Java Food Expediton 2 : Porang, Produk Pertanian yang sedang naik daun menjadi bahan perbincangan

Java Food Expediton 2 : Porang, Produk Pertanian yang sedang naik daun menjadi bahan perbincangan


PT Padi Indo Porang di Desa Kepel

Melanjutkan perjalanan Ekspedisi Pangan Jawa, berikutnya kami dari Yogyakarta menuju Madiun.

07.14 Waktu Yogyakarta

Perjalanan Yogyakarta menuju agenda pertama yaitu Pengusaha Porang, yaitu Paidi Porang yang ada di Madiun.

Berangkat dari Hotel AyaArtta Maioboro, memasuki Tol Yogya - Solo dan sempat beristirahat di Rest Area 575A di daerah Sragen - Ngawi untuk mengisi Bahan Bakar. 

Rest Area 575A Tol Sragen Ngawi

Melanjutkan perjalanan dan keluar pintu Tol Madiun sekitar pukul 10.14.  Perjalanan masih perlanjut menuju lokasi Kantor Paidi Porang yang ada di keamatan kare. Selepas Pintu Tol Madiun, kami menyusuri jalanan Madiun - Nganjuk dan dilanjutkan melintas Nglames, melintas pinggiran kota di jalan  Basuki Rahmat, Jalan S Parman dan Ja, Thamrin. 

Mengambil arah Dungus dan melintas di jalan Dungus - Wungu hingga jalan Raya Kresek dan bersimpangan dengan jalan menuju Kandangan.  Saya ingat, sekitar tahun 1997 - 1999, saya pernah ke Kebun Kopi PT Kandangan yang saat itu merupakan salah satu produsen Kopi di Madiun, Provinsi Jawa Timur. 

Baca juga : Java Food Expedition, Perjalanan Jakarta menuju Solo yang mengesankan

 

Pintu Keluar Tol Madiun

Selama perjalanan, hamparan tanaman tebu, padi dan hutan jati mendominasi daerah yang memang terkenal dengan beberapa pabrik gula, lumbung padi dan penghasil jayu jati dari perhutani. 

Pemandangan hamparan Sawah yang subur menghijau dan berlatar belakang Gunung Wilis, sebuah gunung berapi yang sedang beristirahat dan terletak di Jawa Timur. Gunung Wilis memiliki ketinggian 2.563 meter di atas permukaan laut atau mdpl dan termasuk dalam wilayah enam kabupaten yaitu Kabupaten Kediri, Kabupaten Tulungagung, Kabupaten Nganjuk, Kabupaten Madiun, Kabupaten Ponorogo, dan Kabupaten Trenggalek.
Pemandangan hamparan sawah saat perjalanan ke Desa Kepel

Hamparan sawah dengan latar belakang Gunung Wilis membuat kami turun sejenak untuk mengabadikan keindahan alam ciptaan yang Maha Kuasa.

Saya pernah berkunujung ke wisata Telaga Ngebel yang ada di Kaki Gunung Wilis yang bernilai wisata dan bernilai magis.

Telaga Ngebel dihubungkan dengan kisah seekor ular naga bernama Baru Klinting. Ular tersebut merupakan jelmaan dari Patih Kerajaan Bantaran Angin. Kala itu Sang patih sedang bermeditasi dengan wujud ular dan secara tak sengaja ada seorang warga yang membawa ular jelmaan tersebut ke desa.

Sesampainya di desa, ular jelmaan tersebut hendak dijadikan makanan karena ukuran tubuhnya yang besar. Sebelum dipotong ular tersebut secara ajaib menjelma menjadi anak kecil, yang kemudian mendatangi masyarakat dan memutuskan membuat sayembara.

