Jalur Ikan Cere dan Kuliner Rumah Makan Ikan Cere Ibu Tini, Sensasi Bersepeda ABI Cycling Community

Menikmati Kuliner Rumah Makan Ikan Cere Ibu Tini dan Jalur Ikan Cere ABI Cycling Community

Acara nggowes ABI Cycling Community kali ini dengan tuan rumah dari Puspita loka yaitu Pak Rizal yang akan mengajak untuk menyusuri Jalur Ikan Cere.

Nggowes ABI Jalur Ikan Cere

Apa itu jalur ikan Cere?
Jalur ikan cere adalah jalur sepeda yang seringkali dilewati oleh Komunitas nggowes dan rute akan berakhir dengan Kuliner di Rumah Makan Ikan Cere  tepatnya di RM Cere Ibu Tini
Kranggan, Setu, Kranggan, Setu, Kota Tangerang Selatan, Banten.

Titik kumpul di kediaman Pak Bos Rizal di daerah Bumi Serpong Damai, tepatnya di Puspita Loka.

Saya sampai di rumah Pak Rizal pukul 06.00 WIB disusul Pak Komisaris Yusti dan Bang Dul Aziz Parlindungan, Pak Komandan Mesiran dan berikutnya Om Irwan.

Setelah unloading sepeda dan menyetel sepeda, kamipun bersiap berangkat ke titik kumpul dengan Pak Wawie.
Rute Bersepeda menuju Rumah Makan Ikan Cere Ibu Tini 
Dari Rumah Pak Rizal kami melintas ke Jalan Grand BSD Boulevard, JL. Anggrek Ungu kemudian melintas Jalan Griya Loka Raya.

Semangat bersepeda teman teman ABI Cycling Community
sampai disini kami tertinggal rombongan karena saya harus menemani Bang Dul yang sepedanya sedikit tidak bisa mengejar kecepatan rombongan Pak Messi dan kawan kawan.

Saya dan Bang Dul sempat berputar balik dan melanjutkan menyusuri Jalan Angsana Rayana Raya. Kami sempat tidak yakin bisa bertemu dengan rombongan. Kami memasuki jalan Angsana dan berputar putar didalam kompleks untuk mencari jejak rombongan depan.

Akhirnya kami pun sempat menelepon dan tersambung, diberi petunjuk untuk melanjutkan nggowes menyusuri jalan Angsana Rayana Raya.
Titik Pertemuan awal di RUKO

Akhirnya kami pun bertemu rombongan dan berlanjut bergabung dengan rombongan Pak Wawie di depan ruko.

Setelah berfoto sejenak mengabadikan moment berkumpul sebelum melanjutkan perjalanan. Beginilah tradisi ABI Cycling Community, tidak ketinggalan foto.

Kami melanjutkan perjalanan menuju jalan Arya Surya Kencana.sekitar 1 km dan berbelok kanan ke jalan Kencana Raya.

Melintas di jalan Kencana Raya sekitar 800 meter, berbelok kiri ke jalan Pahlawan Seribu yang merupakan jalur ramai dengan kendaraan besar.  Setelah bersepeda sekitar 1202 meter, kami berbelok ke kanan memasuki jalan Tekno WIdya.

Jalan di Tekno Wdya cukup asri dan cocok untuk bersepeda karena berdampingan dengan Taman Tekno BSD.

Melintas sekitar 2.154 meter kami berbelok ke kiri memasuki jalan Raya Serpong yang cukup ramai. Jalanan sangat lebar, sekitar 16 meter. 

Kami masih bersendau gurau dan ketawa tawa selama nggowes hingga titik ini karena jalanan masih datar dan mulus.  Untuk sepeda yang tidak fulsus masih menikmati.

Sekitar 1805 meter, kami berbelok ke kanan memasuki jalan Balai Desa Lama. Jalanan menyempit dan berbelok tetapi dengan kepiawaian dan keahlian bersepeda, anggota ABI Bike Community masih mampu melintas jalanan ini dengan santai.

Setelah bersepeda melintas jalan Balai Desa Lama, kami pun tembus ke jalan Hutama Karya dan bergabung di jalan Al Ikhlas Raya. di titik ini, total kami bersepeda sudah menempuh jarak 11.39 km.
Di jalan menuju Rumah Makan Ikan Cere
Beristirahat sejenak, kami meneruskan perjalanan ke Jalan Lingkar Selatan.  Di jalan ini, kita harus hati hati, banyak berlalu lalang truk pasir dan kendaraan roda empat dengan kecepatan tinggi.

Melanjutkan bersepeda sekitar 3 km, kami memasuki Desa Muncul dan tetap di jalur Jalan Lingkar Selatan yang merupakan jalan utama menuju jalan Baru Suradita.

Baca Juga : Bersepeda Berkeliling Kota Bogor Bersama ABI Cycling Community


Istirahat minum
Sebelum pertigaan atau tepatnya sebelum jembatan yang melintas Sungai Cisadane kami berbelok kanan. Jalanan menanjak sedikit jingga bertemu belokan turunan dekat pertambangan pasir. Dari ketinggian kami melihat ada kendaraan banyak diparkir dan kami menuju ke titik tersebut, sekitar  543 m, sampailah kami di Rumah Makan Ikan Cere Ibu Tini.

