Indonesia dari Seberang Batas, Akhir Pekan di Pemukiman, Menghabiskan Waktu ala PNG dan Kebanggaan Bangsa Bahari

 Seri Cerita Perjalanan 

Indonesia dari Seberang Batas 
Cerita ke 6
AKHIR PEKAN DI PEMUKIMAN

Oleh Agustinus Wibowo

Saya sangat menyukai cerita perjalanan, maka saya tampilkan cerita Mas Agustinus Wibowo, supaya saya bisa membaca kapan saja saat saya pengin membacanya.

Gerbang Selamat datang di Port Moresby, PNG

Akhir Pekan di Permukiman

Sepekan saya tinggal di lingkungan Kedutaan Besar Republik Indonesia, protokol keamanan membuat saya mustahil “menginjakkan kaki” di Port Moresby, Papua Niugini. Saya hanya bisa menyaksikan hiruk-pikuk jalanannya dari balik jendela mobil.

Saya perlu “pintu masuk” untuk mengenali kota ini. KBRI memperkenalkan saya kepada Rawa, seorang ibu paruh baya warga setempat yang bekerja di wisma Dubes RI. Dia mengatakan saya bisa menginap di rumah kerabatnya di perkampungan.

Jumat sore itu, kami berjalan bersama melintasi pasar dan jalanan di daerah Koki, di ujung timur Pantai Ela. Saya tak pernah menyaksikan jalanan beraspal seperti ini, yang nyaris tanpa mobil tapi penuh manusia.

Koki Village, Daerah Koki di Port Moresby PNG
Para lelaki duduk melingkar di lapangan sambil bermain kartu dengan uang receh. Para perempuan duduk di pinggir jalan, merumpi dan tertawa-tawa. Anak-anak adalah yang paling mendominasi pemandangan, merefleksikan kenyataan 40 persen lebih penduduk negeri ini di bawah usia 14 tahun. Anak-anak itu bertelanjang kaki, atau bertelanjang dada. Mereka memanjat-manjat tiang dan pagar, meloncat-loncat, berkelahi.

Perkampungan di daerah Koki,  Port Moresby, Papua Niugini, Kompas 29 Juni 2021

Begitu melihat saya membawa kamera, orang-orang mengerumuni saya, sambil mengacungkan simbol Victory pada kedua tangan. Keramaian membesar, nyali saya menciut. Seorang lelaki bermata merah mendekat, menawari saya membeli mariyuana.

Rawa langsung memberi isyarat agar saya cepat pergi. “Terlalu bahaya,” katanya.

Di sudut lapangan, kami berjalan ke atas sebuah jembatan dari balok kayu yang memanjang ke arah pantai.

Jembatan ini adalah “jalan raya” di kampung Koki. Rumah panggung dibangun di sisi kiri dan kanan jembatan, di atas topangan tiang-tiang kayu yang menancap pada laut dangkal. Jembatan bercabang-cabang, membentuk jaringan jalan.

Suasana di Koki 
Dari kejauhan, rumah panggung di atas air tentu menyajikan pemandangan menakjubkan. Tapi dari dekat, tampak jelas sebagian laut di bawah rumah-rumah ini telah berubah menjadi lautan sampah dengan aroma menusuk.

Tuan rumah saya adalah Helen, saudara ipar Rawa yang berusia 49 tahun. Di dalam rumah sempit dari kayu dan seng ini terdapat oven microwave, tiga pesawat televisi usang, dan kipas angin gantung. Di dinding juga tergantung sepasang taring babi hutan yang pernah ditembak ayahnya, yang dia bilang hanya dipakai sebagai hiasan, bukan untuk sihir. Helen tinggal bersama tiga anaknya, satu menantu, juga adik perempuannya sekeluarga. Total sembilan orang tinggal berdesakan di sini.