Sang bocah kemudian menancapkan lidi di tanah, versi yang lainnya menyebutkan bahwa yang ditancapkan adalah centong nasi. Namun tidak ada yang berhasil mencabutnya. Bocah ajaib itulah yang berhasil mencabutnya. Dari lubang bekas ditancapkannya lidi atau centong tersebut keluarlah air yang kemudian menjadi mata air yang menggenang hingga membentuk sebuah Telaga. Oleh penduduk desa sekitarnya, telaga tersebut diberi nama telaga Ngebel, artinya telaga yang mengeluarkan bau menyengat.

Legenda Telaga Ngebel ini konon terkait erat dan memiliki peran penting dalam sejarah Kabupaten Ponorogo. Konon salah seorang pendiri Kabupaten ini yakni Batoro Katong. Sebelum melakukan syiar Islam di Kabupaten Ponorogo, Batoro menyucikan diri terlebih dahulu di mata air, yang ada di dekat Telaga Ngebel yang kini dikenal sebagai Kucur Batoro

Teman saya, Om Rudi selalu meminta berhenti jika ada pemandangan yang menarik dan indah. Mengabadikan moment memang tidak boleh dtunda karena kemungkinan untuk bertemu dengan suasana yang sama kadang tidak terjadi. 

Kami juga melintas lokasi Wisata Grape, Wana Wisata Grape ini berada di Desa Kresek Kecamatan Wungu, Kabupaten Madiun, Jawa Timur atau sekitar 13 kilometer dari arah tenggara Kota Madiun.

Wana Wisata Grape merupakan salah satu obyek wisata yang bernuasa alami dan sejuk, cocok untuk melepas penat dari hiruk pikuk kehidupan kota.

Melintas Wanawisata Grape

Lokasi taman rekreasi ini berada di tepi hutan jati yang merupakan wilayah KPH Madiun dengan luas area sekitar 1,5 hektar.

Di sekitar kawasan ini kamu bisa menemukan sungai dengan aliran air jernih yang bersumber dari mata air Pegunungan Dungus.

Selain itu, panorama dari pepohonan rindang dan deburan air sungai akan membuatmu betah berlama-lama di sini.

Meskipun kami hanya melintas, tampak beberapa pengujung sedang menikmati indahnya Wana Wisata Grape.

11.08 Waktu Kepel

Kami memasuki Desa Kepel yang merupakan lokasi Perusahan PT Paidi Indo Porang, sambio menengok kanan kiri kami mengikuti arahan Gobal Positioning System yang membawa kami ke Pusat Pelatihan dan Pertanian dan Pedesaan Swadaya, P4 S Porang Kepel dan ternyata ini bukan tujuan kami.

Pusat Pelatihan Porang di Desa kepel

Sambil bertanya tanya lokasi PT Paidi Indo Porang saya memperhatikan bahwa desa ini  sebenarnya adalah Desa Penghasil Cengkeh, karena di kanan kiri jalan, di halaman depan dan halaman belakang, banyak berjajar pohon Cengkeh yzygium aromaticum atau Eugenia aromaticum

Tanaman Cengjeh di Desa Kepel

Cengkih adalah tanaman asli Indonesia, banyak digunakan sebagai bumbu masakan pedas di negara-negara Eropa, dan sebagai bahan utama rokok kretek khas Indonesia.  

Perdagangan cengkih pada awalnya didominasi oleh orang Belanda pada abad ke-17. Dengan susah payah orang Prancis berhasil membudayakan pohon Cengkih di Mauritius pada tahun 1770. Akhirnya cengkih dibudayakan di Guyana, Brasilia dan Zanzibar yang diambil dari Ternate dan hingga kini negara negara tersebut menjadi produsen Cengkeh selain Indonesia..

Pada masa kejayaan Cengkeh, di abad ke-17 dan ke-18 di Inggris harga cengkih sama dengan harga emas dan hingga beberapa dekade, cengkeh masih menjadi komoditi primadona hingga akhirnya harga Cengkeh semakin jatuh dan dipermainkan di pasar dunia.

