimal berat pengendara 105 kg.

Bang Dul Parlindungan, seorang forestry yang juga seorang penulis buku handal dan sudah menerbitkan beraneka buku  dan salah satu bukunya yang best seller berjudul Senina. Dia akan menunggang  sepeda lipat United Roar, Sepeda lipat berukuran 20 Inch dengan Desain trendy, Frame alloy, handle bar alloy, serta shifter Shimano Revo 7 speed, Dilengkapi rims alloy dan sistem pengereman dengan double disc V-brake, Memberikan kenyamanan & keamanan yang optimal saat bersepeda pada kondisi jalan perkotaan yang mendatar 

Nah, setelah membandingkan kapasitas sepeda masing masing, ternyata yang paling berbeda adalaj sepeda Pak Komisaris. 16 inchi melawan 20 inchi. Shimano Revoshifter 7 speed melawan 3 Speed L-TWOO. semua siap menapak Jejak Sejarah Indonesia atau dengan kata lain mengunjungi spot spot wisata museum outdoor sekaligus berfoto dan mendokumentasikan moment jejak sejarah ini Jejak Sejarah Indonesia di Jakarta..

Sebelum berangkat kami berunding dulu kira kira spot mana saja yang akan dikunjungi. Pak Komisaris Yusti dengan keahlian pidato yang mampu memukau ribuan mata mulai membuka percakapan sekaligus menerangkan rute yang akan kami kunjungi.

Wisata Jejak Sejarah Indonesia di Kawasan Kota Tua 

Ok, teman teman, berikut rute yang akan kita lewati selama bersepeda,dari markas KS Tubun kita akan melintas Stasiun tanah Abang, Jati baru, kemudian lanjut ke Abdul Muis, Majapahit, Gajah Mada, berhenti di Jalan Pancoran dan berfoto sejenak sambil minum teh di Bangunan bersejarah  Pantjoran Tea House dan lihat peta di atas.

Pantjoran Tea House

Selanjutnya ke Museum Bank Indonesia karena Kawasan Kota Tua masih ditutup. 

Museum Bank Indonesia adalah sebuah museum di Jakarta, Indonesia yang terletak di Jl. Pintu Besar Utara No.3, Jakarta Barat (depan stasiun Beos Kota), dengan menempati area bekas gedung Bank Indonesia Kota yang merupakan cagar budaya peninggalan De Javasche Bank yang beraliran neo-klasikal, dipadu dengan pengaruh lokal, dan dibangun pertama kali pada tahun 1828.

Museum Bank Indonesia, Jejak Sejarah Indonesia

Kami berfoto tepat di gerbang Museum Bank Indonesia yang sudah dipadati pengunjung bersepeda dari berbagai daerah dan berbagai komunitas. Di sebelah kami berfoto, komunitas sepeda seli Pacific sangat kompak dan hampir semua menggunakan Seli Noris.

Baca juga : Pengalaman Bersepeda Keliling Kota Bogor Bersama ABI Cycling Community

Setelah mendokumentasikan diri di Museum Bank Indonesia, kami melanjutkan perjalanan nggowes ke Gedung yang terlihat heritage dan berdiri megah dan kokoh. Gedung Chartered of Bank of India, dan ini kali pertama saya berfoto di Gedung yang terletak di pojok empat jalan yaitu Jalan Malaka, Jalan Kali Besar Barat, Jalan Pintu Besar Utara dan Jalan Pintu Kecil.

Berdiri megah dan kokoh. Gedung Chartered of Bank of India,

Di seberang Gedung, tepatnya di tepi sungai Kali Krukut, pedestrian dibangun dengan sangat indah dan nyaman untuk para pengunjung.

Selanjutnya, setelah mendokumentasikan diri di Gedung Chartered Bank of India, kami melanjutkan perjalanan ke Toko Merah, salah satu bangunan yang bernilai sejarah.

