Antara Sarapan dan Peradaban Kota Bandung

Seri Kuliner

Sarapan Turut Menjaga Peradaban Bandung
Sarapan Turut Menjaga Peradaban Bandung
Aktivitas warga Bandung kembali dibatasi untuk mencegah penularan virus korona baru. Namun, kebijakan itu tak membuat pemburu sarapan di ”Kota Kembang” kehilangan kenikmatan secangkir kopi dan sepotong roti di pagi hari.


Sarapan terus membangun peradaban di Kota Bandung. Kini, daya tahannya masih terus diuji pandemi.

Dingin masih memeluk Bandung, Kamis (24/6/2021), meski jarum jam hampir beranjak menuju pukul 09.00. Hujan semalam masih menyisakan genangan air di Jalan Alkateri, tidak jauh dari kawasan Braga, memperlihatkan secuil bayangan tua di Kota Kembang.

Warung Kopi Purnama, salah satu lokasi favorit warga Bandung menikmati sarapan roti dan Kopi.  Bandung, EBU 14/06/2021 


Akan tetapi, kehangatan di Warung Kopi Purnama sudah hidup sejak tadi. Satu per satu ojek daring datang dan pergi mengantarkan rindu pelanggan pada tempat ngopi yang didirikan Yong A Thong tahun 1930 itu.

Sunardi (45), seorang pengemudi ojek daring, mengatakan, pesanan di Warung Purnama tidak pernah sepi. Setiap pagi selama sepekan terakhir, ia selalu mendapat permintaan menu serupa.

”Minggu ini, saya sudah dua kali ke sini. Pesanannya sama, kopi susu dan roti srikaya,” ujarnya. Kali ini, pemesannya dari Batununggal, sekitar 30 menit perjalanan dari Alkateri.

Sepintas, jejak legenda tidak terlalu ketara di sana. Letak tempat yang dulu bernama Chang Chong Se (silakan mencoba) ini terselip di antara deretan toko tirai dan karpet. Namun, rayuan kopi susu dan roti srikayanya selalu berhasil memikat pelanggan menyantapnya sebelum memulai hari.

Anak muda dengan selera Sarapan ala Kota Bandung, tempo doeloe dan saat ini yang mengenari sajian roti gaya old dan secangkir Yogurt di Warung Kopi Purnama, Bandung.  EBU 14/06/2021
Kekhasan rasa kopinya tercipta dari campuran kopi robusta dan arabika. Sementara selai srikaya dibuat sendiri dengan resep yang dijaga turun-temurun. Bangunannya tidak banyak berubah dari aslinya.

Bentuk kursi dan meja kayu tetap dipertahankan pengelola, cicit A Thong, dengan hati. Bisa jadi kesetiaan itu juga yang membuat Kedai Purnama bertahan lama menjadi saksi geliat Bandung.

Menu dan sajian roti menjadi ciri khas Warung Kopi Purnama, meskipun masih banyak menu menu lain yang juga enak. EBU 14/06/2021
Kedai Kopi Purnama berdiri di tahun yang tepat. Bandung tengah dalam masa keemasan. Kesuksesan banyak warga Eropa membuat kota lebih hidup penuh warna. Setelah jatuh bangun membuka lahan hingga menata bisnis di tanah jajahan, mereka mulai menikmati hasilnya.

Warung Kopi Purnama, saksi perkembangan gaya Kuliner di Kota Bandung. EBU 14/06/2021 
Kisah manis ditulis pengusaha perkebunan (preangerplanters) teh di dataran tinggi di sekitar Bandung. Kondisi geografis Priangan yang subur turut mendukung pertumbuhan teh terbaik.

Tahun 1936, tercatat dari 293 perkebunan teh di Indonesia, 247 unit di antaranya ada di Jabar. Hingga kini, Jabar masih menjadi daerah dengan luas kebun teh terbesar di Indonesia.

Saat itu, muncul istilah ’van reup tot bray’, menggambarkan kemeriahan mulai matahari tenggelam hingga fajar muncul.

