Tugu Prasati Plasma Nutfah Kelapa Sawit Indonesia, Mengenang nenek Moyang Kelapa Sawit Indonesia

Tugu Prasati Plasma Nutfah Kelapa Sawit Indonesia
Mengenang Nenek Moyang Kelapa Sawit Indonesia
Pusat Konservasi Tumbuhan Kebun Raya Bogor - Lipi
Kebun Raya Bogor Indonesia

 

Tugu Prasati Plasma Nutfah Kelapa Sawit Indonesia

Di Kebun Raya Bogor, di dekat titik Kelapa Sawit yang pertama kali ditanam di Kebun Raya Bogor, didirikan Monumen Kelapa Sawit.


Di papan petunjuk tertulis Monumen Kelapa Sawit.
Monumen ini dibangun untuk mengenang Induk Pohon Kelapa sawit tertua di Asia Tenggara yang ditanam pada tahun 1848.
Ribuan keturunanya telah disebarluaskan ke seluruh Indonesia bahkan ke Asia Tenggara.
Untuk mengenangnya, Monumen Kelapa Sawit ini dibangun pada tahun 2013.


Selanjutnya di badan Tugu Prasasti Kelapa Sawit bertuliskan


Pada tahun 1848, di area ini ditanam untuk pertama kali 4 bibit Kelapa Sawit (Elaeis guineensis Jacq.) yang didatangkan dari Afrika Barat. 

Pada tahun 1911, turunannya mulai turunannya mulai dibudidayakan secara komersial di Sumatera Utara. Kini telah berkembang menjadi perkebunan  perkebunan besar yang menempatkan Indonesia sebagai produsen minyak sawit nomor satu di dunia.

Membaca dan melihat Monumen ini, saya sebagai seorang Agronomi sangat terharu dan bangga menjadi bangsa Indonesia.

Plasma nutfah sebagai nenek moyang Kelapa Sawit Indoensia ditanam tahun 1848 di Kebun Raya Bogor telah melahirkan sekitar 12 juta ha Kebun Kelapa Sawit  mulai dari Aceh hingga Papua.

Nenek Moyang Kelapa Sawit tersebut sudah punah sejak tahun 1995.  Saat saya masih kuliah dan praktikum Tanaman Perkebunan, saya masih bisa menyaksikan tanaman Nenek Moyang Kelapa Sawit ini, tetapi karena keterbatasan alat dokumentasi, saya tidak mendokumentasikannya.

Tanggal 18 Mei 2017, 8 varietas buyut keturunannya ditanam kembali di Kebun Raya Bogor dalam acara Sawit Pulang Kampung  bertepatan dengan ulang Tahun Kebun Raya Bogor ke 200 tahun alias 2 abad Kebun Raya Bogor. 

Baca juga : Monumen Pendiri Kebun Raya Bogor

Sebagai informasi bahwa Kelapa Sawit (Elaeis guineensis) yang dalam pemeriaan  Elaeis dari bahasa Yunani, artinya minyak adalah genus dari Arecaceae yang. Tumbuhan ini digunakan untuk usaha pertanian komersial dalam produksi minyak sawit. Kelapa sawit Afrika Elaeis guineensis nama spesies guineensis mengacu pada negara asalnya adalah sumber utama minyak kelapa sawit.

Kebanggaan saya adalah ternyata bangsa Indonesia menjadi bangsa Agraris yang berhasil menjadikan Kelapa Sawit menjadi tanaman industri terbesar di Dunia hanya dari modal 4 tanaman kelapa sawit.

Anda bisa bayangkan betapa pelaku pertanian dan perkebunan telah bekerja keras sehingga Indonesia menjadi produsen Minyak Kelapa Sawit nomor 1.





Kelapa sawit merupakan tumbuhan industri sebagai bahan baku penghasil minyak masak, minyak industri, maupun bahan bakar. Kelapa sawit ini memiliki peranan yang penting dalam industri minyak yaitu dapat menggantikan kelapa sebagai sumber bahan bakunya.

Berdasarkan ketebalan endokarpnya, kelapa sawit digolongkan menjadi tiga varietas yaitu Dura, Pisifera, dan Tenera, sedangkan menurut warna buahnya, kelapa sawit digolongkan menjadi tiga varietas yaitu Nigrescens, Virescens, dan Albescens.

Bibit kelapa sawit unggulan salah satunya Dura Deli. Dura Deli merupakan keturunan langsung generasi ke-4 dari plasma nutfah yang ditanam di Kebun Raya Bogor pada 1848.

Hampir semua pengembangan pemuliaan tanaman dan pengembanganbiakan varietas baru kelapa sawit menggunakan varietas induk Dura Deli.

Peran Kebun Raya, plasma nuftah sawit sebagai nenek moyang sawit yang ditanam di Kebun Raya Bogor merupakan tanaman adaptif dan mampu tumbuh dengan baik.