Toko Merah, Viral menjadi Bangunan Sejarah yang Instagramable

Toko merah merupakan icon yang menarik, viral dan menjadi destinasi bagi para wisatawan yang berkunjung ke kawasan Kota Tua.

Toko Merah dibangun pada tahun 1730 oleh Gustaaf Willem baron van Imhoff  dan dibangun sedemikian rupa, sehingga besar, megah dan nyaman. Nama "Toko Merah" berdasarkan salah satu fungsinya yakni sebagai sebuah toko milik warga Tionghoa, Oey Liauw Kong.

Lalu siapa Baron van Imhoof? Dia gubernur jenderal VOC Hindia Belanda ke-27. Namun Imhoof bukanlah warga Belanda, melainkan berkebangsaan Jerman. Seperti banyak imigram Jerman lainnya di Batavia, sejak awal berdirinya VOC, ia berdinas dalam kongsi dagang di Asia Timur tersebut. Imhoof pun menjadi satu dari empat warga Jerman yang pernah mendapatkan jabatan tertinggi sebagai gubernur jenderal Hindia Belanda.

Toko Merah terletak di Jl. Kali Besar Barat no. 11. Kali Besar dipandang sebagai area kelas atas tempat tinggal milik kaum elit dan sosialita. Kali Besar telah berganti fungsi beberapa kali, begitu pula rumah-rumah di kedua sisi kali atau sungai tersebut. Toko Merah terdiri dari dua rumah. Namanya berasal dari warna cat merah pada kayu-kayu di dalam ruangannya. Warna merah memberikan kesan sentuhan ala Cina pada rumah tipikal Belanda ini, terlebih lagi karena warna furniturnya serupa. Sedangkan bata-bata berwarna merah di dinding depannya, merupakan tambahan oleh Bank voor Indie pada tahun 1923, dari bentukan aslinya yang berupa dinding plester berwarna putih.

Jangan lewatkan untuk teman teman berkunjung dan berfoto di tempat yang bersejarah dan merupakan jejak sejarah Indonesia ini.

Berfoto di depan Toko Merah

Dari Toko Merah, kami nelanjutkan perjalanan menyusuri Jalan Kali Besar Barat dan berbelok ke kanan dan mengambil sisi kiri untuk berbelok ke Jalan Kunir dan berbelok kembali ke jalan Kali Besar Timur dan menuyusuri jalan ini hingga ketemu dengan jalan Tiang Bendera.  DI ujung Jalan Kali Besar Timur ini lah kami berhenti dan sampai di Jembatan Kota Intan.

Jembatan Kota Intan yang dibangun Abad 12

Jembatan Kota Intan terletak di Kali Besar kawasan Kota Tua wilayah Jakarta Barat dan merupakan jembatan tertua di Indonesia yang dibangun pada tahun 1628 oleh pemerintah Vereenigde Oostindische Compagnie atau VOC.

Bangga bisa berfoto di Jembatan Kota Intan yang berusia 8 abad

Bayangkan dibangun tahun 1628, sudah sangat tua sekali,  dan kenapa disebut Jembatan Kota Intan sesuai dengan nama lokasi setempat, dimana pada masa awal pembangunannya terletak persis di ujung kubu bastion Diamond dari Kastil Batavia.

Baca juga : Pengalaman Bersepeda di Jalur Ikan Cere

Jembatan Kota Intan ini merupakan jembatan gantung, seperti kebanyakan jembatan-jembatan besar lain yang juga digantung di negeri asalnya VOC, yaitu Belanda. Konon infonya jembatan ini bisa dibuka tutup sekaligus sebagai lalu lintas kapal kapal untuk masuk ke hulu sungai Ciliwung dan sebagai pintu retribusi untuk lalu lintas kapal.

Jembatan Kota Intan yang dulunya bisa dibuka tutup untuk lalu lintas kapal masuk ke Batavia

Setelah menyaksikan keindahan dan kemegahan Jembatan kota Intan saat dibangun dulu, kami melanjutkan nggowes ke Pelabuhan Sunda Kelapa.

