Pengalaman Berwisata ke Paris, Perancis dengan Berjalan Kaki dan Naik Bus Wisata

PARIS CITY BACKPACKER TOUR



Informasi Perjalanan

Setelah berkeliling dan menikamati Mount Titilis di deretan Pegunungan Alpen dan dilanjutkan berkeliling ke Luzern City atau Lucern, kami akan melanjutkan perjalanan menikmati Paris, tepatnya Paris City Tour.


Menara Eiffle Paris 

Dalam menikmati City Tour Paris untuk melihat Champs Ellysees Avenue, Place De La Concorde Square, Eiffel Tower, Arc The Trioumphe, Des Invalides, Militaire  Museum, Petite Palais, Grand Palais, Pont Alexandre III dan St. Magdalena. Dan malam harinya Anda dapat mengikuti perjalanan dengan Kapal bateaux Moches  di malam hari atau menyaksikan pertunjukan Lido Cabaret Show.  Nah yang terakhir ini disaat saat terakhir saya memutuskan untuk apa ya....Baca artikel ini sampai akhir dan Anda akan tahu.

Menara Eiffle saat malam dari Cruise

Beberapa tempat dan lokasi wisata kami capai dengan berjalan kaki dan menggunakan Bus Wisata.  Lumayan puas dan menikmati keindahan Paris sambil mengetes kemampuan berjalan dan berpetualang. Nggak takut keringatan, nah...itu yang kita cari.  Berwisata dan Berolah raga.

Pokoknya lihat aja wajah wajah sumringah kami saat berfoto dan berkunjung ke lokasi lokasi wisata yang keren keren, menurut kami sih karena untuk yang tidak suka dengan bangunan museum atau lebih suka dengan mall atau wisata alam pasti terlihat membosankan.

Kami berdua untungnya memiliki interest yang sama, warisan budaya, sejarah dan landscape bangunan bangunan tua dan legendaris.  Cocok khan.

Ok...Lets Go.

Baca juga artikel :

Berangkat dari Hotel  

Pagi pagi kami sudah siap di lobby hotel dan menikmati pagi yang cerah. Kami menginap di Hotel Holiday Inn Paris, Versailles Bougival, an IHG Hotel.

Berpose sejenak di Hotel Holiday Inn sebelum menaklukkan Kota Paris

Hotel yang nyaman dan membuat tidur kami nyenyak dan bisa memulihkan tenaga untuk melanjutkan perjalanan Back Packer kami. 

Siap menyusuri jalanan Paris

Rute Perjalanan 

Selamat pagi teman teman, sinar mentari pagi dan udara sejuk bersuhu 10 derajat celcius menemani perjalanan Back Packer kami.

Mengikuti map, kami mulai berjalan menyusuri jalanan di Paris yang lengang dan sangat nyaman.  Sekali lagi, sangat nyaman.

Mungkin karena didukung cuaca yang 
  
Kami mulai berwisata ditemani matahari pagi Paris dengan udara yang sejuk sekitar 10 derajat celcius


Suasana pedestrian di Paris yang masih sepi dan sangat ramah dengan pejalan kaki

Melompat di Arc The Trioumphe

Tujuan pertama saat berkeliling Kota Paris kali ini adalah Arc de triomphe de l'Étoile atau biasa dikenal sebagai Arc de Triomphe atau dalam bahasa Indonesia adalah Monumen kemenangan atau "Triumphal Arch of the Star".

Masih bersemangat kami melintas dan melibas jalanan dan pedestrian di Paris.  Tidak terlalu banyak lalu lalang kendaraan atau memang kami yang kepagian, tak apa, memang tujuan kami mencari saat yang sepi supaya bisa berfoto dengan leluasa. 

Arc de triomphe  Merupakan Monumen yang sangat terkenal di Paris, Perancis yang berdiri gagah dan megah di tengah area Place de l'Étoile, merupakan sebuah persimpangan besar di Paris, Prancis, titik temu 12 jalan lurus ("Star Square") termasuk Champs Élysées yang mana membentang ke timur. Namanya diubah menjadi Place Charles de Gaulle pada 1970 untuk mengenang Presiden Gaulle, tetapi kebanyakan orang masih menggunakan nama aslinya, di ujung barat wilayah Champs-Élysées.

Dan memang benar, jalanan di Arc de triomphe sangat lebar dan luas.  Memang nampak beberapa kendaraan yang melintas tapi tidak seramai dan sepadat di Jakarta.  Atau mungkin belum jam sibuk ya.

 Jalanan di Gerbang Arc de triomphe sangat lebar dan luas, merupakan sebuah persimpangan besar di Paris, Prancis, titik temu 12 jalan lurus Star Square.
Place Charles de Gaullee atau  Arc de Triomphe dibangun atas perintah Napoleon Bonaparte dengan tujuan untuk menghormati jasa tentara kebesarannya.