Pohon cengkih yang dianggap tertua sudah tumbang pada 6 Juli 2019 terdapat di Kelurahan Tongole, Kecamatan Ternate Tengah, sekitar 6 km dari pusat kota Ternate. Pohon yang disebut sebagai Cengkih Afo ini, semasa hidupnya berumur 416 tahun, tinggi 36,60 m, berdiameter 198 m, dan keliling batang 4,26 m. Setiap tahunnya ia mampu menghasilkan sekitar 400 kg bunga cengkih

Cengkeh Eugenia aromatica yang sedng dijemur

Kembali ke Desa Kepel, di halaman beberapa rumah penduduk tampak cengkeh yang sedang dijemur.

Selain itu tampak beberapa unit Traktor yang sudah dilengkapi alat bajak yang sepertinya di desa ini pengolahan lahan sudah mengarah ke Mekanis.

Pengolahan lahan dengan Mekanis di Desa kepel


Setelah kembali memutar sekitar 224 meter, sampailah kami di Kantor Paidi Indo Porang.  Kantor Paidi Indo Porang berada di sebelah kiri jalan kalau kita dari arah Madiun.

Saat kami datang, sudah ada beberapa tamu yang sedang mendengarkan penjelasan perihal Porang yang disampaikan oleh Pak Ribut.

Penjelasan perihal bibit Porang hingga bercocok tanam sampai dengan harga jual serta penawaran kerja sama.

Porang alias Amorphopalus muelleri BI merupakan tanaman penghasil Umbi dari famili Araceae.

Porang memiliki kemiripan baik penampilan maupun umbinya dengan saudaranya yaitu suweg Amorphophallus paeoniifolius atau Amorphophallus campanulatus forma hortensisAmorphophallus campanulatus forma sylvestris, dan iles-iles Amorphophallus variabilis  sering kali dirancukan dengan ketiga tanaman tersebut.

Pertumbuhan Porang dicirikan dengan jelas dengan perbedaan 2 musim, yaitu musim hujan untuk pertumbuhan vegetatif dan musim kemarau dengan tanaman yang dorman.

Jadi dalam 1 musim, tanaman hanya tumbuh di saat musim hujan dan pada saat kemarau pertumbuhan vegetatif terhenti.

Tahap vegetatif tampak sebagai daun bercabang-cabang dengan batang lunak. Batang sejati tidak ada, hanya berupa umbi yang selalu berada di bawah permukaan tanah. Umbi tunggal, tidak membentuk anakan umbi, mengandung pati yang komposisinya didominasi oleh mannan; warna umbi kuning cerah, menjadi penciri yang membedakannya dari suweg yang warna umbinya putih.

Perbedaan Umbi Porang, Iles Iles dan Suweg

Tangkai daun tunggal utama yang seringkali dianggap batang oleh orang awam, tumbuh tegak, lunak, halus permukaannya bila diraba, dan berwarna hijau berbelang putih vertikal untuk porang atau hitam berbelang-belang putih cenderung bulat horizontal untuk Iles Iles. Tangkai daun tunggal pada ketinggian tertentu dapat mencapai 1,5 m menjadi tiga cabang sekunder dan akan mencabang lagi sekaligus menjadi tangkai helai daun. 

Pada Porang setiap pertemuan batang akan tampak tonjolan berwarna cokelat kehitam-hitaman yang berfungsi sebagai alat perkembangbiakan vegetatif disebut bulbil. Adanya bintil ini menjadi pembeda penting antara Porang, iles-iles putih dan suweg.  Bintil Bintil ini disebut juga katak.

Bunga muncul apabila simpanan energi berupa tepung di umbi sudah mencukupi untuk pembungaan. Sebelum bunga muncul, seluruh daun termasuk tangkainya akan layu. Bunga tersusun majemuk berupa struktur khas talas-talasan, yaitu bunga-bunga tumbuh pada tongkol yang dilindungi oleh seludang bunga. Kuntum bunga tidak sempurna, berumah satu, berkumpul di sisi tongkol, dengan bunga jantan terletak di bagian distal lebih tinggi daripada bunga betina. Struktur generatif ini pada saat mekar mengeluarkan bau bangkai yang memikat lalat untuk membantu penyerbukannya. Pemekarannya berlangsung sekitar tiga hari.

