Pengalaman Mengikuti JNFI Jambore Nasional Fotografer Indonesia 2022

Jambore Nasional Fotografer Indonesia



JNFI - Jambore Nasional Fotografer Indonesia 2022

Kali ini saya akan bercerita tentang pengalaman mengikuti Jambore Nasional Fotografer Indonesia yang diadakan tanggal 26 - 28 Agustus 2022.

Saya memulai menulis saat merasa semangat dan sedikit kedinginan karena suhu di jam tangan saya menunjuk di angka 8 derajat celcius di dekat pintu Gerbang Selamat Datang di Taman Nasional Bromo Tengger. 

Ya, saya Eko bersama sohib saya Om Yusti, bersemangat mengikuti acara Jambore Nasional Fotografer Indonesia yang menurut informasi merupakan acara fotografi pertama yang diadakan oleh Yayasan Fotografi Indonesia.


Saya beberapa kali berkunjung ke Kawasan Gunung Bromo, cuma kali ini benar benar excited karena bakal bertemu dengan teman teman fotografer dari seluruh Indonesia, dengan berbagai Gear dan latar belakang.


Sesuai dengan informasi dan promosi dari Panitia, kami akan mengikuti beberapa acara penting diantaranya 
  1. Pembukaan oleh Gubernur Jawa Timur Ibu  Dra. Hj. Khofifah Indar Parawansa, M, Si 
  2. Workshop dari Fotografer handal Bang Darwis Triadi, Bang Arabain Rambe, Mbak Martha Suherman, Mas Ranar Pradipto dan Mas Rahmat Hidayat
  3. Sharing informasi bersama para fotografer handal seperti Om Don Hasman, Pak Alain Compost dan Hunting foto bersama dengan para tokoh fotografer sebagai kelanjutan dari workshop.

Acara pembukaan dilaksanakan di area Pasir Berbisik dan menurut saya sangat istimewa karena terpampang di depan mata panggung dengan latar belakang Gunung Bromo dan Gunung Batok, di area lautan pasir berbisik yang menawan.



Kami datang sekitar jam 15.00 dengan menggunakan jip jip Hardtop yang menurut saya merupakan Koleksi Toyota Jeep Hardtop yang paling banyak di dunia.  


Sambil menunggu kedatangan Bu Gubernur, kami menyempatkan diri mengabadikan suasana pasir berbisik dan seorang Bapak yang menyewakan Kuda yang sedang menunggu pelanggan, yang akhirnya kami tahu bahwa Bapak dengan kudanya tersebut memang dipersiapkan untuk kedatangan Ibu Gubernur.

Dari peserta yang hadir, baik mentor, peserta maupun undangan lainnya memang tampak datang dari 
  1. Berbagai daerah mulai dari Palembang hingga Papua, 
  2. Gender, fotografer laki laki dan wanita
  3. Berbagai usia, dari yang berusia 80 tahun hingga yang berusia 20 an tahun
  4. Berbagai gear, mulai dari Nikon, Sony, Canon, Fuji, dan berbagai lensa 
  5. Berbagai tingkat edukasi dari mulai mahasiswa hingga profesional
  6. dst yang mungkin terlewatkan
Pokoknya luar biasa, menurut saya merupakan ajang silaturahmi para fotografer lintas generasi, lintas budaya dan lintas profesi asal.

Jambore Nasional Fotografer Indonesia 2022 yang diadakan di kawasan Taman Nasional Bromo Tengger merupakan gelaran pertama dari Yayasan Fotografi Indonesia yang didukung oleh pemerintah Kemparekraf, Pemerintah provinsi Jawa Timur, serta beberapa sponsor yang turut mensuksesakan acara JNFI 2022 seperti Consina, Tamron, Bank Jatim, Print Mate Hp, Citraland , Mata Fotografi Indonesia. 
 
Setelah berkumpul sekitar 1 jam, Ibu Gubernur datang sesuai informasi Panitia.  Iring ringan Jeep Ibu Gubernur Ibu Khofifah Indar Parawansa datang dan debu pasir di area Pasir Berbisik mengebul.  Hal ini tidak menurutkan semangat para fotografer yang langsung mengabadikan kedatangan Ibu Gubernur, termasuk saya.


Saat jeep berhenti, sebuah kursi kecil di letakkan di bawah pintu no 2 jeep sebagai pijakan.  

Bunyi shutter kamera dari berbagai merk bersahut sahutan mengarahkan lensa ke Ibu Gubernur menabadikan moment bersejarah bagi fotografer Indonesia.


Panitia mempersilahkan Ibu Gubernur dan jajarannya untuk duduk di kursi yang sudah dipersiapkan.  
Setelah MC menjelaskan mengenai JNFI 222, selanjutnya kami menyanyikan lagu Indonesia Raya untuk membangkitkan rasa Nasionalisme dan bangga sebagai Bangsa Indonesia.

Berikutnya Ketua Panitia menyampaikan risalah mengenai JNFI 2022, Tokoh Fotografi menyampaikan kesan dan pesannya dan akhirnya pembukaan acara oleh Ibu Gubernur.  Tepuk tangan riuh rendah menyambut dibukanya JNFI 2022 di kawasan yang sangat indah dan menawan dan  juga menjadi kebanggaan Indonesia, Taman Nasional Bromo Tengger.


Secara Ceremonial, Ibu Gubernur membuka acara gelaran JNFI 2022 yang berlangsung dari tanggal 26 - 28 Agustus 2022.  Pada akhir acara, Ibu Gubernur didaulat untuk memotret Penunggang Kuda yang tadi kami potret potret didampingi oleh Fotografer kawakan Om Darwis Triadi.  Pada akhir acara, saya baru tahu bahwa foto bergambar penunggang kuda dengan latar belakang gunung bromo dan gunung batok ini akhirnya dilelang.

Setelah prosesi memotret selesai, Ibu Gubernur bersama rombongan beranjak meninggalkan area pembukaan dari Pasir Berbisik, seiring dengan matahari yang juga beranjak ke peraduan diiringi kabut yang kadang muncul kadang hilang tertiup angin gunung yang berdesir.  

Seperti berbisik, area pasir di dataran di area gunung bromo, Pasir Berbisik, seolah olah menghipnotis kami dan membisikan kata kata selamat datang di Taman Nasional Gunung Bromo dan selamat bersilaturahmi dengan para fotografer dari seluruh Indonesia.

Hawa segar dan dingin mulai menghinggapi raga kami, berbalut jaket dari Sponsor Consina, para peserta tetap tak bergeming, tetap semangat. Acara pembukaan berlanjut hingga malam hari dengan menampilkan profil dari para mentor dipimpin oleh moderator yang terlebih dahulu menyampaikan ptofil dari masing masing mentor.


Belajar dari para mentor, memang pencapaian dengan proses yang panjang dan tidak mudah untuk mencapai karier seperti saat mereka duduk sebagai mentor fotografi di depan para peserta Jambore Nasional Fotografer Indonesia 2022.