Arc de Triomphe merupakan salah satu monumen paling terkenal di kota Paris

Arc de Triomphe merupakan salah satu monumen paling terkenal di kota Paris yang menjadi latar belakang ansambel perkotaan di Paris. Terletak di bukit Chaillot yang tepat berada di tengah konfigurasi persimpangan jalan raya berbentuk bintang lima.

Sang Nyonya melompat kegirangan saat berkunjung ke Charles de Gaulle atau Gerbang Arc de Triomphe
 
Pembangunan monumen ini telah direncanakan sejak 1806 oleh Napoleon setelah kemenangannya di Pertempuran Austerlitz. Proses penyelesaian konstruksi fondasi dasar monumen ini memakan waktu selama 2 tahun pengerjaan, dan ketika Napoleon memasuki kota Paris dari barat bersama Archduchess Marie-Louise dari Austria pada tahun 1810, ia sudah bisa melihat monumen ini terbentuk dari konstruksi kayunya.

Di bangunan bersejarah ini, Nyonya melompat meluapkan kegembiraannya, padahal ini bangunan khan banyak sejarah memilukan juga, karena peperangan dan bahkan di dasar bangunan  Arc de Triomphe juga terdapat makam seorang prajurit. Memang berani Ibu satu ini he..he...he...

Arsitek dari monumen ini, Jean Chalgrin meninggal dunia pada tahun 1811. Pengerjaan pembangunan monumen ini dilanjutkan oleh Jean-Nicolas Huyot. Selama masa restorasi Bourbon di Prancis, pembangunan monumen ini sempat dihentikan dan tidak dilanjutkan sama sekali sampai masa pemerintahan Raja Louis-Philippe pada 1833-1836.

Bersama Gloria, Bule Perancis teman kami yang menjadi petunjuk dan sumber informasi
Jenazah Napoleon pernah dibawa melewati monumen ini pada 15 Desember 1840 dalam perjalanan menuju tempat peristirahatan terakhirnya di Invalides.

Sebuah Makam Prajurit Tak Dikenal dipasang di bawah Arc de Triomphe untuk mengenang para korban Perang Dunia I pada 28 Januari 1921.


Berfoto bersama Sang Nyonya berlatar belakang  Arc de Triomphe

Berikutnya, kami menuju ke Menara Eiffle. Perjalanan menyusuri pedestrian lagi. Jalanan trotoar atau pedestrian yang benar benar ramah dengan pejalan kaki. Salut untuk kota mode alias kota Paris ini.

Sambil menikmati Pedestrian yang nyaman, kami melihat sudah banyak Bus Wisata yang parkir.

Kami melintasi Grand Palais dan beberapa taman yang cukup nyaman untuk beristirahat, tapi kami bertekad untuk tetap berjalan kaki menyusuri jalanan di Paris, Perancis ini.

Beberapa Bus wisata tampak sudah banyak yang parkir di jalanan menuju ke Menara Eiffle, kami pun makin bersemangat untuk segera sampai di Menara Eiffle.

The Eiffel Tower 

Sampai juga kami di taman yang sangat nyaman untuk beristirahat.  Dari taman ini kita bisa melihat betapa megahnya Menara Eiffel.

Anda belum ke Paris, kalau belum berkunjung ke The Eiffel Tower alias Menara Eiffel
The Eiffel Tower atau Menara Eiffel merupakan sebuah menara besi yang dibangun di Champ de Mars di tepi Sungai Seine, Paris. Menara ini telah menjadi ikon global Prancis dan salah satu struktur terkenal di dunia.

Menara Eiffel adalah monumen berbayar yang paling banyak dikunjungi di dunia, sekitar 7 - 8 juta orang naik ke menara ini setiap tahunnya tapi entah pada saat Pandemi Covid ini. Kami pun tidak naik karena antriannya cukup banyak  dan waktunya bisa 1.5 hingga 2 jam lebih dengan biaya 45 - 55 Euro untuk naik dan belum termasuk antri dan hanya sampai ke level 2.

Jadi kami hanya bisa memandang dan cukup puas menyentuh besi dan berfoto di bawahnya. Harap maklum. 

Berpose dengan latar belakang The Eiffel Tower
Menikmati suasana di menara yang fonemental, Menara Eiffle. Menara Eiffel adalah menara kisi besi tempa di Champ de Mars di Paris, Prancis. Dinamai setelah insinyur Gustave Eiffel, yang perusahaannya merancang dan menyelesaikan pembangunan menara yang dijuluki secara lokal La dame de fer atau bahasa Prancis untuk Wanita Besi alias Iron Lady

Menara Eiffel dibangun dari tahun 1887 hingga 1889 sebagai pintu masuk ke Pameran Dunia 1889 dan pada awalnya dikritik oleh beberapa seniman dan intelektual terkemuka Prancis karena desainnya, tetapi telah menjadi ikon budaya global Prancis dan salah satu struktur yang paling dikenal di dunia.