Perkampungan Koki, Port Moresby. PNG
Sejak menikah dengan mendiang suaminya yang warga kampung itu, Helen menjalani hidup di atas air. Bagi Helen, tinggal di atas laut hanyalah “gaya hidup”. Sebagian besar orang yang tinggal di sini bukan nelayan. Helen sendiri pekerja kantoran.

“Kami hanya suka tinggal di atas air. Di malam hari ketika air laut pasang, tidur di dalam rumah terasa seperti naik perahu yang bergoyang,” katanya.

Tergerus air laut, kayu-kayu penopang itu mudah aus, dan bagian yang terendam air akan menipis. Kayu-kayu itu harus sering diganti, setidaknya dua atau tiga tahun sekali.

Membangun rumah di atas air membutuhkan kerja keras. Para lelaki membawa kayu-kayu gelondongan untuk ditancapkan ke dalam air, lalu meratakan permukaannya, dan membangun rumah di atasnya.

Perumahan di PNG

Tergerus air laut, kayu-kayu penopang itu mudah aus, dan bagian yang terendam air akan menipis. Kayu-kayu itu harus sering diganti, setidaknya dua atau tiga tahun sekali. Pernah kejadian ada rumah yang kayu penopangnya sudah terlalu tipis dan patah, sehingga rumah itu ambrol ke laut dan penghuninya tewas.

Jalan “jembatan kayu” di kampung ini juga sangat sempit, tanpa pelindung pada kedua sisinya. Sering pula kejadian orang jatuh tercebur ke dalam laut (yang penuh sampah dan lumpur hitam). Korban utama adalah orang mabuk, orang berkelahi, atau anak-anak.

Rumah di perkampungan air ini juga tidak mendapat layanan penuh dari pemerintah. Air bersih harus dikongsi bersama beberapa keluarga dari satu keran dan pipa. Toilet hanya berupa lubang di lantai, semua hajat langsung dibuang ke laut tanpa hambatan.

Listrik mendadak mati. Dalam remang, kami berbincang tanpa bisa melihat wajah satu sama lain.

“Kamu tahu kenapa Rawa tadi buru-buru menggeret kamu masuk rumah?” tanya Helen. “Sebentar lagi, jalanan akan sangat penuh dengan manusia. Dan mereka akan menjadi gila. Coba tunggu beberapa menit lagi. Dengarkan baik-baik.”

Dalam senyap saya mendengar suara tembakan. Sekali. Dua kali. Tiga kali. Letusan itu terdengar begitu dekat, membuat saya bergidik ngeri dalam gelap.

Indonesia dari Seberang Batas 
Cerita ke 7
MENGHABISKAN WAKTU ALA PNG

Menghabiskan Waktu ala PNG

Bermalam di perkampungan Koki di bibir pantai Port Moresby, saya mendengar tiga suara tembakan. Saya membayangkan perkelahian antargeng mafia.

“Apa itu?” saya gemetaran bertanya pada Helen, tuan rumah saya.

“Itu petugas NCDC,” kata Helen. NCDC atau National Capital District Comission adalah pemerintah daerah di ibukota Port Moresby. “Mereka sedang mengusir para pedagang pinang di pasar ujung kampung.”

Pinang, dalam bahasa setempat disebut buai, hampir selalu ada di mulut orang PNG. Mereka terus mengunyah pinang sepanjang hari sampai gigi mereka merah semua. Masalah utama dari kebiasaan ini adalah kebersihan. Kulit pinang berserakan di mana-mana karena orang membuangnya di sebarang tempat. Orang juga sering meludahkan kunyahan pinang sembarangan, menyisakan bercak merah di tembok dan jalanan, yang sulit dibersihkan.

Tidak tahan lagi, pemerintah ibukota melarang total penjualan pinang. Sore hari, para petugas NCDC datang untuk membubarkan paksa kerumunan di pasar buai, dengan menyemprotkan gas air mata dan meletupkan tembakan. Orang-orang akan lari tunggang langgang, dan kericuhan pun merebak. Para pedagang pinang yang tertangkap akan dipenjara, baru dibebaskan setelah membayar denda.