Jembatan Kota Intan, Jembatan Pertama di Indonesia

Dari Jembatan Kota Intan, kita bisa menyaksikan bangunan Hotel Mercure yang juga warisan Jejak Sejarah yang berdiri megah dan gagah.

Hotel Mercure tampak dari Jembatan Kota Intan

Menyusuri jalan Tiang Bendera hingga ke belok ke Jalan Cengkeh, kami terus melanjutkan nggowes hingga menyusuri jalan Tongkol hinga ketemu pertigaan jalan Pakin dan jalan Krapu, kami berbelok ke kanan menyusuri jalan Krapu hingga tembus ke jalan Lodan Raya.

Disini kami berbelok ke jalan Sunda Kelapa dan sampailah kami di Pelabuhan Sunda Kelapa. 

Kami memasuki area pelabuhan dan membayar tiket untuk orang dengan sepeda senilai 2.500 per dan sepeda 500. total 3.000 rupiah.

Tiket masuk Pelabuhan

Memasuki gerbang, kami menyusuri Jalan Sunda Kelapa dan berbelok ke jalan Phisini. Dari sini sudah tampak Pelabuhan Sunda Kelapa. Alhamdulillah saya masih bisa menyaksikan Jejak Sejarah Indonesia yang sudah bergeliat sejak Abad 12.

Dermaga Pelabuhan Sunda Kelapa

Pelabuhan Kalapa telah dikenal semenjak abad ke-12 dan kala itu merupakan pelabuhan terpenting Pajajaran dan saya baru kali ini memasuki Pelabuhan Sunda Kelapa.

Pengalaman Gowes di Pelabuhan Sunda Kelapa

Pelabuhan yang pada masa masuknya Islam dan para penjajah Eropa, Kalapa diperebutkan antara kerajaan-kerajaan Nusantara dan Eropa dan akhirnya Belanda berhasil menguasainya cukup lama sampai sekitar 348 tahun. 

ABI Cycling bersepeda di Pelabuhan Sunda Kelapa

Beberapa nama asing pernah menghiasi dan singgah di Pelabuhan Sunda Kelapa.

Penulis Portugis Tomé Pires, Kalapa adalah pelabuhan terbesar di Jawa Barat, selain Sunda (Banten), Pontang, Cigede, Tamgara dan Cimanuk yang juga dimiliki Pajajaran

Pada tahun 1522 Gubernur Alfonso d'Albuquerque yang berkedudukan di Malaka mengutus Henrique Leme untuk menghadiri undangan raja Sunda untuk membangun benteng keamanan di Sunda Kalapa.

Pada akhir abad ke-16, bangsa Belanda menugaskan Cornelis de Houtman untuk berlayar ke daerah yang sekarang disebut Indonesia. Eskspedisinya mendarat di Pelabuhan Sunda Kelapa dan dianggap berhasil dan Vereenigde Oostindische Compagnie (VOC) didirikan

Pada tanggal 30 Mei 1619, Jayakarta direbut Belanda di bawah pimpinan Jan Pieterszoon Coen yang sekaligus memusnahkannya tetapi Sunda Kelapa tidak ikut dimusnahkan. Di atas puing-puing Jayakarta didirikan sebuah kota baru. J.P. Coen pada awalnya ingin menamai kota ini Nieuw Hoorn atau Hoorn Baru, sesuai kota asalnya Hoorn di Belanda, tetapi akhirnya dipilih nama Batavia. Nama ini adalah nama sebuah suku Keltik yang pernah tinggal di wilayah negeri Belanda dewasa ini pada zaman Romawi.

Para penakluk ini mengganti nama pelabuhan Kalapa dan daerah sekitarnya. Namun pada awal tahun 1970-an, nama kuno Kalapa kembali digunakan sebagai nama resmi pelabuhan tua ini dalam bentuk Sunda Kelapa.