Menara Eiffel memiliki tinggi 324 meter dan merupakan bangunan struktur tertinggi di Paris. Bagian bawahnya berbentuk  persegi, berukuran 125 meter di setiap sisinya. 

Menara Eiffel memiliki tinggi 324 meter dan merupakan bangunan struktur tertinggi di Paris.

Selama pembangunannya, Menara Eiffel melampaui Monumen Washington untuk menjadi struktur buatan manusia tertinggi di dunia, gelar yang dipegangnya selama 41 tahun hingga Gedung Chrysler di New York City selesai dibangun pada tahun 1930 dan merupakan struktur pertama di dunia dunia untuk melampaui ketinggian 200 meter dan 300 meter. 

Dari info yang kami baca, Menara Eiffel memiliki tiga tingkat untuk pengunjung, dengan restoran di tingkat pertama dan kedua. Platform atas tingkat atas setinggi 276 m  dan dek observasi tertinggi yang dapat diakses oleh publik di Uni Eropa. Tiket dapat dibeli untuk naik dengan tangga atau lift ke tingkat pertama dan kedua. Pendakian dari permukaan tanah ke tingkat pertama lebih dari 300 langkah, seperti pendakian dari tingkat pertama ke tingkat kedua. Meskipun ada tangga ke tingkat atas, biasanya hanya dapat diakses dengan lift.



Setelah puas berkeliling di Menaea Eiffle, kamipun melanjutkan perjalanan ke Museum Louvre.


Perjalanan Back Packer yang menyenangkan dan puas bisa berjalan kaki berkeliling Paris termasuk melintas dari The Eiffel Tower ke tujuan berikutnya Museum Louvre dan ini baru sepertiga perjalanan lho, masih banyak destinasi yang akan kami kunjungi. 

Museum Louvre, Da Vinci Code 

Berkunjung ke Museum Louvre yang indah dan piramida yang cukup viral karena film Davinci Code.


Museum Louvre atau dalam bahasa Prancis disebut Musée du Louvre atau dalam bahasa inggris The Louvre Museum merupakan salah satu museum seni terbesar yang paling banyak dikunjungi dan sebuah monumen bersejarah di dunia. Museum Louvre terletak di Rive Droite Seine, Arondisemen pertama di Paris, Prancis. Hampir 35.000 benda dari zaman prasejarah hingga abad ke-19 dipamerkan di area seluas 60.600 meter persegi.

Memang museum Louvre ini sangat menakjubkan. Saat memasuki Museum pun, saya sudah takjub dengan koleksi koleksi potung yang tampak seperti di film film barat sepertri Mission Impossible.  Akhirnya bisa juga saya berkunjung ke Museum Louvre ini. 

Berkesempatan berkunjung ke Louvre Museum, Paris
Koleksi dari Museum Louvre akan saya sampaikan di artikel yang berbeda supaya tidak bosan membaca cerita perjalanan ini.

Museum ini bertempat di Istana Louvre (Palais du Louvre) yang awalnya merupakan benteng yang dibangun pada abad ke-12 di bawah pemerintahan Philip II. Sisa-sisa benteng dapat dilihat di ruang bawah tanah museum. Bangunan ini diperluas beberapa kali hingga membentuk Istana Louvre seperti 

Sang Nyonya berpose dan sangat senang karena berkesempatan berkunjung ke Louvre Museum, Paris

Setelah menikmati museum Louvre, Kami menuju Piramida seperti yang ada di film Davinci Code. Izin untuk melakukan syuting film The Davinci Code  di lokasi diberikan oleh Museum Louvre  dan perkecualian tidak diizinkannya kru untuk menyinari lukisan Mona Lisa dengan cahaya, sebuah replika digunakan sebagai gantinya, sementara kru film menggunakan ruang Mona Lisa sebagai suatu ruang penyimpanan. 

Pola pada piramid di Lovre Museum
Diceritakan dalam film The Da Vinci Code, film thriller misteri yang dibuat  Amerika Serikat tahun 2006 dan disutradarai oleh Ron Howard dan naskahnya ditulis oleh Akiva Goldsman, diadaptasi dari novel laris tahun 2003 dengan judul sama karya Dan Brown. Film ini dibintangi oleh Tom Hanks, Audrey Tautou, Ian McKellen, Alfred Molina, Jürgen Prochnow, Jean Reno, dan Paul Bettany.