Setelah suara tembakan mereda, Jo, menantu Helen yang berambut gimbal seperti Bob Marley, mengajak saya merasakan gaya hidup khas PNG: loafing around. Bermalasan menghabiskan waktu tanpa tujuan di jalanan.

Kami kembali turun ke jalan besar beraspal. Di bawah redup sinar lampu jalan, puluhan bocah bermain sambil berteriak-teriak. Mereka langsung mengerumuni saya sambil memekik, “Boss! Boss! Photo me!” atau “China! China!” Jo menghalau mereka dengan membentak galak.

Warga Port Moresby, Papua Niugini  saat mengisi waktu dengan bermain kartu, Kompas 30 Juni 2021
Bagi orang dewasa, kegiatan utama saat loafing around adalah mengunyah pinang. Jo membeli sebutir pinang seharga 1 kina (Rp 5.000). Untuk saya, dia membelikan irisan kecil pinang yang sudah dikupas, seharga 20 toea.

Saya menggigit satu potongan kecil, merasakan pahit yang bikin meringis. Saya juga menerima sebatang tanaman daka (moster) yang hijau dan keras, mencocolkannya ke serbuk kapur, menggigitnya, dan mengunyah bersama pinang yang masih di mulut.

Di PNG,  saya baru menyadari makna ungkapan Melayu, sekapur sirih,

Di Nusantara juga ada tradisi mengunyah sirih, pinang, bersama serbuk kapur seperti ini. Di PNG inilah saya baru menyadari makna ungkapan Melayu, “sekapur sirih”, karena mengunyah sirih atau pinang ternyata selalu ditemani dengan kapur, dan paket lengkap sirih-kapur itu dulunya merupakan perangkat wajib untuk menyambut tamu dalam budaya Sumatera.

Di masa kecil saya dulu di Jawa, simbok tukang pijat yang sering datang ke rumah kami selalu mengulum segumpal sirih, yang bentuknya menyerupai bola kecil dari benang-benang merah, dan seperti tidak pernah lepas dari mulutnya. Ibu saya melarang saya mencicipnya. Di zaman sekarang, saya sudah tak ingat kapan terakhir kali melihat orang Indonesia di sekitar saya menyirih.

Sedangkan di PNG, tradisi ini masih teramat kuat. Hampir semua orang—tua, muda, sampai anak-anak—mengunyah pinang sepanjang hari. Tapi saya belum menemukan di mana nikmatnya. Tenggorokan saya terasa terbakar, air mata menetes deras. Kepala pening, saya terhuyung-huyung. Saya sudah mabuk pinang hanya dalam satu gigitan.

Jo buru-buru memberi saya minum air. “Jangan telan cairan pinang! Ludahkan keluar!”

Para pemuda yang mengerumuni kami terbahak-bahak melihat reaksi saya. Justru rasa mabuk dan melayang-layang itulah yang mereka nikmati dari mengunyah pinang. Pinang memang memiliki efek stimulan, dan itu bisa menjadi adiksi yang sulit dihentikan.

Seorang pemuda bergigi merah gara-gara pinang, menumpahkan kekesalannya kepada pemerintah Port Moresby yang melarang penjualan pinang. Dia menyebut pinang sebagai identitas, budaya kebanggaan PNG, dan itu tak boleh dilarang.

“Apalagi mengunyah pinang selalu ditemani kapur. Kapur itu kalsium, bagus untuk gigi. Mengunyah pinang sama dengan menyikat gigi,” katanya.

Jumat malam adalah waktu puncak untuk aktivitas ceria loafing around bagi warga lokal.

Itu karena para pekerja di PNG mendapatkan upah mereka setiap dua mingguan, yang umumnya dibayarkan pada Jumat sore. Banyak orang langsung membelanjakan uang itu untuk membeli bir. Hasilnya, jalanan dipenuhi orang mabuk yang beringas. Malam ini, kami bersama ratusan orang lainnya berkerumun menonton dua lelaki mabuk yang sedang bertarung hebat di tengah jalan.