Meskipun terlambat, palimg tidak saya sudah menginjakkan roda sepeda seli dan kaki saya di Pelabuhan Sunda Kelapa.

Dengan retribusi masuk 2.500 rupiah untuk sepeda, kami sudah bisa mengeksplore Pelabuhan Sunda Kelapa. Sambil nggowes, saya membayangkan jaman dulu, iya jaman dulu lebih kurang 8 abad yang lalu atau 800 tahun yang lalu, pelabuhan ini sudah dilalui kapal kapal dari seantero nusantara, bahkan dunia.

Perhatikan para goweser yang menikmati pelabuhan Sunda Kelapa

Lah saya malah naik sepeda ke sini dan tidak naik kapal. 

Setelah membayar retribusi, kami berbarengan dengan puluhan wisatawan dengan meggunakan sepeda yang bergantian berfoto diantara hiruk pikuk bongkar muat di Pelabuhan Sunda Kelapa.

Puluhan Kapal, dan saya coba menghitung dari pintu gerbang hingga ujung pelabuhan, ada sekitar 49 Kapal Kayu yang bersandar, 24 Truk yang sedang siap bongkar muat dan sekitar 

Saat berkunjung ke Pelabuhan Sunda Kelapa masih banyak bongkar muat  barang kelontong adalah sembako serta tekstil dan bahan bahan bangunan juga ada aktifitas nongkar muat seperti semen, besi beton dan lain-lain. 

Sekitar ada 4 atau 5 crane yang siap membantu proses bongkar muat.

Kami bertemu dengan beberapa anak anak yang menawarkan diri untuk melompat dari atas kapal. Anak anak pelabuhan yang berani dan bermental baja untuk membantu orang tua mencari nafkah. 

Kehidupan Anak Anak Pemberani di Pelabuhan Sunda Kelapa

Mereka naik ke atas pinggiran kapal kayu yang tingginya sekitar 25 meter, dan berbaris untuk terjun bergantian.

Salah satu gaya terjun anak anak Pemberani Pelabuhan Sunda Kelapa

Saya lihatnya saja sudah merinding dan membayangkan jika tubuh saya membentur air di pelabuhan Sunda Kelapa yang tempat bersandar dan bongkar muat kapal kalap kayu ke laut Jawa.

Tanpa Takut anak anak Pelabuhan Sunda Kelapa terjun bebas tanpa pengaman

Ngeri.  Satu kesan untuk aktifitas anak anak Pelabuhan Sunda Kelapa ini. Bravo untuk peloncat indah alam yang mungkin bisa mengalahkan juara Dunia terjun bebas jika dilatih menjadi atlet.

Mereka mengalahkan para pelompat indah yang mungkin tidak setinggi lompatan mereka. 

Mereka melompat sambil tertawa tawa dan tidak menghiraukan potensi bahaya yang tim bul.

Sampai di bawah, mereka masih bercanda sambil bermain air. 

Potret Anak anak Pelabuhan Sunda Kelapa yang selalu ceria dan pemberani

Pak Komisaris Yusti memberikan 20.000 rupiah untuk aksi para anak anak ini, ya cukup 20.000 untuk pertunjukan yang mendebarkan dan penuh keberanian.

Setelah puas berkeliling di Pelabuhan Sunda Kelapa, kami melanjutkan perjalanan ke arah lapangan banteng.

Kami melintas kembali melewati jalan Tongkol, menyusri jalan cengkeh, berbelok ke jalan ke kiri ke jalan Kunir dan berbelok ke kanan ke jalan Kemukus, Jalan Ketumbar hingga jalan Lada dan berhenti di Stasiun Jakarta Kota.

Kembali kami menyusuri Kota tua dan melintas di depan Stasiun Jakarta Kota. Stasiun Jakarta Kota JAKK adalah stasiun kereta api kelas besar tipe A yang terletak di Kelurahan Pinangsia, kawasan Kota Tua, Jakarta. Stasiun yang terletak pada ketinggian +4 meter ini merupakan stasiun terbesar yang berada dalam pengelolaan PT Kereta Api Indonesia (Persero) Daerah Operasi I Jakarta.