Di dalam film ini, disebutkan ketika berada di Paris, seorang profesor simbologi dan ikonografi religius dari Universitas Harvard yang bernama Robert Langdon adalah tersangka utama dalam pembunuhan yang tidak lazim terhadap seorang kurator Museum Louvre bernama Jacques Saunière.

Benda benda purbakala di Museum Louvre tahun 2008 yang menjadi koleksi museum dibagi menjadi delapan departemen kuratorial: Koleksi Mesir kuno, benda purbakala dari Timur Dekat, Yunani, Etruskan, Romawi, Seni Islam, Patung, Seni Dekoratif, Seni Lukis, Cetakan dan Seni Gambar.

Koleksi Museum Louvre yang paling terkenal adalah Lukisan Mona Lisa atau dalam bahasa Italia  Monna Lisa atau La Gioconda atau dalam bahasa Prancis  La Joconde, adalah lukisan minyak di atas kayu poplar yang dibuat oleh Leonardo da Vinci pada abad ke-16. 

Lukisan Mona Lisa atau La Gioconda sering dianggap sebagai salah satu lukisan paling terkenal di dunia
Lukisan Mona Lisa sering dianggap sebagai salah satu lukisan paling terkenal di dunia dan hanya sedikit karya seni lain yang menjadi pusat perhatian, studi, mitologi, dan parodi. Lukisan ini dimiliki oleh pemerintah Prancis dan dipamerkan di Musée du Louvre di Paris.

Lukisan setengah badan ini menggambarkan lukisan wanita yang tatapannya menuju pengunjung dengan ekspresi yang sering dideskripsikan sebagai enigmatik atau misterius.
Museum Louvre atau dalam bahasa Prancis disebut Musée du Louvre atau dalam bahasa inggris The Louvre Museum
Bersyukur bisa menyaksikan Koleksi Museum di tempatnya. Alhamdulillah. 

Kalau bentuk piramida, di kota saya bekasi juga ada seperti yang ada di Louvre.
Tepat di bawah Piramid Louvre Museum
Memang keren dan Poligon eh Piramid yang sama saya temui tepatnya di Summarecon Bekasi.

Di dalam area yang sama dengan museum terdapat Printemps yang berarti spring  dalam bahasa inggris dan "musim semi dalam bahasa Indonesia merupakan jaringan department store atau yang biasa disebut Grand Magasin dalam bahasa Perancis. Mall Printemps fokus pada kecantikan, gaya hidup, mode, aksesori, dan pakaian pria.

Printemps yang berarti spring  dalam bahasa inggris dan musim semi dalam bahasa Indonesia merupakan jaringan department store
Di atas Museum Louvre, kami jelajahi juga dan menemukan gerbang yang unik dan megah.

Bentuk dan desain Quadrica ini  didasarkan pada Propylaea, gerbang masuk ke Acropolis di Athena, Yunani dam ditemukan juga di Bradendburg, Berlin, German dan Moscow, Rusia yang disebut Moscow Triumphal Gates  .
Desain Gerbang yang ada di belakang Nyonya, adalah bentuk Quadrica yang mirip dengan yang ada di Jerman dan Rusia. Bentuk dan desain Quadrica ini didasarkan pada Propylaea, gerbang masuk ke Acropolis di Athena, Yunani dan berkaitan dengan sejarah Berlin pada klasikisme arsitektur (pertama, Baroque, dan neo-Palladian). Gerbang ini adalah "Athena di Tepi Sungai" pertama oleh arstiek Karl Gotthard von Langhans. Quadriga dibuat oleh Johann Gottfried Schadow.

Para wisawatan yang berkunjung ke Gerbang Quadrica, Paris yang berada di atas Museum Louvre
Bentuk Gerbang Quadrica seperti di Brandenburg  jerman tidak berubah sejak selesai dibangun dan memainkan peran politik dalam sejarah Jerman. Setelah kekalahan Prusia tahun 1806 pada Pertempuran Jena-Auerstedt, Napoleon membawa Quadriga ke Paris. 



Setelah kekalahan Napoleon tahun 1814 dan pendudukan Paris oleh Prusia dipimpin Jenderal Ernst von Pfuel, Quadriga dikembalikan ke Belin; dan ikat kepala zaitun Viktoria ditukar dengan Salib Besi, sehingga menjadi Nike, dewi kemenangan Yunani.

Berdiri di atas Museum Louvre dan Printemps Department Store

Keren banget ya, dari bawah ada museum dan department Store dan di atas masih ada bangunan lagi.  Hampir tidak ada celah.  Pemanfaatan areal yang efisien dan tertata rapi.

Setelah dari Louvre, kamipun melanjutkan perjalanan berkeliling Kota Paris.