Sebagai orang asing, saya bisa berleha-leha di jalanan perkampungan Koki yang tersohor sebagai salah satu daerah rawan kejahatan di Port Moresby, sungguh kesempatan langka. Itu semata-mata karena saya punya pengawal hebat. Jo adalah warga lokal yang bertubuh gempal bak pegulat.

Tapi tak semua orang PNG bisa kita jadikan pengawal. Ketika berkunjung ke suatu perkampungan, kita harus ditemani orang yang berasal dari perkampungan itu. Setiap perkampungan di Port Moresby rupanya dihuni orang sekaum yang berasal dari satu daerah. Sesama orang PNG tapi beda daerah asal bisa diserang ketika berkunjung ke kampung yang bukan dihuni orang sekaumnya.

Ibukota ini bagaikan taburan suku-suku yang masih berperang satu sama lain.

Indonesia dari Seberang Batas 

Cerita ke 8
BUDAK DI TANAH SENDIRI

Budak di Tanah Sendiri

Keadaan Papua Niugini sangat tidak normal. Harga mahal, upah rendah, tetapi orang hanya menghabiskan waktu berleha-leha di jalanan. Bagaimana mereka bisa hidup?

Jo, warga kampung Koki di Port Moresby, mengeluhkan inflasi yang fantastis. Harga sebutir pinang beberapa tahun lalu 20 toea, kini 1 kina, naik lima kali lipat.
Sebaliknya, cari kerja sangat susah. Jo, mahasiswa ilmu fisika, mengatakan banyak lulusan universitas sepanjang hari hanya duduk-duduk di pinggir jalan karena tak ada kerja. Ini ironis karena Port Moresby justru dipenuhi pekerja asing yang melakukan berbagai pekerjaan sederhana.

”Masak mereka merekrut orang Filipina untuk membuka kunci kasir di supermarket, atau menjadi mandor bagi para kuli? Pekerjaan seperti itu juga bisa kami kerjakan!” keluh Jo.
Warga Port Moresby, Papua Niugini, saat menghabiskan waktu dengan berkumpul dan bermain. Banyak warga kota itu mengeluh kesulitan mendapatkan pekerjaan. Kompas, 1Juli 2021 

Angka resmi pengangguran PNG pada tahun 2014 hanya 2,60 persen. Namun, statistik itu sama sekali tak menggambarkan situasi Port Moresby, di mana separuh lebih orang usia muda tampak tidak bekerja.

Helen, mertua Jo, menyambung, ”Kami hanyalah budak di tanah kami sendiri.” Dia bekerja sebagai resepsionis di perusahaan Australia.

Saya pernah bicara dengan seorang pekerja asal Indonesia, Santi, yang sudah empat tahun tinggal di PNG. Dia manajer supermarket SVS yang banyak menjual produk Indonesia. Santi mengakui bahwa pekerjaan level manajer di negara ini sangat jarang dikerjakan orang lokal PNG. Dia memperkirakan, dari seratus manajer, hanya satu atau dua yang warga lokal.

”Merekrut staf lokal memang lebih murah daripada orang asing, tetapi justru tidak efisien,” katanya. Dia memberi contoh, tugas membungkus parsel dikerjakan dua orang PNG hanya selesai satu dalam sehari, sedangkan satu anak magang dari Indonesia bisa merampungkan delapan.

Saya pernah mendengar cerita serupa dari orang-orang di KBRI, tentang perusahaan konstruksi Indonesia yang mendatangkan ratusan pekerja dari Indonesia untuk membangun satu gedung modern di Port Moresby, dan proyek selesai hanya dalam dua bulan. Efisiensi kerja itu sangat mencengangkan warga setempat.

Santi juga tidak setuju jika dikatakan PNG adalah tempat untuk mengeruk kekayaan. Risiko keamanan di negara itu tinggi, membuat kehidupan ekspatriat sangat sulit. Di perusahaannya, ada protokol standar semua staf asing harus bepergian dengan mobil pribadi. Mereka juga dilarang berkendara setelah pukul delapan malam.