Untuk membantu supaya lebih jelas perbedaan Porang, Suweg, Walur, & Iles-Iles Ada beberapa tanaman yang fisiknya mirip dengan tanaman porang baik itu bentuk batang serta umbinya, bahkan banyak petani pemula yang salah membedakan tanaman porang dengan tanaman tersebut.

Untuk lebih jelasnya beberapa perbedaan pada tanaman tersebut di antaranya yaitu :

  1. Porang - iles-iles  Amorphophallus muelleri.
  2. Suweg Amorphophallus campanulatus forma hortensis
  3. Walur Amorphophallus campanulatus forma sylvestris
  4. Iles-iles puti (Amorphophallus variabilis) 

Jika keempat tanaman tersebut dilihat secara fisik, tanaman porang ini memiliki ciri yang hampir sama terutama bentuk batang dan umbinya, tetapi ada beberapa ciri-ciri yang membedakan tanaman porang dengan 3 tanaman tersebut, ciri-cirinya yaitu: 

Porang

  1. Daun : daun lebar,ujung daun runcing dan berwarna hijau muda. 
  2. Batang: kulit batang halus dan berwarna belang-belang hijau dan putih. 
  3. Umbi: pada permukaan umbi tidak ada bintil, umbi berserat halus (seperti kristas) dan berwarna kekuningan keorenan. 
  4. Lain-lain : pada setiap pertemuan cabang ada bubil/katak (bibit porang) 

Suweg 

  1. Daun : daun kecil,ujung daun runcing dan berwarna hijau muda mengkilap. 
  2. Batang: kulit batang agak kasar ada duri dan berwarna belang-belang hijau dan putih. 
  3. Umbi: pada permukaan umbi banyak bintil dan kasar, umbi berserat halus dan berwarna putih. 
  4. lain-lain: pada setiap pertemuan cabang tidak ada bubil/katak . umbi bisa dikonsumsi setelah direbus 

Walur 

  1. Daun: daun kecil, ujung daun runcing dan berwarna hijau muda mengkilap. 
  2. Batang: kulit batang kasar dan berwarna hijau keunguan dan bercak putih. 
  3. Umbi: pada permukaan umbi banyak bintil dan kasar, umbi berserat halus dan berwarna putih. 
  4. Lain-lain: pada setiap pertemuan cabang tidak ada bubil/katak 

Iles-iles putih 

  1. Daun: daun kecil, ujung daun runcing dan berwarna hijau tua. 
  2. Batang: kulit batang halus dan berwarna keunguan dan bercak putih. 
  3. Umbi: pada permukaan umbi ada bintil, umbi berserat halus dan berwarna putih
  4. lain-lain: pada setiap pertemuan cabang tidak ada bubil/katak 

Produksi Bulbil Porang


Dari perbedaan ciri-ciri tanaman porang dengan tanaman walur, suweg, dan iles-iles putih yang paling mencolok yaitu tanaman porang pada setiap pertemuan cabang daun ada bubil atau katak (bibit porang) sedangkan tanaman lain tidak ada.

Budidaya tanaman Porang

Benih atau bibit porang berasal dari Biji Bunga, Bulbil dan Umbi Porang yang berbeda beda ukurannya sesuai asal bibit dan target panen.

Budidaya Porang

Porang dulunya ditanam sebagai tanaman sela diantara pohon pohon jati perhutani dan ditanam tumpangsari diantara pepohonan lain dengan hasil yang rendah sekitar 6 - 9 ton per ha.

Saat ini, dengan harga umbi porang yang mahal, budidaya porang dilakukan dengan cara yang tepat dan ditanam dengan monokultur dengan hasil bisa mencapai 20 - 40 ton.