Jalan bawah tanah yang menghubungkan area wisata banyak ditemui di Paris 
Cukup banyak area yang kami lewati, jalan raya, gedung gedung megah yang rapi dan pertokoan.


Senang rasanya bisa berjalan jalan berkeliling sambil mengukur Kota Paris.



Kami sangat menikmati perjalanan berkeliling paris. Udara dingin dan sinar matahari hangat. Pas dech.

Place de la Concorde

Tujuan berikunya adalah The Place de la Concorde, adalah the major public squares alias Alun Alun utama Paris, Prancis. Dengan luas sekitar 7,6 ha dan merupakan  alun-alun terbesar di ibu kota Prancis. Terletak di arondisemen kedelapan kota, di ujung timur Champs-Élysées.

The Place de la Concorde
Dari beberapa situs budaya dan sejarah, The Place de la Concorde  adalah situs dari banyak eksekusi publik yang terkenal, termasuk eksekusi Raja Louis XVI dan Marie Antoinette selama Revolusi Prancis, di mana alun-alun itu untuk sementara diubah namanya menjadi Place de la Révolution.

Dengan berjalan kaki, kami berkeliling sepanjang Place de la Concorde yang memanjang sepanjang sungai Seine Paris.
The Place de la Concorde dirancang oleh Ange Jacques Gabriel 
The Place de la Concorde dirancang oleh Ange Jacques Gabriel pada tahun 1755 sebagai segi delapan berpinggiran parit antara Champs Elysées di barat dan Taman Tuileries di timur. 

Dihiasi dengan patung dan air mancur, area tersebut diberi nama Place Louis XV untuk menghormati raja saat itu. Alun-alun memamerkan patung raja berkuda, yang ditugaskan pada tahun 1748 oleh kota Paris, sebagian besar dipahat oleh Edmé Bouchardon, dan diselesaikan oleh Jean-Baptiste Pigalle setelah kematian Bouchardon.

Patung Napoleon Bonaparte
Di ujung utara, dua bangunan batu identik yang megah dibangun. Dipisahkan oleh rue Royale, struktur ini tetap menjadi salah satu contoh terbaik arsitektur gaya Louis Quinze. Awalnya, bangunan timur berfungsi sebagai Kementerian Angkatan Laut Prancis. Tak lama setelah pembangunannya, bangunan barat menjadi rumah mewah Duc d'Aumont. Itu kemudian dibeli oleh Comte de Crillon, yang keluarganya tinggal di sana sampai tahun 1907. Hôtel de Crillon mewah yang terkenal, yang saat ini menempati gedung,

Berikutnya kami menuju jalan Sudirman atau jalan Thamrinnya Paris, yaitu Champs Ellysees Avenue.  Kenapa saya sebut demikian, karena jalan ini membelah Kota Paris dan menjadi sentral Kota Paris.

Champs Ellysees Avenue

The Avenue des Champs-Élysées commonly regarded as the "most beautiful avenue in the world"
The Avenue des Champs-Élysées, jalan terindah di dunia
Avenue des Champs-Élysées adalah sebuah jalan di arondisemen ke-8 Paris, Prancis, dengan panjang 1,9 kilometer dan lebar 70 meter, membentang antara Place de la Concorde dan Place Charles de Gaulle, tempat Arc de Triomphe berada.

The Avenue des Champs-Élysées, jalan terindah di dunia
Kota ini terkenal dengan teater, kafe, dan toko-toko mewahnya, untuk parade militer Hari Bastille tahunan, dan sebagai akhir dari perlombaan bersepeda Tour de France. Namanya dalam bahasa Prancis untuk Elysian Fields, tempat para pahlawan yang mati dalam mitologi Yunani. Ini umumnya dianggap sebagai "jalan paling indah di dunia"


Bagian bawah Champs-Élysées, dari Place de la Concorde ke Rond Point, melewati Jardin des Champs-Élysées, sebuah taman yang berisi Grand Palais, Petit Palais, Théâtre Marigny, dan beberapa restoran, taman dan monumen. Istana lysée kediaman resmi Presiden Republik Prancis berbatasan dengan taman, tetapi tidak berada di Avenue itu sendiri. Champs Élysées berakhir di Arc de Triomphe, dibangun untuk menghormati kemenangan Napoleon Bonaparte.

Berikutnya kami melanjutkan perjalanan ke Des Invalides Paris, meskipun kami hanya melintas dan melongok sebentar ke gedung ini. Cukuplah untuk liburan backpacker kali ini.

Des Invalides Paris


Les Invalides, secara resmi Hôtel national des Invalides, juga Hôtel des Invalides secara harfiah, House of the disabled atau  Rumah orang cacat adalah kompleks bangunan di arondisemen ke-7 Paris, Prancis, yang berisi museum dan monumen, semua yang berkaitan dengan sejarah militer Prancis, serta rumah sakit dan panti jompo -  a hospital and a retirement home  bagi veteran perang, tujuan awal bangunan tersebut.