Stasiun ini dikenal pula dengan sebutan Stasiun Beos atau Stasiun Kota, walaupun nama asli stasiun ini adalah Stasiun Batavia-benedenstad.

Cagar Budaya Stasiun Jakarta Kota
Nama Beos mengacu pada nama stasiun Batavia BOS Bataviasche Oosterspoorweg Maatschapij atau Maskapai Angkutan Kereta Api Batavia Timur.

Versi lain, Beos berasal dari kata Batavia En Omstreken, yang artinya Batavia dan Sekitarnya, yang berasal dari fungsi stasiun sebagai pusat transportasi kereta api yang menghubungkan Kota Batavia dengan kota lain seperti Bekassie alias Bekasi, Buitenzorg alias Bogor, Parijs van Java alias Bandung dan Karavam alias Karawang.

Suasana di Jalur Kereta, tampaka Kereta Api Diesel KRD dan Kereta Rangkain Listrik KRL

Stasiun Jakarta Kota sudah ditetapkan sebagai cagar budaya yaitu daerah yang kelestarian hidup masyarakat dan peri kehidupannya dilindungi oleh undang-undang dari bahaya kepunahan.Menurut UU no. 11 tahun 2010, cagar budaya adalah warisan budaya bersifat kebendaan berupa Benda Cagar Budaya, Bangunan Cagar Budaya, Struktur Cagar Budaya, Situs Cagar Budaya, dan Kawasan Cagar Budaya di darat dan atau di air yang perlu dilestarikan keberadaannya karena memiliki nilai penting bagi sejarah, ilmu pengetahuan, pendidikan, agama, dan atau kebudayaan melalui proses penetapan

Stasiun Jakarta Kota yang dibka pertama kali pad 8 Oktober 1929 sampai saat ini masih tetap beroperasi dan digunakan sebagai stasiun aktif. Bayangkan, 91 tahun lamanya, hampir 1 abad dan bangunannya masih megah,


Berpose di depan Stasiun Jakarta Kota alias BEOS

Stasiun Jakarta Kota, jejak Sejarah Indonesia yang masih .berfunsi dan beroperasi hingga saat ini.

Setelah berfoto sejenak di depan Stasiun Jakarta Kota, kami melanjutkan perjalanan ke arah jalan Hayam  wuruk, menuju Masjid Istiqlal.

Sampai di ujung jalan Juanda, kami beristirahat sejenak di Gedung Asuransi Jiwas Raya.


Selesai istirahat, kami  melanjutkan perjalanan dan menyempatrkan diri mampir ke Gedung FIlateli yang merupakan bagian dari Gedung Kantor Pos Indonesia.

Bangunan kantor pos yang telah ada sebelumnya. Dirancang tahun 1913 an oleh arsitek J. Van Hoytema dari BOW..

Pada awal kemerdekaan, gedung ini digunakan untuk pelayanan pos, telpon dan telegraph. Pada tahun 1995 dibangun perkantoran baru yang disebut Gedung Pos Ibukota (GPI). Gedung Kantor Pos Lama Pasar Baru kemudian  diperuntukkan sebagai kantor pelayanan filateli dan kantor cabang Persatuan Filateli Indonesia di Jakarta.

Setelah layanan pos dipindahkan ke gedung baru, maka Gedung Kantor Pos ini kemudian dikenal sebagai Gedung (Kantor) Filateli Jakarta yang melayani penjualan dan pemesanan benda filateli serta penjualan benda benda koleksi, serta aktivitas lelang


Gedung Filateli Jakarta

Gedung FIlateli berada di Kompleks Perkantoran Kantor Pos Indonesia.

Dari Gedung Filateli, kami melanjutkan perjalanan ke Masjid Istiqlal.