Setelah acara presentasi dari para Mentor, acara pembukaan berakhir dan saatnya kami mengikuti round down acara yang sudah disusun oleh panitia penyelenggara.

Para peserta menuju jeep hardtop yang juga mengantar saat berangkat menuju pembukaan. Karena saat malam akan ada penyampaian materi dalam workshop oleh Arbain Rambey, Darwis Triadi dan Martha Suherman. 

Lokasi workshop berjarak sekitar 600 meter dari Hotel dan dilaksanakan dan bertempat di Aula Hotel Bromo Permai, yang cukup luas untuk menampung para fotografer yang sangat antusias mengikuti workshop.


Baca juga Artikel :


Mengikuti Acara Round Down JNFI  

Setelah acara pembukaan, kami pun menuju hotel masing masing mempersiapkan diri untuk mengikuti acara berikutnya yaitu workshop sharing pengalaman fotografi bersama Fotografer Profesional Indonesia.


Day 1 : Workshop hari Pertama  JNFI 2022

Workshop pertama diisi oleh Bang Arbain Rambey yang menyampaikan materi dengan tema Perkembangan fotografi dan teknologi fotografi. Informasi mengenai perkembangan teknologi kamera mulai dari analog hingga mirrorless dibahas dengan jelas dan juga oleh Arbain Rambey, termasuk dengan perkembangan teknologi dari para merk merk kamera serta produk mereka.

Pengalaman jurnalistik Arbain Rambey menjadi salah satu informasi yang menarik, bagaimana suka dukanya menjadi fotografer beberapa perhelatan acara dunia, dikejar waktu atau dead line untuk mencetak dan ketersediaan alat yang terbatas pada saat itu. Berikutnya persaingan beberapa produsen kamera untuk memasuki pasar dengan ciri dan karakter masing masing perusahaan. Banyak pertanyaan yang dilontarkan saat sharing tentang perkembangan fotografi yang disampaikan Arbain Rambey. Sangat menarik.


Sesi berikutnya dilanjutkan oleh Bang Darwis Triadi yang membawakan tema workshop Memahami Arah Cahaya.  
Setelah penyampaian materi, dilanjutkan dengan demonstrasi cara pemotretan dengan perangkat lampu studio.  Suasana semakin dingin dan malam makin larut, tetapi para peserta seperti terhipnotis dengan euforia demo foto dari Darwis Triadi dengan mendaulat Martha Suherman sebagai model.  
Pengalaman dan profesionalisme Darwis sebagai fotografer senior memang sangat menakjubkan.  Sekali jepret, tampilan menawan Martha Suherman tercapture di kamera yang dihubungkan ke  monitor sehingga semua peserta bisa melihat hasil pemotretan langsung dengan berbagai angle.

Setelah memotret dengan model Martha Suherman, dilanjutkan dengan model Allan Compost, seorang fotografer dan salah satu wildlife photographer terkenal di dunia dan sudah lama menggeluti genre ini selama 40 tahun lebih.⁣ Beliau menjadi model Darwis dadakan yang mengikuti arahan sang fotografer.  Sekali lagi, membuat audience terpana dan terpesona, hasil jepretan hitam putih yang sangat menawan. Banyak pertanyaan yang dilontarkan oleh para peserta terkait pencahayaan, kekuatan flash, gear yang digunakan dan arah pencahayaan. 

Workshop hari pertama ditutup dengan applaus yang sangat meriah dari para peserta dan panitia juga mengumumkan bagi para peserta untuk membuat story di ig masing masing dengan salah satu sponsor yaitu Consina.

Day 2, JNFI 2022

Setelah mengikuti pembukaan dan workshop di hari pertama, pagi dini hari kami harus melawan dingin dan rasa malas untuk berangkat berburu sunrise dan sesi pemotretan yang akan dibimbing oleh mentor Ranar Pradipto, Martha Suherman dan Darwis Triadi.


Menanjak dari kamar tempat menginap yang terjal, di pintu keluar disambut antrean belasan bahkan mungkin puluhan jeep hardtop yang sudah siap mengantar para wisatawan untuk menikmati sunrise Bromo.  Saya berjalan menyusuri jeep yang antre hingga pintu gerbang Taman Nasional Bromo Tengger.


Bromo merupakan tempat dengan populasi dan koleksi Jeep Hardtop terbanyak di Indonesia, bahkan mungkin di dunia dalam satu lokasi. Saat ngobrol dengan sopir jeep, Mas Sutiko, hampir lebih dari 500 jip hardtop dan sejenisnya yang ada di kawasan Bromo - Tengger. Luar biasa.

Titik kumpul di halaman Hotel Lava View Lodge dan sudah ada sekitar 10 - 12 jeep Hardtop yang siap mengantar kami menuju titik sesi pemotretan, yaitu di Bukit Widodaren dan akan dipandu oleh Mas Ranar Pradipto.

Peserta yang sudah siap mulai memasuki jip dan setiap jip diisi 4 - 5 orang.  Saya memilih jip paling pinggir dan bergabung dengan Pak Mahar, Pak Ahmad, Pak Yusti.  Jip mulai berjalan dan membelah kegelapan dini hari, tanpa kami tahu sisi kanan kiri yang kami lewati, hanya hamparan pasir sebatas lampu mobil dan lampu senter yang kami lihat.

Driver Jip saling berkomunikasi untuk menentukan tempat dimana kami turun dan setelah berkendara lebih kurang 15 menit, kami pun berhenti.

Tidak tahu dimana kami berhenti, setelah turun dari Jip, kami segera mempersiapkan lampu senter dan tas ransel. Sesuai instruksi dan arahan kami melangkah menapak menyusuri jalan menanjak dengan lampu senter kami dengan kanan kiri mirip tebing berpasir.  Ada tiga kali kami berhenti untuk beristirahat dan menghimpun energi menaklukkan tebing ini. Maklum usia kepala 5, membuat fisik agak menurun. Sepatu serasa berat karena landasan pasir membuat kaki menapak seperti menempel dan beberapa butiran pasir seperti ada yang masuk.
Akhirnya setelah berjalan kaki sekitar 15 menit, Mas Ranar Pradipto mengumpulkan kami di tempat yang agak lapang dan mencari posisi untuk memotret.

Nah, ternyata kami sudah sampai di Bukit Widodaren. Lokasinya berada di lereng gunung Bromo, ada bagian yang datar dan ada bagian celah celah bukit berupa jurang.