”Kalaupun harus keluar malam, jangan pernah berhenti di tengah perjalanan. Kalau ada yang menghadang di jalan, barang atau orang, tabrak saja dulu, urusan lain belakangan,” kata perempuan muda berperawakan kecil itu.
Santi percaya, prosedur yang sepertinya tak berperikemanusiaan itu harus dilakukan karena raskol (penjahat) bisa muncul di tempat, waktu, dan cara yang tak terduga.

Target serangan raskol sebenarnya bukan hanya orang asing, melainkan juga warga lokal.
Jo sendiri pernah dirampok raskol. Pagi hari itu dia ditugaskan kantornya membawa uang tunai 300.000 kina (Rp 1,5 miliar) ke bank. Baru dia keluar pintu kantor, mendadak satu mobil mendesaknya, dan meloncat keluar tiga raskol yang menodongnya dengan pistol. Jo menyerahkan uang itu, para raskol kabur. Polisi menangkap Jo, perusahaan memecatnya.
”Kenapa saya yang dituduh? Kenapa bukan para raskol itu yang ditangkap dan dihukum?” keluhnya.

Koran lokal merilis laporan Bank Dunia bahwa bisnis di PNG terhambat karena biaya tinggi akibat kriminalitas dan kekerasan. Dua pertiga lebih perusahaan menghabiskan 5 persen anggaran tahunan untuk jasa keamanan swasta. Perusahaan juga melaporkan kerugian sebesar 59.000 dollar Amerika Serikat per tahun untuk pencurian oleh staf mereka sendiri. Biaya itu akan mereka bebankan pada konsumen dalam bentuk harga tinggi, seleksi produk yang terbatas, serta ketiadaan layanan baru. Pada akhirnya, semua orang di PNG harus membayar mahal demi kriminalitas ini.

Hanya berselang sehari kemudian, muncul bantahan dari Peter O’Neill saat ia menjabat perdana menteri pada 2012-2019 terhadap pemberitaan itu. Dia mengklaim bahwa kriminalitas di PNG telah menurun drastis dalam tiga tahun terakhir, yang dibuktikan dengan jumlah narapidana yang berkurang dari 1.000 menjadi 450 orang.

Tentu ini menyisakan pertanyaan, apakah berkurangnya jumlah narapidana benar membuktikan kriminalitas telah menurun, ataukah justru menunjukkan menurunnya kemampuan polisi memberantas kejahatan? Saat ini di seluruh PNG ada sekitar 5.000 polisi, atau cuma 65 polisi untuk setiap 100.000 penduduk.

Saya melihat lingkaran setan di sini. Harga barang dan pengangguran yang tinggi menyebabkan kriminalitas merajalela. Sebaliknya, kriminalitas juga menyebabkan harga barang semakin membubung dan pengangguran semakin parah.

Indonesia dari Seberang Batas 
Cerita ke 9
BERPETUALANG DI PORT MORESBY
Port Moresby bisa dikatakan tempat paling menegangkan yang pernah saya kunjungi. Dua minggu di kota itu, saya belum melihat satu orang asing pun yang berjalan kaki di jalanan kota. Bahkan ketika tinggal di Kabul, Afghanistan, di mana bom meledak setiap dua hari, saya masih berani berjalan kaki sendiri ke mana-mana.

Tapi, untuk mengenali PNG, saya perlu belajar cara hidup lokal: berjalan kaki dan naik angkutan umum.
Di sini, itu pun sudah petualangan.

Saya berangkat dari kantor KBRI, berencana menyusuri jalan raya John Guise yang bertrotoar lebar. Ini daerah kantor pemerintahan dan kedutaan asing, seharusnya cukup aman.

Tapi begitu keluar pagar kedutaan, saya mulai gentar. Tak banyak mobil lalu lalang, juga hampir tak ada pejalan kaki. Bagaimana jika ada raskol meloncat dari balik pohon? Saya merangkul erat tas punggung berisi kamera di depan dada, berjalan perlahan.