Total perjalanan Start dari Puspita Loka hingga Rumah Makan Ikan Cere, sekitar 13.49 km dengan perbedaan elevasiyang dilalui dari 46 m dpl hingga 73 m dpl. atau ada gap sekitar 27 m. Masih dalam batas toleransi.

Kalau dirangkum maka rute perjalanan dari Puspita Loka hingga Rumah makan Ikan Cere adalah :
Puspita loka - Jl. BSD Grand Boulevard, Jl. ANggrek, Jl. Griya Loka Raya, Jl. Arya Surya Kencana, Jl. Kencana Raya, Jl. Kencana Raya, Jl. Pahlawan Seribu, Jl. Tekno Widya, Jl. Raya Serpong, Jl. Balai Desa Lama, Jl. Hutama Karya, Jl. AL Ikhlas, Jl. Lingkar Selatan, Jl. Pertambangan Pasir, Warung Ikan Cere.
Rumah Makan Ikan Cere Ibu Tini
Sesampai di Rumah Makan Ikan Cere Ibu Tini, kami pun memarkir sepeda di tempat yang telah disediakan.  Beruntung kami datang saat masih pagi, sehingga masih bisa memilih tempat atau saung dengan jumlah tempat duduk yang cukup.
Tenmpat yang nyaman dan bersih
Sambil memilih menu, kami berfoto dan mendokumentasikan suasana di Rumah Makan Ikan Cere Ibu Tini.

Mulai dari dapur yang masih tradisional hingga cara masak yang masih menggunakan kayu bakar. Pokoknya keren dan dijamin makyuss.








Saya sempat mendokumentasikan suasana dapur dengan dipandu oleh Pak Rizal yang sudah 19 kali bersepada jalur Ikan Cere dan berkuliner di Rumah makan ikan Cere Ibu Tini. Luar biasa.
Suasana Dapur Rumah Makan Ikan Cere Ibu Tini


sambil menunggu makanan terhidang, Pak Komisaris Yusti dan Om Irwan mencoba trek Jalur Ikan Cere yang memang sering dilintasi oleh pesepeda.

Memang Pak Komisaris Yusti seorang pesepeda handal dan tidak mengenal capek. baru saja istirahat sudah melanjutkan mencoba trek yang walaupun penuh rintangan dianggap jalan rata dan tanpa halangan. Kemampuan di atas rata rata.


Pak Komisaris Yusti in action di Jalur Ikan Cere

Om Irwan, Sang Pemuda yang tak kenal lelah dan Jago di segala trek

Tidak menunggu lama, makanan pun diantar berurutan, mulai dari Nasi, sayuran, lauk pauk yang pastinya ada ikan cere serta ikan sungai goreng lainnya, ikan mas, aneka sayuran dan yang tidak ketinggalan adalah pete rebus. Makyusss.


Menu tahap pertama, tampak Ikan Cere yang sudah besar

Menu Utama, Ikan Cere dan Ikan Sungai

Menu idaman, Pete rebus

Pak Bos, selamat makan di Rumah Makan Ikan Cere Ibu Tini

Makan pun dikawal oleh Pak Komandan Mesiran

sekitar 31 menit 36 detik kami menghabiskan keseluruhan makanan yang dihidangkan.  Memang pas, perut lapar, makanan enak dan kuliner andalan setempat.

Ikan Cere, Ikan Mas, Ikan Mujair dan ikan sungai lainnya, Lalapan, Ikan Ayam, Sayur asem, tahu goreng, tempe goreng, Pepes Ikan Mas, pete rebus dan sambel yang menggoda semuanya berpindah ke perut kami dan membuat kami semakin buncit.


Makanan Porsi Pak Mesiran, cukup sendirian saja, langsung tandas tak berbekas.

Baca Juga : Jogging Bersama ABI Run Community dan Djarum Runners Jakarta
Tahukan anda apa itu ikan Cere?

Ikan Cere atau  ikan cetul atau ikan gratul atau suwadakar Poecilia reticulata, adalah salah satu spesies ikan yang paling populer karena mudahnya menyesuaikan diri dan beranak-pinak, di banyak tempat di Indonesia, 

Ikan Cetul, Gratul atau ikan cere ini telah menjadi ikan yang memenuhi parit-parit dan selokan hampir di seluruh perumahan, sawah, sungai maupun situ atau danau di berbagai tempat.

Ikan Cere ternyata tidal bertelur tetapi ikan ini mengandung dan melahirkan anak anaknya atau disebut livebearers. 

Setelah ikan betina dibuahi, daerah berwarna gelap di sekitar anus yang dikenal sebagai bercak kehamilan atau gravid spot. Menjelang saat-saat kelahirannya, bintik-bintik mata anak-anak ikan dapat terlihat dari kulit perut induknya yang tipis dan menerawang. 

Seekor induk ikan cere dapat melahirkan burayak atau anak ikan antara 2–100 ekor pada setiap kelahiran, tetapi kebanyakan antara 5–30 ekor saja. 