Mas Ranar meminta peserta untuk mencari lokasi memasang tripod dan teman teman diminta untuk merapatkan posisi tripod agar semua peserta mendapatkan posisi yang pas.  Disinilah saya menemukan salah satu rasa silaturahmi dan kekeluargaan serta semangat berbagi diantara para fotografer.  Mengatur sekitar 20 an orang fotografer untuk memasang tripod secara berjajar di lokasi yang sempit serta miring terjal bukan perkara mudah, untungnya semangat pertemanan dan kekeluargaan membuat kami saling berbagi tempat dan tidak menghalangi satu sama lain, meskipun dengan obyek yang sama.
Setelah menentukan posisi tripod, saya pun mulai memasang kamera, melakukan pengaturan kamera dan mencoba shutter beberapa kali mengarah ke arah terbitnya matahari. Kali ini saya menggunakan lensa 14 - 24 mm F 2.8 yang memang untuk memotret landscape. Ada yang bilang, lensa idaman landscaper.

Subhanallah, di ufuk timur, tampak cahaya berpendar berwarna orange dengan kabut yang menyelimuti lereng gunung. Sangat indah, sangat menakjubkan. Mas Ranar mulai memberikan mentoring untuk mengatuir settingan kamera.  Untuk settingan pertama, posisi di ISO 400, F paling besar saya di 2.8 dan mulai focusing.  Setingan tambahan di posisi Cloudy, kemudian Contrast di minus 3 serta saturasi di minus 3 dan Exposure time 10 - 13 detik. 

Di layar display tampak keindahan sunrise dengan warna orange kemarahan yang sangat indah. Kebesaran dan kekuasaan Tuhan menciptakan alam semesta.
Sesi pemotretan pertama adalah penunggang kuda yang menjadi Point of Interest dari pemandangan landscape dari matahari terbit ini.
Untuk sesi ini memang diperlukan tripod yang kokoh dan tidak goyang karena tiupan angin. 

Siluet penunggang kuda dan pergerakan kabut kadang membuat bayangan kadang jelas dan terkaang hilang sama sekali.  Cahaya matahari berwarna orange, kuning emas seperti terlihat menembus kabut tebal kadang hilang dan kadang muncul.  Kami berpacu dengan moment memotret dan dengan memilih angle yang tepat sesuai Rule of Third. 

Secara bertahap, langit pun mulai semakin terang, dan Mas Ranar pun memberi mentor pengaturan settingan kamera dan mengatur posisi dan pose penunggang kuda. 1 posisi dan pose kadang diulang hingga 3 kali, dan kadang sesuai permintaan fotografer.  Kami para fotografer tiada henti memotret dan mengeksplorasi keindahan nuansa bukit Widodaren dan POI sang penunggang kuda. 
Pola lereng bukit yang membentuk celah celah aliran lahar dan tebing yang curam membentuk garis garis indah dengan punggung bukit yang terkadang terisi dengan gumpalan awan dan kabut seperti membentuk layer layer atau lapisan yang sangat indah dengan pencahayaan dari sinar matahari yang menyusup dari celah celah bukit dan kabut. Menakjubkan. 
Sampai saatnya kami memegang kamera dengan Hand Held tanpa tripod, karena cahaya yang masuk ke kamera sudah cukup terang.

Settingan kamera untuk Hand Held di F 10 -14, ISO 200 - 400, Eksposure time 1/200 - 1/400 disesuaikan dengan kondisi pencahayaan.


Beberapa kali saya mengganti lensa dengan 24 - 120 mm dan 70 - 300 mm untuk memperoleh hasil yang maksimal.  Meskipun penggantian lensa ini cukup riskan dengan kondisi debu mikro gunung bromo yang bisa mengotori lensa.  Tapi saya mengambil resiko ini dan berjanji dalam hati akan membersihkan lensa begitu sampai di Hotel bahkan setelah sampai di rumah akan segera di bawa ke service lensa untuk lensa cleaning.
Posisi penunggang kuda juga dirubah mulai dari menaiki tebing dengan kuda dituntun, menaiki tebing dengan kuda ditunggangi dan posisi kuda diam menghalangi matahari untuk mendapatkan efek silhouette dan cahaya matahari muncul dari celah celah penunggang kuda.

Saya juga menyempatkan memotret Gunung Batok yang tepat berada di belakang kami. Alhamdulillah, pagi yang cerah untuk memotret dan memberikan efek pencahayaan yang sangat luar biasa. Gunung Batok tampak anggun dan gagah, warna vegetasi kehijauan yang mengisi dan tumbuh di celah celah lereng gunung batok memberikan efek dramatis yang sangat indah.
Dari Lereng Bukit Widodaren ini sebenarnya kami bisa memotret Pura Luhur Ponten, yang saya akhirnya tahu nama tempat kami berhenti dari Jip dan mulai berjalan kaki di gelap gulita. Sayangnya kabut yang tebal menutupi penampakan pura Luhur Ponten ini sehingga saya tidak mendapatkan foto yang menampakkan pura ini dari tebing Widodaren.

Setelah matahari sepenggalahan, kami pun mulai mengemasi peralatan kamera kami. Sesuai arahan, kami diminta berkumpul di tempat kami tadi berangkat. Nah, masalahnya kira kira dimana ya tadi kami memulai menapak berjalan kaki?

Saat mulai turun, saya baru menyadari dan menyaksikan medan yang kami tempuh tadi dini hari, memang berat dan posisinya seperti cekungan, pantas saja terlihat seperti tebing saat malam.  Sampai di pertengahan, tampak Pura Luhur Ponten yang masih berselimut kabut dan sangat cantik untuk difoto. Saya beberapa kali mengabadikan keindahan Pura ini.

Di sebelah kiri kami, tampak Gunung Batok yang tegak menjulang dengan jelas, sangat jelas. Saya mengucap syukur bisa menyaksikan kebesaran dan kekuasaan Tuhan. Takjub tiada henti. 
Sesekali kami berpapasan dengan wisatawan yang akan menuju ke puncak bromo, ada yang berjalan kaki dan ada yang menunggang kuda.  Saya berdoa semoga mereka tidak kepanasan di saat kunjungan menjelang siang ini.

Setelah berjalan kurang lebih 1 km, sampailah kami di deretan jip Hardtop warna warni sangat indah yang jumlahnya mungkin puluhan bahkan mendekati ratusan yang parkir berjajar mengantar dan menunggu para wisatawan yang berkunjung ke Taman Nasional Gunung Bromo Tengger.

PR saat sampai di parkiran Jeep ini adalah bagaimana caranya mencari jip yang kita tumpangi tadi pagi untuk lanjut ke sesi berikutnya.
Untungnya saya sudah menyimpan nomor HP Sang Driver, Mas Sutiko, yang dengan sigap menjawab dan mengarahkan saya ke tempat parkir jip.  Ternyata Mas Driver parkir tepat di depan penjual Sate Ayam Bromo. Cocok, perut lapar dan dahaga terbayarkan dengan menyantap seporsi Sate Ayam dan sebotol air mineral dengan disiram sedikit debu bromo.  Nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan, makan Seporsi Sate Ayam dengan latar belakang Gunung Bromo. Alhamdulillah.

Selanjutnya rombongan kami bergerak menuju pemotretan sesi kedua, yaitu pemotretan model dengan mentor Mbak Martha Suherman dan pemotretan model dengan mentor Om Darwis Triadi.