Saya hanya mengingat anjuran kawan: berjalanlah percaya diri seolah sudah biasa. Saya hanya memasang senyum dan menyapa semua orang yang berpapasan, dalam bahasa Tok Pisin, ”You alright, a?” Balasan yang saya terima adalah senyuman manis. Beberapa dari mereka memuji saya, sambil mengingatkan untuk tetap hati-hati.

Strategi saya adalah mencari penduduk lokal sebisa mungkin perempuan sebagai teman berjalan walau hanya untuk beberapa langkah. Saya berhasil berjalan 1,5 kilometer setelah berganti empat teman seperjalanan, dan tiba di pertigaan Waigani yang lengang.

Tak jauh di depan, lima pemuda bertato berjalan lambat sambil bersiul-siul. Bohong kalau saya tidak takut. Tapi saya memberanikan diri menyapa mereka, ”You fellow alright?”

Mereka tersenyum, menanyakan negara asal saya, juga, ”Kamu menikmati PNG?”
”Tentu saja!” jawab saya, membuat mereka tertawa gembira. Kami pun jadi teman seperjalanan, hingga saya selamat tiba di tujuan.

Hotel Laguna seperti benteng. Saya melewati tiga lapis gerbang, masing-masing dijaga petugas bersenjata laras panjang.

Saya ke sini hanya untuk membeli tiket pesawat. Setelah urusan selesai, saya bertanya kepada pegawai biro tur bagaimana cara naik bus menuju Hanuabada, permukiman nelayan sekitar 10 kilometer jauhnya di selatan kota.

Perempuan muda itu langsung menjerit. ”Naik bus? Itu bahaya sekali! Kenapa tak naik taksi saja?”

Saya menunjukkan semua uang saya. Dalam saku hanya ada 7 kina (Rp 35.000). Dalam dompet ada Rp 7.000. Saya sengaja bawa rupiah, karena seandainya saya benar dirampok, saya rasa uang yang banyak angka nolnya itu sudah cukup untuk bikin perampok girang. Sementara untuk naik taksi butuh 30 kina (Rp 150.000).

Bus di Port Moresby, Papua Niugini. Angkutan umum di kota itu dinilai kurang aman. Kompas 2 Juli 2021

Tiba-tiba, pembeli tiket yang duduk di sebelah saya menimpali percakapan kami. Ibu-ibu paruh baya dengan baju daster bermotif bunga itu langsung mengeluarkan uang 30 kina dari dompetnya, melambaikannya ke arah saya, ”Ambil ini dan pergilah!”

Tapi seberapa pun bahayanya kota ini, mereka masih dipenuhi kewelasasihan untuk saling menolong dan berbagi.

Dia mengatakan, bahkan dia sendiri pun tak berani naik bus, karena itu sama saja dengan bunuh diri. Dia memberi saya uang, murni karena iba. Bahkan yang saya lakukan ini adalah kegilaan bagi warga lokal. Tapi seberapa pun bahayanya kota ini, mereka masih dipenuhi kewelasasihan untuk saling menolong dan berbagi.

Saya menolak halus pemberian itu, keluar Hotel Laguna, mencari bus menuju Hanuabada.

Warga Port Moresby, Papua Niugini, duduk di samping angkutan umum yang ada di kota itu, Kompas 2 Juli 2021
Jalanan lengang. Hanya seorang pemuda duduk di halte, menatap tajam ke arah saya dengan matanya yang merah.

Saya sangat tak nyaman. Begitu bus nomor 11 mendekat, saya langsung meloncat naik, tanpa peduli kendaraan ini hendak ke mana.

Semua penumpang yang duduk berdempetan dalam minibus menatap takjub, sepertinya tak pernah lihat orang asing naik angkutan umum. Mereka kemudian tertawa tergelak, antusias berpose begitu saya mengeluarkan kamera.