Hasil penelitian sawit yang bermula dari empat pohon asal Afrika di Kebun Raya Bogor itu, kini mampu mengubah wajah perekonomian Indonesia menjadi lebih baik

Kalau dikaitkan dengan dibangunnya Kebun Raya Bogor pada tahun 1817, dan 1848 diintroduksi oleh pengelola Kebun Raya Bogor untuk dijadikan koleksi dengan menanam 4 (empat) biji atau benih buah Kelapa Sawit yang dibawa dari Afrika Barat Daya.

Perhatikan :  4 Biji - Benih kelapa Sawit

yang saat ini menjadi lebih kurang 12 juta hektar Perkebunan Kelapa Sawit.

Penanaman 4 biji dan menjadi bibit kelapa sawit di Kebun Raya Bogor saat itu  merupakan program dari koleksi plasma nutfah dan juga sebagai proses aklimatisasi atau adaptasi lingkungan tumbuh tanaman kelapa sawit di Indonesia yang mungkin saat itu belum merdeka.

Peran ahli botani menjadi sangat penting dan krusial walaupun hasilnya terlihat setelah sepuluh tahun, seratus tahun bahkan 2 abad.    

Menurut informasi, awalnya Tanaman Kelapa Sawit dari Kebun Raya Bogor, awalnya dikembangkan untuk tanaman hias atau Ornamental Plant di berbagai daerah di Indonesia dan Budidaya Kelapa Sawit pertama kali dalam bentuk Perkebunan Komersial di uji coba di Pulu Raja, Sumatera Utara tahun 1911.

Tidak heran mengapa Tanaman Kelapa Sawit pusat penelitiannya ada di Tanjung Morawa Sumatera Utara dan meluas ke seluruh Indonesia bahkan ke seluruh dunia.

Pada tahun 1918, uji coba budidaya komersial berhasil dan dilanjutkan dengan pengembangan Pabrik Pengolahan kelapa Sawit di Sei liput dan berhasil mengekspor CPO pertama dari Perkebunan di Indonesia mulai pada tahun 1919. Meskipun dikelola oleh perkebunan Belanda.

Bayangkan, Plasma Nutfah Kelapa Sawit ditanam tahun 1848, Budidaya Kelapa sawit Komersial tahun 1911, Pembangunan Pabrik Pengolahan Kelapa Sawit pertama tahun 1918 dan ekspor pertama tahun 1919. Tahapan yang luar biasa.

Keberhasilan Indonesia dalam mengembangkan Kelapa Sawit. 

Dari 4 (empat) benih Kelapa Sawit tersebut telah mengantarkan Indonesia menjadi produsen Minyak Kelapa Sawit terbesardi dunia sejak tahun 2006. 

Peran lintas ilmu para peneliti pertanian, ahli genetika, ahli breeding, ahli tanah dan iklim serta ahli pengolah industri dan lintas generasi bahu membahu menjadikan 4 benih dari Kebun Raya Bogor ini menjadi sumber puluhan bahkan ratusan varietas unggul kelapa sawit yang menopang Industri Kelapa Sawit Indonesia. 

Untuk menyambung sejarah sekaligus bentuk terimakasih kepada Kebun Raya Bogor, Penggiat Kelapa Sawit dan Pengelola Kebun Raya Bogor serta dalam memperingati 200 tahun Kebun Raya Bogor, dilakukan penanaman ulang alias replanting kelapa sawit di lokasi nenek moyangnya di KRB dan membangun Monumen Plasma Nutfah Kelapa Sawit yang disimbolkan bentuk untaian DNA - Double Helix DNA yang merupakan simbol genetika.

Presiden Joko Widodo (Jokowi) menandatangani tugu prasasti plasma nutfah kelapa sawit di Kebun Raya Bogor, Minggu 11 Maret 2018. Penandatanganan prasasti ini menjadi bukti komitmen pemerintah terhadap industri kelapa sawit di masa depan.

Penandatanagan Tugu Prasasti Plasma Nutfah Kelapa Sawit Indonesia

Hadir dalam kegiatan ini antara lain Siti Nurbaya (Menteri LHK), Teten Masduki (Koordinator Staf Khusus Presiden RI), Prof. Dr. Bambang Subiyanto (Plt Kepala LIPI), Joko Supriyono (Ketua Umum GAPKI), Joefly Bahroeny (Ketua Dewan Pembina GAPKI), Mustafa Daulay ( Ketua Bidang Pemasaran Luar Negeri GAPKI), Danang Giriwardana (Direktur GAPKI), Timbas Ginting (GAPKI Sumut), dan Hasril Siregar (Direktur PPKS).

Prasasti ini juga mengingatkan generasi muda terhadap sejarah kelapa sawit yang dimulai dari Kebun Raya Bogor. Pengembangan kelapa sawit di Indonesia dimulai dengan penanaman empat plasma nutfah Dura Deli pada 1848.

Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "Tugu Prasati Plasma Nutfah Kelapa Sawit Indonesia, Mengenang nenek Moyang Kelapa Sawit Indonesia"

Post a comment

Popular Posts