Foto konsep budaya dengan mentor Martha Suherman dilakukan di area Pasir berbisik dengan model wanita yang menunggang kuda putih.
Untuk foto konsepan prewedding di Savanna dimentori oleh Om Darwis Triadi hampir sama dengan konsepan kedua, seorang wanita dengan menunggang kuda putih.
Teman teman fotografer mengeksplore kedua sesi ini dengan semangat dan bunyi rana yang bersahutan menunjukkan antusiasme peserta sesi pemotretan.
Sekitar pukul 10.30 an, seluruh rangkaian acara selesai untuk siang ini dan akan dilanjutkan malam hari dengan workshop malam harinya.
Saya beserta rombongan sekitar jam 14.00 setelah istirahat dan sholat masih menyempatkan diri berkeliling Bromo, kembali menyusuri pasir berbisik hingga buki teletubbies.
Kembali Mas Sutiko mengantar kami berkeliling tentunya dengan kembali menyewa jipnya hingga sekitar pukul 15.00 untuk lanjut istirahat dan persiapan mengikuti sesi pemotretan Hunting Foto Konsep Budaya Bromo Tengger di Bukit Mentigen oleh mentor Rahmat Hidayat.

Sesi Photo Konsep Budaya Bromo Tengger

Sesi hunting foto Konsepan dengan tema semburan api dan tradisi ojung dari Bromo Tengger.

Pemotretan pertama, dua orang beraksi dengan peran Bujang Ganong, Patih Pujangga Anomyang memiliki keahlian bela diri dan mapu menahan serangan api.

Berikutnya aksi 2 orang yang sedang saling memukul tubuh engan rotan yang merupakan tradisi Ojung suku tengger.

Salah satu tradisi leluhur yang identik dengan kerajaan agraris.  Saat musim kemarau panjang tiba, budaya turun temurun berupa ritual meminta hujan. Tradisi Ojung merupakan salah satu budaya yang mungkin setiap daerah memiliki prosesi yang berbeda. 

Sesuai arahan dari Mas Rahmat Hidayat, kedua penari memamerkan keahlian mereka dan memang membuat para fotografer memburst kamera merak untuk menangkap moment dan mengabadikan gerakan gerakan yang cepat dan menarik.

Sesi ini berlangsung hingga pukul 18.00 dan kamipun kembali ke hotel untuk bersiap mandi, sholat dan menghadiri workshop.

Berikut dokumentasi dari para fotografer saat sesi konsepan tradisi








Belajar dari Seorang Fotografer

 


Workshop di hari kedua ini tidak kalah menariknya dengan workshop di hari pertama.

Sesi pertama diisi oleh Mas Ranar yang mempresentasikan Moment Terbaik untuk Foto Landscape atau Lansekap.  Slide demi slide yang disampaikan oleh Mas Ranar begitu menghipnotis kami untuk tetap duduk dan tidak beranjak walaupun dingin mendera.

Banyak pertanyaan yang dilontarkan oleh para peserta tentang bagaimana memotret lanscape, memotret milkyway, dan mengeksplore dan menentukan titik pilihan untuk memotret landscape.  Semuanya dijawab dengan jelas dan memuaskan peserta yang bertanya.

Sesi berikutnya dilanjutkan oleh Martha Suherman dengan tema Membuat Foto Konseptual. Beliau mendeskripsikan pemotretan studio untuk membuat bayangan seolah olah menjadi foto dengan obyek ganda.  2 buah lampu dipersiapkan untuk demonstrasi ini. 1 lampu continuous dan 1 lampu flash. Sekali lagi Pak Alain Compost menjadi model untuk demo pemotretan ini.  Dengan penuh senyuman dan tetap semangat, beliau bergegas menaiki panggung dan berpose sesuai arahan Martha Suherman. Beberapa kali percobaan dilakakukan, dan semapt beberapa kali belum memuaskan sampai hingga akhirnya pas, sesuai dengan tema.

Saya perhatikan, dari awal sesi hingga akhir sesi workshop, jumlah peserta tetap dan tidak berkurang sedikitpun.  Peserta JNFI 2022 tetap antusias hingga akhir acara. Sekitar pukul 23.00, sesi workshop diakhiri dengan informasi untuk kegiatan sesi pemotretan di Bukit Mentigen.

Saya dan Pak Yusti sebelum berangkat sudah berencana untuk memotret Milkyway di area Bromo yang terkenal spektakuler setelah acara workshop. Peralatan kamera dan tripod sudah kami persiapkan sejak berangkat mengikuti workshop.

Lokasi pemotretan Milkyway kami pilih di dekat gerbang, sisi paling pinggir dari Gazebo yang tersedia. Kami bertiga, Eko, Yusti dan Pak Mahargiyanto memasang tripod di lokasi yang terbuka dan posisi datar.  Kamera saya lengkapi dengan lensa wide 14 - 24 mm F 2.8. Diantara kabut melintas dan mobil jeep yang keluar masuk di area gunung bromo, saya pun mendapatkan beberapa foto yang menurut saya lumayan.

Setelah beberapa kali jepret dan jam sudah menunjukkan pukul 01.00. kami pun mengakhiri sesi pemotretan Milkyway untuk mempersiapkan pemotretan sunrise  esok hari di Bukit Mentigen. 

Memotret Sunrise di Bukit Mentigen
Setelah sholat subuh, kami bergegas menuju ke bukit mentigen untuk mengabadikan moment matahari terbit dan aktifitas kawasan Bromo di saat pagi.

Saya dan Pak Yusti berencana akan memotret sunrise di Bukit Mentigen yang lokasinya di arah belakang Hotel Lava View Bromo.
Awalnya kami berkalan kaki dengan penuh semangat, tetapi di sepertiga perjalanan, tas kamera kami semakin lama kok semakin berat ya. Nah, ini artinya kami sudah kelelahan.  Akhirnya perjalanan menuju puncak kami lanjutkan dengan bantuan Bapak Ojeg dengan ongkos Rp. 20 k per orang. Pasrahhhhh

Kami berpapasan dengan beberapa orang yang sudah mulai beranjak turu dari puncak dan beberapa pengunjung yang masih memiliki tenaga untuk berjalan kaki menuju puncak.
 
Sesampai di atas, pengunjung masih penuh dan kebanyakan sudah memasang tripod mereka untuk mengabadikan keindahan sunrise di kawasan bromo tengger.  Memang luar biasa indah dan tidak bisa diucapkan dengan kata kata.  Nanti kami wakili dengan foto yang indah.   



Informasi Jambore Nasional Fotografer Indonesia 2022  

Pernak Pernik Informas JNFI - Sumber Instagram Fotografer Indonesia
Sobat FI.....
kalo kamu mengaku sebagai FOTOGRAFER INDONESIA, acara ini wajib kamu ikuti!
Dan perluaslah jejaring fotografi mu dengan bertemu dan berkumpul dengan teman-teman fotografer dari seluruh Indonesia.