Majid Istiqlal Jakarta

Kami menyempatkan berfoto dengan latar belakang Masjid Istiqlal.

Masjid Istiqlal merupakan masjid negara Indonesia, yaitu masjid yang mewakili umat muslim Indonesia. Karena menyandang status terhormat ini maka masjid ini harus dapat menjadi kebanggaan bangsa Indonesia sekaligus menggambarkan semangat perjuangan dalam meraih kemerdekaan. Masjid ini dibangun di bekas Taman Wilhelmina dan ungkapan dan wujud dari rasa syukur bangsa Indonesia yang mayoritas beragama Islam, atas berkat dan rahmat Allah SWT yang telah menganugerahkan nikmat kemerdekaan, terbebas dari cengkraman penjajah. Karena itulah masjid ini dinamakan "Istiqlal" yang dalam bahasa Arab berarti "Merdeka"

Pembangunan masjid ini diprakarsai oleh Presiden Republik Indonesia saat itu, Ir. Soekarno. Peletakan batu pertama sebagai tanda dimulainya pembangunan Masjid Istiqlal dilakukan oleh Ir. Soekarno pada tanggal 24 Agustus 1951. Arsitek Masjid Istiqlal adalah Frederich Silaban, seorang Kristen Protestan

Gereja Katedral Jakarta

Selanjutnya kami berfoto dengan background Katedral Jakarta yang dibangun pada pertengahan tahun 1891 mulai dilakukan peletakan batu pertama untuk memulai pembangunan gereja De Kerk van Onze Lieve Vrowe ten Hemelopneming - Gereja Santa Maria Diangkat Ke Surga.

tanggal 21 April 1901.diresmikan dan diberkati oleh Mgr. Edmundus Sybradus Luypen, SJ, seorang Vikaris Apostolik Jakarta 

Arsitektur gereja dibuat dengan gaya neo gothik. Denah dengan bangunan berbentuk salib dengan panjang 60 meter dan lebar 20 meter. Pada kedua belah terdapat balkon selebar 5 meter dengan ketinggian 7 meter. Konstruksi bangunan ini dikerjakan oleh seorang tukang batu dari Kwongfu, China. konstruksi bangunan ini terdiri dari batu bata tebal yang diberi plester dan berpola seperti susunan batu alam. Dinding batu bata ini menunjang kuda-kuda kayu jati yang terbentang selebar bangunan.

Ada 3 menara di Gereja Katedral, yaitu: Menara Benteng Daud, Menara Gading dan Menara Angelus Dei. Menara ini dibuat dari besi. Bagian bawah didatangkan dari Nederland dan bagian atas dibuat di bengkel Willhelmina, Batavia.


Perut kami sudah lapar dan sepakat sarapan Bubur ayam di Masjid Cut Meutia. Sampai di sana sekitar pukul 9.32 dan meja dan kursi sudah dilipat, artinya bubur ayam sudah habis.


Pak Komisaris bergerak cepat, dan rencana berubah makan di Bubur Ayam Cikini. Memang, jiwa kuliner Pak Komisaris memang luar biasa.

Inilah akhir dari ngowes kami hari ini  dan kamipun gowes kembali ke rumah masing masing.  Total putaran nggowes kami mengelilingi Jejak Sejarah Indonesia memang tidak terlalu jauh, sekitar 31.98 km.

Terima kasih untuk Pak Marshal Komisaris Yusti atas arahannya sehingga ABI Cycling Community bisa berkeliling menapak jejak sejarah Indonesia.

Orang boleh pandai setinggi langit, tapi selama ia tidak menulis, ia akan hilang di dalam masyarakat dan dari sejarah. Menulis adalah bekerja untuk keabadian.

Pramoedya Ananta Toer



 

 


 



 



 





Subscribe to receive free email updates:

2 Responses to "Jelajah Jejak Sejarah Indonesia di Jakarta, Gowes Bersama ABI Cycling Community"

Popular Posts