Sungguh saya tidak menyesal untuk ”bertualang” naik bus. Tak pernah seumur hidup saya berada dalam bus yang penuh keriangan ini. Musik pantai ceria ala Jamaika berdentum-dentum, membuat para penumpang berdendang dan bergoyang.

Dari balik kaca bus, saya melihat kota Port Moresby. Bukit-bukitnya yang bagai barisan kurva, laut biru kelamnya yang berkilauan, taman kotanya yang asri dengan monumen cenderawasih. Dipenuhi keriangan di dalam bus, sejenak saya bertanya, apakah kengerian yang diceritakan orang-orang itu tak lebih hanyalah ilusi dari suatu tempat yang lain.

Indonesia dari Seberang Batas 
Cerita ke 10
KEBANGGAAN BANGSA BAHARI

Kebanggaan Bangsa Bahari

Mengunjungi Papua Niugini di abad ke-21 sebagai orang asing adalah sebuah petualangan

Sejarah Port Moresby, Papua Niugini,  diawali dari kampung nelayan.

Ketika orang Eropa singgah pertama kali akhir abad ke-19, di daerah ini terdapat sejumlah desa yang dibangun dengan rumah panggung  di atas air laut. Desa-desa itu secara kolektif disebut Hanuabada, berarti “kampung besar”. Penghuni utamanya adalah suku Motu.

Saat ini hanya ada dua kampung di atas laut yang tersisa di Port Moresby, yaitu Hanuabada dan Koki. Sama seperti di Koki yang sudah saya kunjungi sebelumnya, jalanan utama di Hanuabada yang menghubungkan rumah-rumah panggung adalah jembatan dari bilah-bilah kayu.

Pemukiman di Hanuabada, Port Moresby, Papua Niugini, Kompas 5 Juli 2021

Keamanan Hanuabada jauh lebih baik daripada Koki, sehingga kampung ini lebih mudah diakses turis asing. Tapi risiko tetap ada, sehingga pengunjung sebaiknya selalu ditemani warga setempat.

Tuan rumah saya adalah Pastor Paul Liwun, yang berasal dari Flores, Indonesia. Dia sudah  belasan tahun tinggal di PNG, dan “baru” empat tahun di Hanuabada. Walaupun fasih berbahasa Tok Pisin dan penampilannya sangat mirip orang lokal,  Paul mengaku sudah mengalami penodongan dan perampokan yang tak terhitung banyaknya sejak tinggal di negara ini.

Pemukiman di Perkampungan Hanuabada, Port Moresby, PNG 

Mengunjungi PNG di abad ke-21 sebagai orang asing adalah sebuah petualangan. Tapi tentunya jauh lebih dahsyat  petualangan  para penjelajah Eropa, yang datang ketika suku-suku pribumi Papua sama sekali belum pernah berkontak dengan dunia luar.

Penjelajah Eropa yang disebut “penemu” Port Moresby adalah Kapten John Moresby. Dia mendarat tahun 1873, di daerah pelabuhan yang tidak jauh dari Hanuabada. Saat itu, kedatangan Moresby tak diiringi konflik berarti dengan suku Motu, penghuni daerah ini, yang terkenal  lembut dan damai. Setelah menginjakkan kakinya, Moresby  mengklaim seluruh daerah ini sebagai milik Inggris, dan menamai daerah sekitar pelabuhan itu dengan nama ayahnya, Laksamana Sir Fairfax Moresby.

Dari situlah asal nama Port Moresby.

Kondisi Rumah di atas air di Perkampungan Hanuabada, Port Moresby, PNG 

Tahun 1905, Port Moresby menjadi ibukota Teritori Papua di bawah Australia. Sejak itu, Port Moresby terus berkembang, terutama di daerah pelabuhan. Listrik pertama kali merambah pada 1925, dan Hanuabada termasuk salah satu daerah pertama di  negeri ini yang mendapat aliran listrik.