JNFI 2022 akan dihadiri oleh banyak fotografer profesional dan terkenal di tanah air ini.

Daftar jadi peserta JNFI 2022, sekarang juga!

Di JNFI 2022 kamu bisa belajar ilmu fotografi dan langsung bisa terapin bareng profesional mentor, sekaligus mengeksplor keindahan Gunung Bromo yang terkenal akan alam serta budayanya bersama para fotografer dari seluruh kota Indonesia. Jadi, sekali daftar bisa belajar sekalian bangun networking. Mantep banget ngga tuh?


Dengan mendaftar di JNFI 2022, kamu udah dapet akses ke seluruh kegiatan di JNFI 2022, ditambah merchandise JNFI 2022 (T-shirt & Majalah MATA) dan paket produk dari Consina senilai 500 ribu!

JAMBORE NASIONAL FOTOGRAFER INDONESIA (JNFI) 2022
Bromo, 26-28 Agustus 2022


1.000 Fotografer
1.000 Kamera dan Lensa
1.000 Harapan Fotografi Indonesia


Daftar JNFI 2022 : bit.ly/JNFI2022
Info lebih lanjut : (WA) 0811-2606-900





Sekian hari sebelum pendaftaran JFNI 2022

21 Hari Sebelum hari Pemotretan
21 Day to JNFI 2022

Sobat FI.....
21 hari menuju Jambore Nasional Fotografer Indonesia 2022.

Persiapkan diri kalian untuk acara seru ini yaa!! khusus untuk yang ngaku sebagai fotografer Indonesia 😊😊

20 Hari Sebelum hari Pemotretan
20 HARI LAGI MENUJU JNFI 2022

Sobat FI.....
saatnya kita kibarkan bendara Fotografi Indonesia dan menyatukan seluruh Fotografer dari seluruh Indonesia.

20 Hari menuju JNFI 2022, mari kita ramaikan dan sukseskan pagelaran ini, dengan menjalin silaturahmi dan memperluas jejaring fotografi kita kepada seluruh teman-teman fotografer dari seluruh Indonesia.
SUKSES!!

Model Cantik : @marthasuherman
Lokasi : Pasir Berbisik Bromo

19 Hari Sebelum hari Pemotretan
19 HARI MENUJU JNFI 2022

Sobat FI.....
19 hari lagi kita akan berjumpa di Jambore Nasional Fotografer Indonesia (JNFI) 2022 di Bromo.

Yookk....persiapkan diri kalian semua dalam kegiatan JNFI 2022, dan ramaikan ajang bertemu seluruh fotografer dari seluruh Indonesia ini. Kita perluas jejaring fotografi kita dan warnai Indonesia dengan fotografi.

Link Pendaftaran JNFI 2022 :
bit.ly/JNFI2022

JAMBORE NASIONAL FOTOGRAFER INDONESIA 2022
Bromo, 26-28 Agustus 2022

1.000 Fotografer
1.000 Kamera dan Lensa
1.000 Harapan Fotografi Indonesia

18 Hari Sebelum hari Pemotretan
18 HARI MENUJU JNFI 2022

Sobat FI.....
keindahan Bromo sudah terkenal di mancanegara dan merupakan destinasi favorite kunjungan para turis luar negeri.

Setiap pagi Bromo menampakkan senyum manisnya, meneduhkan jiwa dan merefresh raga agar selalu bersyukur akan ciptaanNya.

Bromo dan Semeru ibarat sejoli yang selalu beriringan menikmati pagi, mengarungi hari, dan menunggu senja ketika berpulang ke peraduannya.

Tidakkah kamu kangen dengan Bromo?


17 Hari Sebelum hari Pemotretan
17 HARI MENUJU JNFI 2022

Sobat FI.....
selain keindahannya, Bromo juga memiliki kearifan lokal. Diantaranya ada budaya dan adat istiadat masyarakat Suku Tengger. Cerita tentang masyarakat Suku Tengger pernah diulas di Majalah MATA edisi 08, fotograferindonesia.com/majalahmata.html

Dan juga adanya beberapa cerita mistis yang selalu kita dengar pada saat kunjungan kita ke Bromo.

Sobat FI... kalau kamu pernah dengar atau bahkan mengalami cerita atau kejadian-kejadian mistis selama berkunjung di Bromo, cerita di kolom komentar yaa 😊

(cerita mistis tidak harus serem, yang lucu-lucu juga ada) πŸ˜‚πŸ˜‚

16 Hari Sebelum hari Pemotretan

16 HARI MENUJU JNFI 2022

BUJANG Ganong dikenal dengan nama Patih Pujangga Anom. Konon di Jawa Timur sebelum nama Ponorogo sudah ada sebuah kerajaan besar bernama Bantaran Angin.

Dalam seni Reyog Ponorogo tokoh Bujang Ganong ini digambarkan sebagai tokoh yang memiliki gerak energik, lincah, dan bersemangat dalam kehidupan

Sosok ini juga kocak atau lucu namun berkemampuan hebat dalam hal seni bela diri. Bujang Ganong menggambarkan seorang patih muda yang cekatan, berkemauan keras, cerdik, dan sakti.

Sosok Bujang Ganong digambarkan bertubuh kecil, pendek dan berwajah buruk. Hidungnya besar, mata bulat besar melotot, bergigi tonggos dan berambut gimbal.

Bujang Ganong hanya menjadi pelengkap jenaka penghibur penonton, untuk mencairkan suasana. Ia menari dan bertingkah sekehendak hati dengan iringan gamelan, terkadang menggoda barongan (reyog).

Teks : harianmerapi.com

15 Hari Sebelum hari Pemotretan
15 HARI MENUJU JAMBORE NASIONAL FOTOGRAFER INDONESIA (JNFI) 2022

Bromo, 26-28 Agustus 2022

1.000 Fotografer
1.000 Kamera dan Lensa
1.000 Harapan Fotografi Indonesia

14 Hari Sebelum hari Pemotretan

GIVEAWAY JAKET & TAS PINGGANG KEREN CONSINA

Sobat FI...
syarat mendapatkan Giveaway ini kamu harus follow aku instagram dari :
- Consina @consinaofficial
- Yayasan Fotografi Indonesia @yayasanfotografi_indonesia
- Fotografer Indonesia @fotograferindonesia__
- Majalah MATA @majalah_mata

Pertanyaannya adalah, sebutkan berapa jumlah mobil Jip Hardtop dalam foto ini?.
Tulis jawabanmu dalam kolom komentar ya. Jawaban yang sama akan kami undi untuk menentukan pemenangnya.

Keputusan juri mutlak tidak dapat diganggu gugat. Program Giveaway ini akan ditutup pada hari Minggu (14/08/2022) pukul 23.55 WIB.

Foto produk Jaket dan Tas Pinggang Consina ada di postingan kami sebelumnya.