Les Invalides, secara resmi Hôtel national des Invalides, juga Hôtel des Invalides secara harfiah, House of the disabled atau  Rumah orang cacat

Bangunan-bangunan tersebut menampung Musée de l'Armée, museum militer Angkatan Darat Prancis, Musée des Plans-Reliefs, dan Musée d'Histoire Contemporaine. Kompleks ini juga mencakup bekas kapel rumah sakit, sekarang katedral nasional militer Prancis, dan bekas Kapel Kerajaan yang berdekatan yang dikenal sebagai Dôme des Invalides, gedung gereja tertinggi di Paris dengan ketinggian 107 meter. Yang terakhir telah diubah menjadi kuil beberapa tokoh militer terkemuka Prancis, terutama makam Napoleon

Les Invalides, secara resmi Hôtel national des Invalides
Jauh juga kami berjalan, tapi tak apalah mumpung berada di negeri orang dan kalaupun istirahat, kami sudah puas. 

Sebenarnya sampai di sini, rasa lapar sudah mendera, tapi kami berencana makan di sekitar Galleries Lafayette.  Apa itu  Galleries Lafayette, nanti saja sambil melanjutkan membaca artikel ini ya.

Sang nyonya memang hebat juga, berjalan kaki mungkin sudah hampir 16 km dan berputar putar di Kota Paris.

Menikmati suasana kota Paris

Menikmati suasana kota Paris

Menikmati suasana kota Paris

Menikmati suasana kota Paris

Menikmati suasana kota Paris

 
Berikutnya kami melintas Grand Palais, yang juga menjadi tujuan destinasi para turis.

Grand Palais 

Gedung megah yang berada di tepi jalan besar ini  tampak kokoh dan sepertinya sedang ada event pertunjukan.

The Grand Palais des Champs-Élysées, umumnya dikenal sebagai Grand Palais atau dalam bahasa Inggris disebut Great Palace, adalah situs bersejarah besar, ruang pameran dan kompleks museum yang terletak di Champs-Élysées di arondisemen ke-8 Paris, Prancis. 

The Grand Palais des Champs-Élysées, umumnya dikenal sebagai Grand Palais atau dalam bahasa Inggris disebut Great Palace, adalah situs bersejarah besar, ruang pameran dan kompleks museum
Pembangunan Grand Palais dimulai pada tahun 1897 setelah pembongkaran Palais de l'Industrie (Istana Industri) sebagai bagian dari pekerjaan persiapan untuk Pameran Universal tahun 1900, yang juga mencakup pembuatan Petit Palais dan Pont Alexandre III yang berdekatan . Telah terdaftar sejak tahun 2000 sebagai monumen bersejarah oleh Kementerian Kebudayaan Prancis.

Strukturnya dibangun dengan gaya arsitektur Beaux-Arts seperti yang diajarkan oleh cole des Beaux-Arts of Paris.


Berikutnya kami melintas Musée de l'Armée, atau Museum Army.  Memang bangunan di Paris ini keren keren, walaupun jarak yang kami tempuh  lumayan jauh, tapi kami puas. Antara jalan kaki dan naik Bus Wisata.

Musee de I'Armee

Musée de l'Armée merupakan sebuah Museum Army atau Museum Angkatan Bersenjata Perancis,  museum di Les Invalides di Paris, Prancis. Sebenarnya dibangun sebagai sebuah rumah sakit dan rumah bagi tentara cacat oleh Louis XIV, sekarang merupakan Makam Napoleon dan museum Angkatan Darat Prancis. Koleksi Museum terdiri dari periode waktu dari zaman perunggu hingga abad ke-20.

Musée de l'Armée merupakan sebuah Museum Army atau Museum Angkatan Bersenjata Perancis
Museum ini didirikan dengan nama Musée de l'artillerie, Museum Artileri - "artillerie" kemudian berarti segala sesuatu yang berkaitan dengan senjata, tahun 1871, setelah kekalahan pada Perang Prancis-Prusia dan proklamasi Republik Ketiga di Hôtel des Invalides. 

Nah tujuan berikutnya sekaligus istirahat adalah Galleries Lafayette.

Tampak muka Capek  Sang Nyonya, tetapi tetap bersemangat

Suasana keramaian di sekitar Gallery Lafayette

Sudut sudut di Kota Paris yang ternyata memang ramai dan banyak wisatawan

Pusat mode dan Pusat Shopping, Paris menyediakan apa yang ada perlukan

Galleries Lafayette 

Akhirnya, untuk sesi jalan jalan di Paris, kami sampai juga di Galleries Lafayette, merupakan jaringan department store Prancis kelas atas. Toko andalannya berada di Boulevard Haussmann di dan sekarang beroperasi di sejumlah lokasi lain di Prancis dan negara lain  termasuk di Indonesia di Plaza Senayan kalau tidak salah.

