Java Food Expedition 1 : Perjalanan Jakarta menuju Solo yang mengesankan

 Java Food Expedition

Perjalanan Jakarta - Solo yang mengesankan


Entah dari mana saya akan memulai cerita ini.

Berawal dari Wisata Kopi Daong, bersama sahabat karib saya kuliah di IPB, Om Rudi Antoni mengajak untuk melakukan perjalanan di seputaran Pulau Jawa. 

Java Food Expedition Team


Perjalanan ini disebutnya Java Food Expedition alias Ekspedisi Pangan Jawa, yang mungkin bagian dari survey untuk  mencari potensi  dan mengembangkan usahanya di Pulau Jawa khususnya dibidang Pertanian dan Kehutanan.

Dalam perjalanan ini bertajuk Ekspedisi Pangan Jawa, Bapak Anton Apriantono menjadi nara sumber dan advisor kami dan sekaligus kami bermaksud bermaksud menimba ilmu dari beliau yang memang senior kami di IPB.

Dalam cerita ini, supaya tidak salah menyebut Pak Anton dan Om Rudi Antoni, maka dalam penyebutan untuk menudahkan, teman saya Om Rudi Antoni akan saya panggil Om Rudi supaya tidak kikuk kalau dipanggil sama dengan nama Anton, karena bisa salah panggil dengan senior kami Pak Anton. 

Perjalanan Jakarta - Solo

Perjalanan dimulai dari Jakarta menuju ke Kota Solo, karena ada kendala dari teman saya Om Rudi karena pesawat dari Banjarmasin ternyata dicancel dari jadwal yang sudah disepakai sebelumnya.

Jadilah saya dengan Pak Anton menyusuri jalan Tol Cipali hingga kota Solo dan bertemu dengan Om Rudi di Kota Solo.

Perjalanan dari masuk tol Cikampek hingga pintu gerbang tol Banyumanik Semarang sekitar 377 km yang kami tempuh dengan 2 kali pemberhentian di Rest Area 57 Tol Cikampek dan Rest Area km 207A tol Palikanci  dengan total perjalanan sekitar 7 jam 07 menit.

Gerbang Tol Kalikangkung

Pintu Gerbang Tol Kalikangkung merupakan pintu gerbang masuk Semarang dan menjadi bagian dari Tol Batang - Semarang dengan kode 414 serta merupakan bagian dari Tol Trans Jawa yang menghubungkan Merak Provinsi banten hingga Banyuwangi Provinsi Jawa Timur.  

Sepanjang perjalanan, saya banyak bertanya tentang pengalaman Pak Anton yang memang sarat dengan pengetahuan dan pengalaman baik bidang pertanian mikro maupun makro serta informasi tentang teknologi pangan terbaru. 

Pembangunan Jaringan Jalan atau Mempertahankan Lahan Pertanian
Pemandangan hamparan sawah di sepanjang tol yang padinya tumbuh dengan subur menjadi salah satu topik pembahasan yang hangat dan menimbulkan pro dan kontra antara pengembangan sarana transportasi dan jaringan distribusinya dan mempertahankan area dengan iriasi teknis dan permanen pensupport produksi pangan yang sangat signifikan.  

Setelah melintas Gerbang tol Kalikangkung, kami melanjutkan ke arah Bandara Adi Sumarmo Solo, untuk menjemput Om Rudi yang akan datang bersama istrinya Tante Eva.

Kami melanjutkan perjalanan dari Pintu Gerbang Tol Kali Kangkung, terus lanjut melewati Gerbang Tol Banyumanik dan akhirnya keluar tol Bandara Adisumarmo yang sedang dalam renovasi.

Gerbang Tol Bandara Adisumarmo Solo yang terletak di Tanjungsari, Ngresep kecamatan Ngemplak, Kabupaten Boyolali Provinsi Jawa Tengah.

Total perjalanan sampai di Bandara sekitar 517 km dengan waktu tempuh 7 jam 47 menit atau kalau dirata rata dengan waktu istirahat dihitung termasuk didalamnya, kecepatan rata rata sekitar 66.42 km per jam. 

Pukul 16.29 Bandara Adisumarmo Solo

Di titik ini kami bertemu dan menjadi team lengkap Java Food Expedition alias Ekspedisi Pangan Jawa.

Bersama Pak Anton Apriantono dan Om Rudi Antoni

Pukul 17.01, Solo Bistro

Setelah basa basi sedikit, kami pun melanjutkan perjalanan ke Kota Solo untuk bertemu dengan pengusaha Mie berbahan dasar bukan terigu yang cukup terkenal di Solo Bistro.

Potensi Pengembangan Industri Pangan Berbasis bahan baku Non Beras

Pembicaraan yang santai diselingi diskusi serius yang menarik tentang perkembangan industri pangan dan rencana pengembangan menjadi topik yang menarik dan banyak informasi yang bergulir hingga tak terasa waktu sudah malam.

Setelah saling bertukar data pribadi, kamipun berpamitan untuk menuju penginapan yang lokasinya di Yogyakarta.

Jadilah kami melanjutkan perjalanan dari Solo ke Yogya melintas jalan arteri yang cukup padat meskipun saat ini pandemi Covid 19 masih meliputi wilayah ini.

Pukul 20.25, Hotel Amarta

Setelah berjibaku di jalanan arteri yang gelap gulita dan di beberapa tempat ada perbaikan jalan, akhirnya kami memasuki Hotel di Kota Yogyakarta dan hotel berlokasi di sekitar Malioboro. 

Informasi mengenai Wijen Hitam, Black Sesame atau Sesamum indicum. 

Sampai di Hotel, setelah beristirahat sejenak, mandi dan menunaikan sholat, selanjutnya kami bertemu dengan salah satu produsen dan eksporter Wijen Hitam alias Black Sesame atau Sesamum indicum. 

Selain informasi mengenai WIjen Hitam, dibicarakan juga mengenai Kacang hijau, Beras Putih, Merah dan Hitam organik yang diproduksi di sekitar daerah Demak.

Informasi Black Rice alias Beras Hitam, Black Ryza sativa
Pembicaraan yang diselingi dengan menginformasikan sepesifikasi produk serta pengalaman pertemanan hingga sampai  cerita masa saat aktif bekerja.

Setelah membahas waktu kunjungan, diskusi diakhiri dengan dokumentasi bersama.

Pukul 10.51, Menikmati Jahe Susu

Suasana Kota Yogya yang cocok untuk menikmati Jahe Susu dan Teh Jahe

Kami pun melanjutkan berkeliling malam untuk menikmati Jahe Susu khas Yogya. Minuman hangat dan menyehatkan ini, merupakan minuman khas kota Yogyakarta dan banyak dijual di angkringan yang hampir selalu ada di sudut sudut Kota Yogyakarta.


Amorphophallus muelleri, Porang 3 kg, umur 3 tahun

Ikuti cerita berikutnya dalam Ekspedisi Pangan Jawa.

Bertemu dengan Pengusaha Porang yang Sukses

Java Food Expedition : Porang Amorphophallus muelleri, Produk Pertanian yang sedang Viral






 


  


Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "Java Food Expedition 1 : Perjalanan Jakarta menuju Solo yang mengesankan "

Post a comment

Popular Posts