13 Hari Sebelum hari Pemotretan
13 HARI MENUJU JNFI 2022

Sobat FI...
sebentar lagi kita akan berkumpul dan memeriahkan Jambore Nasional Fotografer Indonesia (JNFI) 2022, persiapan apa saja yang sudah kamu siapkan untuk acara besar ini?.

Tulis persiapanmu di kolom komen ya Sob!.😊

12 Hari Sebelum hari Pemotretan

12 HARI MENUJU JNFI 2022

Sobat FI....
eksotika Bromo yang mempesona membuat fotografer tak akan pernah melewatkan moment sunrise di Bromo.

Seorang fotografer dari Finlandia ini nekat memanjat pohon di tebing Penanjakan karena ingin mengabadikan keindahan matahari terbit di Bromo (foto diambil 15 September 2012).

Kamu pasti juga mempunyai cerita seru untuk mendapatkan moment, angle dan komposisi terbaik ketika memotret sunrise di Bromo.

11 Hari Sebelum hari Pemotretan

11 HARI MENUJU JNFI 2022

Sobat FI....
Jambore Nasional Fotografer Indonesia (JNFI) 2022, tinggal 11 hari lagi. Yang belum melakukan registrasi, buruan yaa!!.

Kalian akan mendapatkan bundling produk Consina @consinaofficial senilai Rp500.000 dan Tshirt JNFI beserta Majalah MATA yang keren semua.

So, jangan sampai kelewatan acara ini. Karena ini Jambore yang pertama untuk semua Fotografer di Indonesia.

10 Hari Sebelum hari Pemotretan

10 HARI MENUJU JNFI 2022

Sobat FI....
konon, dulu para leluhur Suku Tengger bersemayam di gunung-gunung, mereka melihat dan memberikan kemakmuran untuk masyarakat Suku Tengger.

Maka di kaki Gunung Bromo dibangunlah Pura Luhur Poten sebagai tempat persembahyangan umat Hindu Tengger.

Pura ini dibangun oleh umat Hindu Tengger untuk menyembah Dewa Brahma.

Yookk....Sobat FI, kita berkunjung ke tempat yang super exotic ini, tak hanya keindahannya, tradisi dan budayanya masih tetap terjaga dan menjadi harmonisasi alam yang menyatukan Bromo dan warga di kawasan Tengger, untuk selalu berdampingan dan menjadi kearifan lokal.

9 Hari Sebelum hari Pemotretan
DIRGAHAYU REPUBLIK INDONESIA KE-77

Pulih Lebih Cepat
Bangkit Lebih Kuat

Fotografi Mewarnai Indonesia

8 Hari Sebelum hari Pemotretan

8 HARI MENUJU JNFI 2022

Sobat FI...
semoga selalu dalam kondisi sehat selalu dan bahagia tanpa batas.

Tetap jaga kesehatan, karena sebentar lagi kita bersua diajang fotografi terbesar dan pertama di Indonesia.

Jadikan bagian dirimu dalam sejarah membangun jejaring fotografi secara nasional dan membuat perubahan pergerakan fotografi di Indonesia.

Bersama kita bisa, bersama kita warnai Indonesia melalu Fotografi.

7 Hari Sebelum hari Pemotretan

7 HARI MENUJU JNFI 2022

Siang-siang jajan es kopi
Minumnya diseruput sambil berdiri
tjakep..
Cuman mau ingetin nih, Sobat FI
Kalau JNFI tinggal seminggu lagi πŸ˜†

6 Hari Sebelum hari Pemotretan

6 HARI MENUJU JNFI 2022

Pengunjung sedang menuju ke kawah Bromo. Untuk bisa naik ke atas, wisatawan harus melewati ratusan anak tangga. Namun, tahukah kamu bila jumlah setiap anak tangga kerap berubah-ubah?

Dalam literatur, bahkan jumlah anak tangga ini disebutkan berbeda-beda. Ada yang menyebutnya 240, 250, sampai 260. Melansir detik.com, hingga kini wisatawan yang naik ke kawah secara sengaja sering menghitung jumlah anak tangga. Hanya saja, hasilnya tetap berbeda-beda (meski dilakukan secara bersamaan).

Sementara itu, dijelaskan oleh Supoyo, Tokoh adat Suku Tengger bahwa perbedaan jumlah anak tangga menuju kawah Bromo merupakan benar adanya. Selain akibat jaraknya yang jauh sehingga menyebabkan para wisatawan lelah dan tidak fokus, menurutnya hal ini juga diyakini sebagai kesakralan Gunung Bromo.

Kalau wisatawan kawah Bromo suka ngitungin jumlah anak tangga, mimin paling suka ngitungin hari buat ngingetin kalo sebentar lagi kita bakal ketemu di acara JNFI 😘

5 Hari Sebelum hari Pemotretan

5 HARI MENUJU JNFI 2022

Sobat FI...

tahu gak kamu kalau ada destinasi lain di Bromo selain Bukit Penanjakan, Seruni, Pasir Berbisik, Savanna dan Kawah Bromo?.

Ada spot lain yang menarik yang bisa kita kunjungi untuk menikmati sunrise di pagi hari, yaitu Pasir Widodaren.

Pasir Widodaren lokasinya tidak jauh dari Gunung Bromo dan Gunung Batok, biasanya selalu dilewati ketika kita mau menuju ke arah Bukit Penanjakan.

Dan lokasi Pasir Widodaren ini akan menjadi salah satu spot hunting foto bersama mentor professional kita Ranar Pradipto @ranarpradiptoindonesia .

4 Hari Sebelum hari Pemotretan

4 HARI MENUJU JNFI 2022

Sobat FI...

salah satu spot favorite di Bromo adalah Padang Savana, dulu orang banyak menyebutnya lembah Teletabbies karena rumput/semaknya mirip dalam film serial tersebut.

Tapi pernahkah Sobat FI tahu? bahwasannya Padang Savana ini pernah terbakar hebat pada Januari 2015, yang membakar hampir dua pertiga kawasan ini.

Namun walaupun dalam kondisi terbakar, kawasan ini masih tetap banyak pengunjungnya. Dan hal ini yang menjadi konsen dari pihak Taman Nasional Bromo Tengger Semeru @bbtnbromotenggersemeru dalam mengelola kawasan taman nasional ini, untuk tetap memperhatikan lingkungan hidup dan konservasi flora faunanya agar mempunyai keseimbangan alam dan tetap lestari.

3 Hari Sebelum hari Pemotretan

3 HARI MENUJU JNFI 2022

Sobat FI...

salah satu spot favorite di Bromo adalah Padang Savana, dulu orang banyak menyebutnya lembah Teletabbies karena rumput/semaknya mirip dalam film serial tersebut.

Tapi pernahkah Sobat FI tahu? bahwasannya Padang Savana ini pernah terbakar hebat pada Januari 2015, yang membakar hampir dua pertiga kawasan ini.