Jarak tanam Porang

Persiapan lahan dengan dibuat guludan dengan tinggi 25  - 30 cm dan umbi porang ditanam dengan jarak 50 - 60 cm atau target populasi per ha sekitar 40.000 tanaman.

Bibit yang digunakan ada beberapa macam

Asal Bibit dan ukuran bibit untuk penanaman Porang

Bibit yang digunakan ada yang dari Bunga, dari Bulbil atau katak dan dari umbi yang siap tanam.

Penjelasan saat di Paidi Porang, bila menggunakan bibit dari katak, umur panen untuk mencapai 2 kg sekitar 3 tahun atau 3 musim.

Budidaya Monokultur Porang

Sedangkan bila menggunakan umbi yang sudah berumur 1 musim atau berukuran 3 - 5 bibit per kg, umur panen bisa lebih cepat sekitar 2 tahun.

Berikut ukuran dari bibit dari katak, umur 1 musim dan umur 2 musim.

Ukuran Bibit dari Bulbil Porang hingga Umbi Porang

secara lebih detail,ukurannya adalah sebagai berikut :


Ukuran Bibit dari Bulbil atau katak

Ukuran Bibit 1 musim



Ukuran bibit lebih besar, 6 - 8 bibit per kg


Ukuran bibit lebih besar, 3 - 5 bibit per kg

Semakin kecil atau semakin muda usia bibit porang, maka masa panen akan semakin lama.

Dengan harga saat ini, kebutuhan biaya untuk bibit porang memang sangat tinggi. Harga bibit yang isi 3 - 5 bibit per kg atau average 4 bibit per kg seharga  50.000 rupiah per kg.

Jadi untuk kebutuhan 1 ha dengan populasi sekitar 40.000 tanaman, dibutuhkan bibit dengan biaya 500.000.000 per ha lahan. 

Jika anda menggunakan katak, bibitnya sekitar 150.000 per kg berisi hingga 20 butir per kg.

Umur Panen Porang

Umur Panen normal untuk porang dari Bulbil hingga mencapai ukuran 2 kg sekitar 3 tahunan sedangkan jika dari bibit ukuran umbi 1 musim, bisa dipercepat menjadi 1 - 2 tahun.

Hasil Panen Porang ukuran 3 kg umur 3 tahun Panen

Porang ukuran 2 kg, dapat dipanen dari bibit porang dengan masa penanaman 3 tahun bahkan lebih.

Jadi membutuhkan setidaknya waktu 3 tahun untuk panen porang dengan ukuran > 2 kg.

Ukuran bibit, akan sangat menentukan masa panen anda.

Pengeringan Porang

Porang yang sudah dipanen dapat langsung dijual dengan harga sekitar 12.000 per kg basah dan 69.000 per kg kering saat saya menulis ini. 

Porang yang sudah dikeringkan kadar air 20 -25%


Porang segar, dipotong kecil kecil untuk dikeringkan hingga kadar air 20 - 25%% dan selanjutnya dijual sebagai porang kering. 

Produk Porang

Produk akhir porang bisa berupa tepung atau sudah diolah menjadi bahan makanan siao diolah seperti beras porang, mIe porang dan tahu porang.

Berbagai Produk Porang

Produk yang terkenal adalah Mie Shirataki.

Mie Shirataki berbahan baku tepung porang


Penawara usaha yang ditawarkan untuk Porang adalah :









Subscribe to receive free email updates:

2 Responses to "Java Food Expediton 2 : Porang, Produk Pertanian yang sedang naik daun menjadi bahan perbincangan"

  1. Ini foto bareng Mas Paidi ya, tapi sepertinya bukan Mas Paidi. Mirip Mas Ribut yang suka memberikan penyuluhan.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya Mas Planter and Forester, betul sekali. Berbincang dengan Mas Ribut Porang

      Delete

Popular Posts