Sebelum masuk ke Galleries Lafayette, kami akan makan dulu.  Infonya ada rumah makan chinese food yang enak di sekitar department store ini.  Makan siang di Paris. Saya dan istri yang muslim sebelumnya sudah mencari informasi untuk rumah makan yang halal.

Sempat kesulitan kami mencari Rumah Makan yang halal dan yang ada adalah rumah makan Chinese. Akhirnya kami memesan Nasi Goreng dengan bahan bahan yang sebisa mungkin menggunakan bahan yang halal.

Untuk komunikasi, kebetulan bertemu orang Indonesia yang bisa berbahasa Chinee, namanya Pak Cendro dan akhirnya saya minta tolong Pak Cendro turis dari Semarang yang juga turut berlibur bersama keluarga untuk berbicara dengan chefnya dengan bahasa mandarin. Beliau menceritakan bahwa kami muslim dan tolong dimasakkan denagn makanan halal. Sebaiknya dipisah dari masakan umum. Alhamdulillah.

Sempat  bertemu dengan teman dari Indonesia dan mengobrol seputar Back Packeran di Paris.

Setelah makan, kami pun menikmati cuci mata di Galleries Lafayette, surga belanja bagi penggemar shooping. Kami yang backpacker memang hanya sekedar cuci mata karena perjalanan masih jauh dan yang kami butuhkan paling hanya souvenir. 

Kami hanya bisa melihat dan memandang terpaku atas barang barang mewah yang dipajang di area Galleries Lafayette. 


Berbagai ornamen unik dipajang oleh para tenan di Galleries Lafayette 
Galleries Lafayette yang megah dan sangat besar

Kami berkeliling di  Galleries Lafayette, yang unik adalah, ada bagian khusus untuk tamu dari Indonesia dan dilayani dengan bahasa Indonesia. Pokoknya keren dech Orang Indonesia.  Sepertinya wisatawan dari Indonesia merupakan wisatawan yang royal dan biasannya belanja banyak.  Raja dan Ratu Shopping.

Berpose di lantai atas Galleries Lafayette 
Kami yang hanya backPacker, padahal hanya mampir, tetapi tetap saja saat mampir ke beberapa galery, senantiasa menjadi perhatian.  Padahal tampang kami kusut dan bekas baju basah penuh keringat serta berwajah orang udik.


Hari ini kami istirahat dulu dan rencana lanjut untuk nanti malam jam 19.00, menikmati wisata naik kapal malam hari dengan Bateaux Moches.

Wisata Naik kapal Malam Hari Bateaux Moches 

Ini saat yang ditunggu tunggu, melihat pemandangan Paris dari sungai Seine. Saat menaiki kapal ini, saya memang menghadapi pilihan sulit, antara menonton kabaret atau menimati perjalanan dengan Cruises menyusuri sungai di Paris. Akhirnya saya pun memilih ini.


Dengan modal tiket Dewasa 14 €, kami pun menikmati Kapal dari Compagnie des Bateaux Mouches© yang legendaris berlayar melintasi Sungai Seine Paris setiap hari untuk menunjukkan kepada wisatawan pemandangan bangunan yang menakjubkan dan jembatan yang legendaris yang ada di jantung kota paris dan sering dijuluki Kota Cahaya. Yang sangat bermanfaat untuk para wisatawan, pelayaran dengan menaiki Bateaux Mouches para wisatawan akan difasilitasi oleh informasi bangunan yang dilalui dengan 8 bahasa. Keren khan...  
Setiap pelayaran dikomentari dalam beberapa bahasa, tersedia 8 bahasa.

Kapal ini melayani Sightseeing cruise atau Pelayaran Tamasya dengan jadwal berangkat setiap hari pukul 11.30, 13.30, 15.30, 17.00, 19.00, dan 21.00, Nah saya mengambil yang jam 19.00 waktu Paris karena pengin melihat gemerlapnya lampu lampu diu bangunan legendaris sepanjang sungai Seine.  Perjalanan akan memakan waktu sekitar 1 jam 10 menit. Puas khan....Semoga sih demi 14 Euro.


Saya sengaja memilih naik Kapal Bateux Mouches dari pada nonton kabaret, karena siang hari kami sudah berkeliling area ini dan iming iming dari Gloria teman kami, bahwa Paris sangat indah di waktu malam.  Sampai sampai dijuluki Kota Cahaya. 