Orang Hanuabada sering membanggakan arti penting kampung mereka bagi kemajuan PNG. Dalam buku Upstream Through Endless Sand and Blessing, penulis Lahui Ako yang putra daerah Hanuabada menyebut, “Di Hanuabada-lah London Missionary Society (LMS) membangun basis yang membuka jalan bagi agama Kristen dan modernisasi di daerah ini.”

Satu hal yang cukup mengejutkan saya, banyak penduduk Hanuabada secara fisik lebih mirip orang Jawa. Jika  orang Melanesia Papua  umumnya  berambut keriting dan berkulit hitam,  orang Motu warna kulitnya lebih terang, mengarah ke sawo matang, dan ada pula yang berambut lurus.

Perkampungan Hanuabada, Port moresby, PNG

Dari sisi genetik, orang Motu yang menghuni pesisir tenggara PNG lebih cenderung Polinesia. Orang Polinesia adalah bangsa pelaut yang ribuan tahun lalu merambah sampai ke pulau-pulau terpencil Samudra Pasifik, hingga Selandia Baru, Tahiti, dan Hawaii. Orang Polinesia masih berkerabat dekat dengan orang Austronesia yang menghuni Indonesia. Bahasa Motu berbeda dengan kebanyakan bahasa di Papua, termasuk rumpun bahasa Austronesia yang sama dengan bahasa Indonesia.

Perkampungan Hanuabada, Port moresby, PNG

Sebagai bangsa pelaut, orang Motu sejak dahulu sudah menjadi pedagang bahari. Setiap tahun mereka melakukan ekspedisi perdagangan hiri. Mereka berlayar ke daerah pesisir Teluk Papua, menggunakan perahu layar tradisional lakatoi.

Dengan layar yang bentuknya menyerupai cakar binatang, lakatoi berbulan-bulan mengarungi lautan lepas nan ganas. Dalam satu ekspedisi, 20 lakatoi diawaki 600 pelaut Motu membawa sekitar 20 ribu pot tanah liat, untuk ditukar dengan sagu dari Teluk Papua.

Kini, perdagangan tradisional Motu itu dirayakan setiap tahun dalam festival akbar Hiri Moale. Saat itu, pantai Port Moresby  dipenuhi lakatoi, diiringi tarian dan tabuhan musik yang menggugah kebanggaan mereka sebagai bangsa bahari.

Sebagai bangsa bahari, orang Motu juga berbangga karena bahasa mereka menjadi bahasa perdagangan yang dipakai secara luas di daerah pesisir yang mereka kunjungi. Ini mirip posisi bahasa Melayu yang pemakaiannya meluas di pulau-pulau Nusantara. Karena itulah, pemerintah kolonial Inggris pada awal abad ke-20 berusaha menjadikan “Hiri Motu”—versi sederhana dari bahasa Motu—sebagai bahasa pemersatu negara ini.

Setelah PNG merdeka pada tahun 1975, Hiri Motu diakui sebagai salah satu bahasa nasional PNG, bersama Tok Pisin dan bahasa Inggris. Sayang, saat ini  penggunaannya sudah sangat redup, dan mayoritas penuturnya sudah berusia lanjut.

Salah satu contoh rumah yang unik di Perkampungan Hanuabada, Port moresby, PNG

Yang menggusur posisi Hiri Motu itu adalah Tok Pisin, suatu versi bahasa Inggris “rusak” dengan citarasa lokal.

Cerita yang sangat menarik, sengaja saya menyimpan cerita ini di Blog saya, untuk menambah pengetahuan tentang PNG dan belajar menulis perjalanan yang baik.

Papua Nuigini



Sumber : Kompas


Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "Indonesia dari Seberang Batas, Akhir Pekan di Pemukiman, Menghabiskan Waktu ala PNG dan Kebanggaan Bangsa Bahari"

Post a Comment

Terima kasih atas kunjungan teman teman, semoga artikel bermanfaat dan silahkan tinggalkan pesan, kesan ataupun komentar.

Popular Posts