Namun walaupun dalam kondisi terbakar, kawasan ini masih tetap banyak pengunjungnya. Dan hal ini yang menjadi konsen dari pihak Taman Nasional Bromo Tengger Semeru @bbtnbromotenggersemeru dalam mengelola kawasan taman nasional ini, untuk tetap memperhatikan lingkungan hidup dan konservasi flora faunanya agar mempunyai keseimbangan alam dan tetap lestari.

2 Hari Sebelum hari Pemotretan

2 HARI MENUJU JNFI 2022

Sobat FI...milkysway diatas Bromo

1 Hari Sebelum hari Pemotretan

22 Agustus 2022, Pendaftaran ditutup

Penutupan Pendaftaran








CAMPING GROUND JNFI 2022

Sobat FI....
buat kalian yang hobi berpetualang dan seneng camping di alam terbuka!.

Panitia JNFI 2022 sudah menyiapkan lahan Camping Ground buat para peserta JNFI 2022 di Bukit Mentigen Bromo, namun, untuk kebutuhan tenda bawa sendiri ya Sob! 😊

Lewat JNFI 2022, hobi fotografi dan adventure mu akan tersalurkan maksimal,
lepas berkreasi tanpa batas.





Berikut RUNDOWN JNFI 2022

Sobat Fotografer Indonesia......
selama tiga hari dua malam kita akan melakukan berbagai rangkaian kegiatan Jambore Nasional Fotografer Indonesia 2022.

Mulai dari sharing bersama fotografer ternama, mengikuti pembelajaran di kelas-kelas workshop, hunting foto bareng fotografer profesional, hingga ajang kontes fotografi yang bernilai total puluhan juta rupiah.

Jangan lewatkan ajang kopdar fotografer terbesar di Indonesia ini, dan luaskan jejaring fotografi mu di JNFI 2022 dengan bertemu para fotografer dari seluruh Indonesia.

Kesempatan jadi peserta Jambore Nasional Fotografer Indonesia (JNFI) 2022 masih terbuka ya!
Daftar di: bit.ly/JNFI2022
Info lebih lanjut : (WA) 0811-2606-900

Segera daftarkan diri kamu dan sampai jumpa di JNFI 2022!

Mentor Fotografer Profesional :
- Darwis Triadi @darwis_triadi
- Arbain Rambey @arbainrambey
- Martha Suherman @marthasuherman
- Ranar Pradipto @ranarpradiptoindonesia
- Rahmad Hidayat @rahmadswi

Mentor
Martha Suherman
Siapa yang tak kenal dengan Martha Suherman @marthasuherman , seleb fotografer perempuan yang sangat terkenal, yang sering berbagi ilmu fotografi di channel Youtube nya.
Pada ajang JNFI 2022 ini, Martha Suherman akan menjadi mentor kita dalam acara workshop dan hunting bareng di Bromo.


Ranar Pradipto
Salah satu fotografer profesional yang akan meramaikan Jambore Nasional Fotografer Indonesia (JNFI) 2022, adalah Ranar Pradipto @ranarpradiptoindonesia.

Ranar Pradipto adalah Travel Photographer yang telah menempuh perjalanan di lebih dari 25 provinsi di Indonesia. Kecintaannya akan keindahan alam nusantara serta konsistensinya dalam berkarya mengantarkan menjadi seorang profesional yang cukup diperhitungkan. Jejaknya dituangkan dalam hasil karya fotografi yang juga membuatnya meraih banyak penghargaan.

Pada ajang JNFI 2022 ini, Ranar Pradipto akan hadir sebagai pembicara workshop dan mentor hunting foto.

9 Fotografer Profesional :
- Nurulita Andriani R @nurulitanuli
- Roy Genggam @roygenggam
- Yulianus Ladung @yulianusladung
- Bonfilio Yosafat @bonfilioyosafat
- Imran Rosadi @imranrosadi_imee
- Misbachul Munir @munirkwnol
- Marrysa Tunjung Sari @poeticpicture
- Irwandi @irwandioldprint
- Andiyan Lutfi @andiyanlutfi

Yulianus Ladung
BROMO KEBANGGAAN INDONESIA

Salah satu fotografer profesional yang akan meramaikan Jambore Nasional Fotografer Indonesia (JNFI) 2022, adalah Yulianus Ladung @yulianusladung .

Yulianus Ladung adalah fotografer industrial yang sudah banyak mengerjakan kegiatan fotografi untuk Migas di Indonesia dan juga fotografi komersial.

Yulianus Ladung juga banyak berbagi tentang info dan ilmu fotografi di channel Youtube nya.

Pada ajang JNFI 2022 ini, Yulianus Ladung akan hadir untuk bersilaturahmi dan berbagi ilmunya dengan teman-teman fotografer dari seluruh Indonesia.

Fotografer Tamu Special :
- Don Hasman @donhasman
- Alain Compost @alaincfilms
- Guntur Soekarno

Don Hasman
JAMBORE NASIONAL FOTOGRAFER INDONESIA (JNFI) 2022

Don Hasman @donhasman adalah seorang tokoh fotografi legendaris Indonesia kelahiran 7 Oktober 1940 (81 tahun). Ia tercatat sebagai salah satu dari 100 Famous Photographer in The World oleh pemerintah Prancis.

Pada JNFI 2022, Don Hasman @donhasman, sosok yang sering disebut-sebut bapak etnofotografi Indonesia ini akan hadir sebagai fotografer tamu untuk membagi pengalaman dan ceritanya kepada teman-teman Fotografer Indonesia.

Alain Compost
Sobat Fotografer Indonesia.....
Jambore Nasional Fotografer Indonesia (JNFI) 2022, akan dimeriahkan dengan kehadiran Alain Compost @alaincfilms "Si-Pembawa Pesan Konservasi Indonesia".

Alain Compost adalah salah satu wildlife photographer terkenal di dunia dan sudah lama menggeluti genre ini selama 40 tahun lebih.⁣

Alain Compost memulai kariernya dari seorang penjaga kebun binatang di Paris. Dan perjalanan wildlife-nya, dia mulai dari memotret Orang Utan di belantara hutan Sumatra di tahun 70-an, dan sekarang beliau sedang sibuk menyusun buku biografinya yang akan segera diterbitkan.

Guntur Soekarno
JAMBORE NASIONAL FOTOGRAFER INDONESIA (JNFI) 2022
Guntur Soekarno adalah fotografer senior yang sangat aktif, beliau mulai memotret sejak kelas 6 SR (Sekolah Rakyat) di tahun 1956, ketika mendapat hadiah berupa kamera Kodak Instamatic Babybox dari Bung Karno untuk kenaikan kelasnya .

Putra sulung Presiden pertama Indonesia, Ir. Soekarno ini, sampai sekarang masih aktif memotret dan menulis. Karya foto dan artikel terbarunya di terbitkan di Majalah Tatler Indonesia pada bulan Mei 2022 dengan judul INDONESIA'S, yang berisi foto-foto dan artikel tentang Bapak Jokowi dan Indonesia.