Makin dijelaskan oleh Gloria, kami semakin mantap untuk menikmati pemandangan tepi sungai Seine. 

Sepanjang perjalanan dengan Kapal bateaux Moches, mata saya hampir tidak berkedip.

Berikut dokumentasi saat berlayar bersama Bateaux Mouches, semoga tidak bosan.

Pemandangan sangat indah dengan gemerlap lampu. Saya ingat, siang hari kami melintas bangunan bangunan tepi sungai ini, dan saat malam berubah menjadi pemandangan yang menakjubkan.

Salah satunya adalah Notre-Dame de Paris yang berarti Bunda Maria dari Paris, hanya disebut sebagai Notre-Dame, adalah katedral Katolik abad pertengahan di le de la Cité di Paris. 

Katedral  Notre-Dame de Paris ditahbiskan untuk Perawan Maria dan dianggap sebagai salah satu contoh terbaik arsitektur Gotik Prancis. Ornamen pionir dari kubah rusuk dan penopang terbang, jendela mawar yang besar dan berwarna-warni, serta naturalisme dan kelimpahan dekorasi pahatan membedakannya dari gaya Romawi sebelumnya. 

Komponen musik utama yang membuat Notre Dame menonjol termasuk tiga organ pipanya, salah satunya bersejarah dan lonceng gerejanya yang sangat besar.

Pembangunan katedral dimulai pada 1163 di bawah Uskup Maurice de Sully dan sebagian besar selesai pada 1260. Pada tahun 1790-an, Notre-Dame mengalami penodaan selama Revolusi Prancis, banyak citra religiusnya rusak atau hancur. Pada abad ke-19, katedral adalah tempat penobatan Napoleon I dan pemakaman banyak presiden Republik Prancis.

Katedral Notre-Dame de Paris  berkembang setelah publikasi tahun 1831 novel Victor Hugo Notre-Dame de Paris yang lebih dikenal dalam bahasa Inggris sebagai The Hunchback of Notre-Dame. 


Siang hari, kami sebenarnya sudah melintas Katedral Notre-Dame de Paris ini dan saat malam memang berbeda jauh.


Ada 32 jembatan di sungai di Paris, beberapa di antaranya lebih mengesankan daripada yang lain. Jembatan tertua adalah Pont Neuf yang telah diabadikan oleh seniman dan penyair bahkan film abad ke-20 dalam The Lovers of the Pont Neuf.

Ada sebuah pulau kecil yang indah yang dilintasi oleh jembatan yang sekarang digunakan oleh wisata perahu sungai sebagai stasiun dok. Di musim semi atau musim panas ini adalah tempat yang indah untuk nongkrong di bangku di bawah pohon willow, atau berjemur di tanggul batu miring di dekat taman yang dirawat di tengahnya. Kebetulan saya naik perahu bisa melihat keindahan salah satu tempat terbaik untuk hang out di seluruh Paris.

Saya sangat senang fotografi, sengaja saya tidak menyebutkan seluruh jembatan yang ada tapi secukupnya aja, jadi jangan bosan ya dengan dokumentasinya.
















Jembatan populer lainnya adalah Pont Des Arts, yang berbeda dari banyak jembatan lain karena dibangun dari logam dan sepenuhnya untuk pejalan kaki. Dengan salah satu pemandangan paling menakjubkan di seluruh Paris, ini adalah zona hang out dan pick me up teratas dalam cuaca yang mendukung. Orang-orang membawa minuman dan bersantai dan berpiknik, yang lain membawa gitar dan suasananya hampir selalu meriah.


Les Invalides, secara resmi Hôtel national des Invalides dilihat dari tepi sungai Seine



Menara Eiffel saat malam hari, memang indah


Sambil menggigil kedinginan. Suhu sekitar 2 derajat celcius.

Menikmati perjalanan walaupun menguras tenaga. Paris memang indah
Cukup dulu artikelnya, takut kepanjangan.  Nanti disambung lagi di artikel yang lain.

Salam Backpacker


 



Subscribe to receive free email updates:

2 Responses to "Pengalaman Berwisata ke Paris, Perancis dengan Berjalan Kaki dan Naik Bus Wisata"

  1. Wah, sempat gak Pak Eko, menyematkan gembok cinta, di Ponts des Arts Bridge, Sungai Seine. He he ....

    ReplyDelete
    Replies
    1. Sayangnya saya tidak sempat menyempatkan Gembok Cinta di Ponts des Arts Bu, karena hanya melintas dengan kapal. Semoga berikutnya bisa memasang gembok di sana. Salam sehat dan selamat beraktifitas Bu.

      Delete

Terima kasih atas kunjungan teman teman, semoga artikel bermanfaat dan silahkan tinggalkan pesan, kesan ataupun komentar.

Popular Posts