Akan tetapi, bukan perkara mudah bagi preangerplanters untuk menuliskan kejayaan. Kejenuhan rentan terjadi saat tinggal di pegunungan terpencil.

Hingga akhirnya Braga muncul di akhir abad ke-19. Dalam Braga, Jantung Parijs Van Java disebutkan, kawasan di pusat Kota Bandung itu menjadi pusat kerinduan orang Eropa kepada tanah airnya.

Ingar bingar Societet Concordia hingga pesta di hotel mewah kian semarak periode 1920-1930. Saat itu, muncul istilah van reup tot bray, menggambarkan kemeriahan mulai matahari tenggelam hingga fajar muncul.

Akan tetapi, rindu tidak selalu dirayakan dengan pesta. Banyak dari mereka merasakannya dengan ketenangan saat sarapan (ontbijt) di restoran di Braga dan sekitarnya.

Sudarsono Katam dalam Produsen Ontbijt Walanda Bandoeng menyebutkan, beragam jenis roti ditemani susu, teh, atau kopi ampuh mengobati kangen. Mulai dari roti kering, roti manis, roti mentega, roti bagguete. Ada juga penganan tompoesjes, ontjbitkoek, booterstaf, hingga bitterballen. Semua mudah tersedia karena tidak sulit mendapatkan bahan bakunya di Bandung.
Peternakan Sapi di Lembang, pemasok susu untuk kebutuhan susu di Bandung. EBU Februari 2021 
Susu, misalnya, dipasok dari dataran tinggi utara dan selatan dari dulu hingga kini. Lembang di utara diwakili peternakan sapi yang dirintis Ursone bersaudara asal Italia sejak tahun 1895. Keluarga Ursone memulainya dengan 30 sapi yang menghasilkan 100 botol susu per hari.

Di Selatan, ada Pangalengan. Di sana, Friesche Terp NV menjadi pionir peternakan dengan populasi besar sapi Friesian Holstein sekitar 1930-an. Daerah itu sempat dijuluki ”Friesland in Indie” karena jumlah sapi yang melimpah.

Bandoengsche Melk Centrale (BMC) juga kesohor di Hindia Belanda sejak didirikan tahun 1928. Menggunakan teknologi pasteurisasi, BMC menjamin susu minim bakteri sehingga tahan lebih lama. Mengutip Bandung Baheula Jeung Kiwari, Bandoengsche Melk Centrale atau susu BMC menjadi menu utama kereta api eksklusif ekspres The Vluge Vier, Cirebon-Batavia. BMC masih eksis sampai sekarang.

Gandum sebagai bahan pembuatan roti juga pernah tercatat ada di Pangalengan tahun 1923. Lahannya mencapai 100 hektar. Minim data, kontribusinya diperkirakan ikut memasok bahan baku bagi pembuat roti. Tahun 1950, tercatat 30 tempat besar pembuatan roti di Bandung.

Salah satu yang masih bertahan adalah Sumber Hidangan di Jalan Braga. Didirikan tahun 1929, pabrik roti milik Ong An Pang ini awalnya bernama Het Snoephuis (Rumah Manis).

Tempat itu dikenal jadi tempat kumpul anggota Bandoeng Vooruit, organisasi kesejahteraan Bandung. Mereka membicarakan beragam masalah tentang Bandung ditemani sarapan roti, seperti bokkepootjes hingga sponsbeschuit.

”Roti di Sumber Hidangan adalah yang terbaik menurut saya. Rasanya sejak lama tidak berubah, tetap nikmat disantap,” kata Katam yang kini berusia 76 tahun.

Setelah lama berdiri menjadi sisi legenda kekayaan kuliner Bandung, para penjaga ontbijt itu kini diuji pandemi. Bulan ini, kembali menjadi masa yang berat karena pengunjung dilarang makan dan minum di tempat. Pesanan wajib dibawa pulang sejalan aturan Pemerintah Kota Bandung tentang pemberlakuan pembatasan sosial berskala besar proporsional.