Dalam JNFI 2022, Guntur Soekarno yang sekaligus menjabat sebagai Ketua Dewan Kehormatan Yayasan Fotografi Indonesia @yayasanfotografi_indonesia akan hadir sebagai tamu spesial bareng Don Hasman @donhasman dan Alain Compost @alaincfilms untuk memeriahkan acara JNFI 2022.

Acara ini didukung oleh :
- Kemenparekraf @kemenparekraf.ri
- TNBTS @bbtnbromotenggersemeru
- Consina @consinaofficial
- Tamron @tamronid
- HP Inc. @hpindonesia
- Printmate @printmateofficial
- Citraland Puncak Tidar Malang @citralandpuncaktidarmlg
- Fotografer Indonesia @fotograferindonesia__
- YFI @yayasanfotografi_indonesia
- Majalah MATA @majalah_mata








Hastag JFNI 2022
#JNFI2022
#jnfi2022
#jamborenasionalfotograferindonesia2022
#fotograferindonesia
#majalahmata
#yayasanfotografiindonesia
#programdosentamumata
#mataacademy
#jejaringnasionalfotografiindonesia
#fotografimewarnaiindonesia
#consina
#consinaofficial
#consinaadventure
#consinaoutdoor
#consinaindonesia
#tnbts
#bromo
#semeru
#pesonaindonesia
#indonesia
#adventure
#jambore
#camping
#photography
#fotografi
#professionalphotographer
#workshop
#lombafoto

Kisah Perjalanan Menuju dan Kembali dari Acara JFNI 2022


Proses Pendaftaran
Ok, sebelumnya saya sampaikan pengamalan proses mengikuti mengikuti JFNI 
Proses Pendaftaran

Biaya Pendaftaran : Rp. 750.000,-, Pendaftaran : 1.270.000, termasuk penjemputan.
Pengianapan : Rp. 427.500 per orang per2 malam


Perjalanan Berangkat dari Stasiun Gambir, Jakarta
Setelah membahas mengenai JFNI dengan segala pernak perniknya berikut ini saya akan bercerita pengalaman saya mengikuti JFNI dari mulai berangkat dari Jakarta hingga sampai di Jakarta Kembali.

Kami, karena saya, Eko dan Yusti bersama mengikuti JNFI berangkat dari Stasiun Gambir dan menggunakan kereta Agrobromo Anggrek yang tiketnya sudah kami beli jauh jauh hari karena takut kehabisan.

Saat berangkat dari Stasiun Gambir kami pun sudah bertemu beberapa peserta JNFI yang juga berada dalam 1 gerbong dengan tujuan Stasiun Pasar Turi. Tepat pukul 20.35, KA Agrobromo beranjak bergerak menuju Stasiun Pasar Turi, Surabaya, Jawa Timur. 

Sekitar 8 jam kami tempuh perjalanan dengan kereta Api dari Stasiun Gambir hingga stasiun Pasar Turi.

Tepat sesuai jadwal, pukul 04.45 WIB, KA Agrobromo Anggreka kami menyentuh rel kereta Stasiun Pasar Turi.  Kami tenang menunggu seluruh penumpang turun, karena kami berencana sholat subuh terlebih dahulu baru menuju titik kumpul.

Bergantian dengan Pak Yusti, saya melaksanakan sholat subuh.

Sekitar pukul 06.00, kami keluar menuju selasar Stasiun Pasar Turi untuk bertemu dengan para peserta lain yang sudah berkumpul menunggu mobil jembuatn.

Pak Rismie dan Hiace sudah siap mengantar kami menuju Bromo.  Sebelum naik,kami diabsen sekaligus dibagi goody bag yang berisi jaket, tas kecil, dan name tag peserta JNFI 2022.

Jam 07.00 kami berangkat menuju Bromo dan sudah membayangkan akan seera memotret di sana. Sayangnya pas di tol, ban kami bocor terkena ranjau paku atau besi yang aneh bentuknya dan harus ditambal dari luar dalam alias tip top. 

Kami sabar dan mungkin ada hikmahnya, atas ban bocor ini. Perjalanan menuju bromo dilanjutkan dan kami sampai di Hotel sekitar pukul 12.00, siap untuk makan siang. Persiapan acara pembukaan. jam 15.00 WIB 

Pengalaman menikmati Bakso terenak di dunia. Di ketinggian gunung Bromo. mantap

Perjalanan Pulang dari Stasiun Pasar Turi, Surabaya
Setelah acara JNFI 2022 selesai ditandai dengan penutupan di aula hotel Lava View, kami segera balik ke Hotel untuk berkemas.

Kami dijemput  Mas Kelvin sekitar pukul 16.00 untuk melanjutkan perjalanan ke Stasiun Pasar Turi.  Kereta Agrobromo kami berangkat dari Stasiun Pasar Turi pukul 21.05 dan akan tiba di Stasiun Gambir pukul 05.15 WIB 

Mas Driver sangat lihai membawa mobil Hiace yang sama dengan yang mengantar kami ke bromo saat keberangkatan. Sekitar pukul 19.25, mobil sampai di Stasiun Pasar Turi dan kami bergegas turun untuk segera mengeprint tiket kereta kami.

Kami sempat menikmati Roti O dan Pak Yusti membelikan kami Ayam Geprek di Swalayan sebagai bekal kami nanti di kereta.

Tepat pukul 21.05, KA Agrobromo bergerak meninggalkan Stasiun Pasar Turi menuju Stasiun Gambir, Jakarta.

Tepat pukul 05.15, roda kereta Agrobromo berhenti di Stasiun Gambir dan kami bergegas turun.  Baru sampai peron sebelum tangga turun, saya baru sadar kalau tripod Sirui kesayangan saya tertinggal di kereta. Buru buru saya berlari menjemput tripod saya dan di dekat pintu Gerbong 1, petugas sudah memgang tripod saya dan yakin kalau pemiliknya akan kembali dan mengambilnya. Keren.

Sholat subuh, lanjut perjalanan pulang.
Tetap Semangat, Pengalaman yang Indah mengikuti JNFI 2022. Bravo.   



Dokumentasi JFNI








Sumber tulisan:
  • Pengalaman Pribadi
  • Jambore Nasional Fotografer Indonesia
  • Yayasan Fotografer Indonesia
  • WA Group JNFI 2022
  • Instagram @fotograferindonesia
Sumber foto :
  • Koleksi Pribadi
  • WA Group JNFI 2022
  • Ig @fotograferindonesia





















































































Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "Pengalaman Mengikuti JNFI Jambore Nasional Fotografer Indonesia 2022"

Post a Comment

Terima kasih atas kunjungan teman teman, semoga artikel bermanfaat dan silahkan tinggalkan pesan, kesan ataupun komentar.

Popular Posts