Beberapa jam setelah persalinan, induk ikan cere telah siap untuk dibuahi lagi.

Masa kehamilan ikan cere berkisar antara 21–30 hari, rata-rata 28 hari tergantung pada suhu airnya. Suhu udara yang paling cocok untuk berbiak adalah sekitar 27 ° C.

Nah, jadi tahu khan kenapa ikan ini banyak dikonsumsi dan tidak ada habisnya.  .

Saat kecil pun, saya suka menyerok atau menjaring ikan ikan cere dengan serokan alat masak Ibu di sungai sungai dekat rumah.  Jaman dahulu, saya menyebutnya ikan cetul sering dimasukkan ke dalam plastik dan ditenteng kemana mana saat bermain.
Satu porsi ikan Cere
Ciri utama ikan Cetul yang membedakannya dengan ikan wader alias Puntius binotatus yang lebih berharga adalah bentuk kepala dan badan.  Bentuk kepala ikan Cetul lebih membulat, kecil dan lancip serta bertubuh gilig dengan perut lebih besar sedangkan Ikan wader, bentuknya lebih slim dan lebih panjang.

Dari segi rasa, sebenarnya ikan wader lebih gurih dan enak dibandingkan ikan Cetul atau cere. Mungkin teman teman yang pernah mengalami masa kecil seperti saya, sering bermain di sawah dan sungai irigasi maupun sungai besar, paham dengan cerita ini.

Saya lihat di hidangan yang disajikan di Rumah Makan Ikan cere, ikannya sudah bercampur antara Ikan cere, Ikan wader dan ikan Mas Cyprinus carpio kecil serta ikan Mujahir Oreochromis mossabiqus atau Tilapia mozambique yang masih kecil.

Kembali ke ABI Cycling Community.
Setelah makan dan kenyang, kami pun bersiap untuk melanjutkan perjalanan pulang menuju Pusita Loka alias tempat kami unloading.


Puas demgan menu Makanan di Rumah Makan Ikan Cere Ibu Tini

Perjalanan Pulang .
Kami pun bersiap dengan sepeda masing masing. Perjalanan pulang adalah perjalanan berat, karena perut kekenyangan menjadi kendala. Kalau sekedar kenyang sih tidak apa apa, tetapi ini karena perut kekenyangan ha..ha..ha...

Kami sengaja memilih jalur pulang yang berbeda dengan jalur keberangkatan. Keluar dari pintu masuk Kuliner Rumah Makan Ikan Cere Ibu Tini, kami berbelok ke kanan dan melewati Jembatan Kranggan yang melintang di atas sungai Cisadane.

Pemberhentian pertama di gerbang perumahan Serpong Garden dan kami mengambil dokumentasi di titik ini.


Berfoto bersama di Gerbang Serpong Garden sambil beristirahat



Setelah perumahan ini, sedikit ada tanjakan yang untuk goweser ABI Cycling community malah menajdi bahan candaan. Tanjakan yang tidak berarti.

Tanjakan tanpa rintangan
Kami terus menyusuri jalan Raya Serpong dan berhenti di titik pemberhentian berikutnya adalah Tugu Peringatan Perjuangan Rakyat Serpong. di titik ini, Pak Mesiran dan Bang Dul sudah pulang terlebih dahulu karena ada keperluan.  Pak Mesiran akan berdinas ke Belanda untuk pengawalan tamu negara dengan penerbangan sore, Jakarta - Schiphol Belanda dan Bang Dul akan berdinas ke Balikpapan Kalimantan Timur Jakarta  - Sepinggan.

Inilah hebatnya anggota ABI Cycling Community, meskipun sibuk tetap menyediakan waktu untuk berolah raga dengan komunitas. Luar biasa. 



Dari Monumen Tugu Peringatan Perjuangan Rakyat Serpong kami melanjutkan perjalana memasuki kawasan BSD.

Di Kawasan ini kami berpisah dengan Pak Wawie yang melanjutkan perjalanan pulang dan kami menlanjutkan perjalanan menuju Puspita Loka.

Dalam perjalanan ini, kami masih sempat bercanda dan berhenti dibeberapa titik pemberhentian. Salah satunya adalah Menikmati kelapa muda.


Menikmati Kelapa Muda yang melegakan dahaga

Saling berbaik hati meskipun kecapekan.

Setelah menikmati nikmatnya kelapa muda, kami pun melanjutkan perjalanan hingga Puspita loka.

Alhamdulillah, kami akhirnya bisa bersepeda dengan total 29,32 km dengan kalori 1133,4. Lumayan untuk berolah raga dan mengganti cairan tubuh dengan cairan baru.

Terima kasih kepada Pak Rizal, yang sudah menjadi Marshal pada Nggowes kali ini serta hidangan yang sudah disediakan (Sayang dokumentasi hidangan tidak bisa ditampilkan) baik pada saat keberangkatan atau pada saat selesai nggowes.

Salam Nggowes ABI.










Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "Jalur Ikan Cere dan Kuliner Rumah Makan Ikan Cere Ibu Tini, Sensasi Bersepeda ABI Cycling Community "

Post a comment

Popular Posts