Warung Kopi Purnama, Bandung dengan pelanggan setianya. Sarapan dan menikmati suasana. EBU 14/06/2021
Pagi dengan secangkir kopi dan sepotong roti dari Warung Purnama sudah menjadi satu paket. Kebiasaan itu menjadi pembuka harinya sebelum melakukan aktivitas bekerja dari rumah, terutama saat pandemi.

Imbasnya, pengelola Warung Kopi Purnama mengubah sistem layanannya. Sejak Kamis (17/6/2021), pesanan bawa pulang dan daring jadi andalan. Tidak masalah karena kesetiaan Warung Purnama menjaga tradisi membuat pelanggan selalu rindu sajiannya. Legenda ini seperti memberi contoh baik menjalankan usaha saat pandemi.

Etham (25), warga Sekeloa, Bandung, misalnya, tetap memesan menu Warung  Purnama lewat ojek daring. Ia jadi pelanggan sejak diajak ayahnya ke warung itu 12 tahun lalu.

”Paling suka sarapan roti srikaya yang dicelupkan ke kopi susu panas. Rasa pahit, manis, gurih, dan lembutnya pas,” ujarnya.

Bagi Etham, pagi dengan secangkir kopi dan sepotong roti dari Warung Purnama sudah menjadi satu paket. Kebiasaan itu menjadi pembuka harinya sebelum melakukan aktivitas bekerja dari rumah, terutama saat pandemi. ”Agar pandemi tidak semakin parah, segala pembatasan wajib ditaati,” ucapnya.

Sumber Hidangan juga tetap setia mengabulkan rindu penikmat sajiannya. Di etalase, lebih dari 60 roti tawar, manis, isi, hingga kue kering masih menunggu dipilih.

Hal itu juga yang membuat Fidhiah (25), warga Bojongloa Kidul, Kota Bandung, datang ke sana, Kamis pagi. Dari rumahnya berjarak 5 km, dia datang demi dua risoles dan 1 ons bokkenpootjes.

Sembari menunggu pesanan, matanya tertuju pada beberapa kursi rotan bertulang besi tersusun rapi. ”Saya biasanya duduk di dekat jendela atau pintu. Menyenangkan sarapan roti sambil melihat Jalan Braga. Saya suka suasananya, seperti sarapan ala-ala Belanda,” ujarnya.

Akan tetapi, kini kesenangan itu terpaksa dibawa pulang. Kasus positif Covid-19 yang kembali tinggi di Kota Bandung melarang siapa saja yang datang untuk singgah lebih lama. Untuk sementara, suara tenang diselingi sesekali denting piring beradu atau samar seruput teh hangat menemani sarapan roti itu belum akan terdengar lagi di sana.
Warung Kopi Purnama, menerapkan protokol Covid dengan ketat, EBU 14/06/2021

Pekerja Warung Kopi Purnama menyiapkan pesanan pelanggan di Kota Bandung, Jawa Barat, Rabu (23/6/2021) pagi. Di tengah pengetatan pembatasan aktivitas masyarakat untuk mencegah penularan Covid-19, warung yang berdiri sejak 1930 itu tetap beroperasi dengan layanan dibawa pulang secara langsung atau ”take away”.

Roti srikaya dan kopi susu menjadi salah satu kombinasi menu favorit di Warung Kopi Purnama, Kota Bandung, Jawa Barat, seperti disajikan, Rabu (23/6/2021) pagi. Di tengah pengetatan pembatasan aktivitas masyarakat untuk mencegah penularan Covid-19, warung yang berdiri sejak 1930 itu tetap beroperasi dengan layanan dibawa pulang secara langsung atau ”take away”.

Rumah Kopi Tjhiang Shong, Cikal Bakal Warung Kopi Purnama, saat menikmati sarapa di Warung Kopi Purnama, Bandung. EBU 14/06/2021

Sumber artikel di Kompas, 26 Juni 2021 oleh Tatang Mulyana Sinaga/Machradin Wahyudi Ritonga/Cornelis Helmy

Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "Antara Sarapan dan Peradaban Kota Bandung"

Post a Comment

Terima kasih atas kunjungan teman teman, semoga artikel bermanfaat dan silahkan tinggalkan pesan, kesan ataupun komentar.

Popular Posts