Situs Duplang, Situs Megalitikum Batu Menhir yang ada di Kamal, Arjasa, Jember, Jawa Timur

Seri Museum 

Situs Duplang, 
Situs Megalitikum Batu Menhir
Kamal, Arjasa, Jember, Jawa Timur 

Papan nama dari bambu, Situs Duplang, Situs Megalitikum di Desa Kamal, Arjasa, Jember, Jawa Timur
Saat perjalanan ke Jember untuk mencari Sengon Solomon, secara tidak sengaja saya bertemu dengan Situs Duplang. 

Ya ternyata di Jember ada jejak sejarah yang sangat tua. Indonesia dikenal oleh masyarakat dunia sebagai negara yang memiliki kekayaan budaya dan peninggalan yang mengagumkan. Jawa Timur memiliki banyak warisan peninggalan budaya, khususnya benda bersejarah dan purbakala yang tersebar di berbagai wilayah Kabupaten. Salah satu peninggalan bersejarah tersebut terletak di wilayah Kabupaten Jember.

Papan nama Situs Duplang, Situs batu Menhir yang berada di Desa Kamal, Kecamatan Arjasa, Kabupaten Jember, Jawa Timur.

Bukti arkeologis berupa artefak yang ditemukan di Kabupaten Jember menjadi bukti bahwa daerah ini pernah menjadi lintasan sejarah, ataupun pilihan tempat hunian bagi manusia pada masa lalu dalam pengembaraannya mencari kehidupan yang layak dari masa ke masa baik masa prasejarah sampai masa sejarah. Jadi, tidak mengherankan apabila banyak temuan-temuan artefak cagar budaya. 

Salah satunya yang saya kunjungi secara tidak sengaja, Situs Duplang

Apa itu Situs Duplang?

Situs Duplang merupakan Situs yang memiliki beberapa koleksi peninggalan pada zaman megalitikum diantaranya kubur batu, batu kenong, dan mehir. 

Sesuai plang yang ada di jalan setapak untuk masuk ke Situs Duplang terdapat identitas : kementerian Kebudayaan dan Pariwisata,Balai Pelestarian Peninggalan Purbakala, Jawa Timur.  Pemerintah Kabupaten Jember. Kantor Pariwisata dan Kebudayaan.

Papan Peringatan untuk tidak merusak Situs cagar budaya dan sanksinya
Tampak Plang peringatan yang sudah berlumut karena cuaca yang mendukung tumbuhnya lumut di daerah Jember, menjadi saksi bisu benda benda bersejarah di Situs Duplang ini.


Kawasan Perhutani yang didominasi Pohon Mahoni, Swietenia mahagony, Perum Perhutani Divsi Regional Jawa timur Kesatuan Pemangku Hutan Jember tempat yang berdampingan dengan Situs Duplang, di Desa Kamal, Kecamatan Arjasa, Jember.
Lokasi Situs Duplang

Situs Duplang berlokasi di tepatnya di Desa Kamal Kecamatan Arjasa, Kabupaten Jember, Jawa Timur.

Lokasinya agak jauh dari jalan Raya Jember Banyuwangi dan berada di tepi kawasan hutan milik perhutani.

Ternyata, sesuai informasi,  cagar budaya di Kabupaten Jember ditemukan beberapa lokasi penemuan benda-benda peninggalan purbakala, 

  • Desa Kamal Arjasa (Situs Klanceng, Situs Kendal, Situs Duplang);
  • Desa Sukosari Sukowono (Situs Mojo dan Situs Srino);
  • Desa Seputih Mayang (Sarkopagus dan Batu Kangkang);
  • Desa Sucopangepok Jelbuk (Situs Pakel);
  • Desa Sukojember Jelbuk (Situs Suko);
  • Desa Rambipuji (Situs Prasasti Batu Gong);
  • Desa Karangbayat Sumberbaru (Situs Prasasti Congapan)

Jalan selebar 1 meter yang berpaving menjadi akses masuk ke Situs Menhir Duplang Kamal Rajasa.

Saya makin tertarik dan saat ketemu dengan plang situs duplang, saya pun memasuki jalan yang hanya berupa jalan selebar 1 meter yang di lapisi paving. Berjalan kaki mengikuti jalanan berpaving sekitar 50 meter dan barulah kawasan cara Budaya Situs Menhir Duplang Kamal Arjasa. Dilindungi oleh Negara Sesuai Undang Undang Republik Indonesia Nomor 11 Tahun 2010 Tentang Cagar Budaya dan Penjelasannya. 

Posisi area situs duplang berada di tempat yang paling tinggi diantara sekitarnya.




Halaman dan papan Petunjuk,  Tamu atau Pengunjung harap lapor ke Petugas situs

Saya sampai di depan halaman Situs yang cukup luas dan ada papan petunjuk dari terpal berwarna putih dengan tulisan berwarna merah, yang mengatakan Tamu atau Pengunjung harap lapor ke Petugas situs. Dengan arah panah menunjuk ke rumah yang ada di samping situs.


Papan Infornasi Cagar Budaya Situs Menhir Duplang Kamal Arjasa. Dilindungi oleh Negara Sesuai Undang Undang Republik Indonesia Nomor 11 Tahun 2010 Tentang Cagar Budaya dan Penjelasannya. 
Sesuai plang petunjuk, saya pun mencari cari petugas yang ada di situs  tapi saya tidak ketemu seorang pun.  Saya melihat ada bapak bapak tua yang sedang memperbaiki cangkul dan seorang Ibu yang menjemur baju.

Karena saya pikir mereka sudah tahu, saya pun menuju pintu berpagar tembok bercat putih  setinggi sekitar 80 cm an yang membatasi area Situs.

Setelah memasuki area tembok, tampak papan bertuliskan  Cagar Budaya Situs Menhir Duplang Kamal Arjasa. Dilindungi oleh Negara Sesuai Undang Undang Republik Indonesia Nomor 11 Tahun 2010 Tentang Cagar Budaya dan Penjelasannya. 

Tampak di depan saya ada 3 area berbeda tumpukan batu dengan plang plang papan informasi.  Suasana sangat sepi dan sunyi.
Sangat sepi, lengang dan hening.  Sempat bulu kuduk berdiri, walaupun siang hari, sekitar jam 11 an siang. 

Tampak di depan saya ada 3 area berbeda tumpukan batu dengan plang plang papan informasi.  Di ujung seperti ada bangunan yang seperti pondok, tapi saya tidak berani menuju ke sana.

Di sisi kanan dan kiri ada 2 pohon yang umurnya terlihat sangat tua dan suasananya mirip di kuburan. Sepi dan menyeramkan.  Meskipu kami bertiga, semua juga merasa singup alias berada dalam situasi yang menyeramkan. he..he...he...biar dramatis.

yang lebih seram lagi, saat kami sedang memperhatikan koleksi situs duplang, tiba tiba muncul Bapak Bapak yang sudah tua dan menyapa kami. terkaget kaget juga, tahu tahu sudah di samping kami.

"Sugeng enjang, bade mersani situs duplang nggih" - Selamat Pagi, mau melihat Situs Duplang ya, demikian sapa bapak dengan ramah. Beliau memperkenalkan diri sebagai petugas yang diamanahkan menjaga situs duplang ini dan tinggal di rumah di sebelah situs duplang.

Bapak paruh baya berpenampilan dengan gaya sederhana khas petani berjalan perlahan menghampiri. Setelah sedikit bercengkerama, ternyata beliau adalah pemilik satu-satunya rumah di area situs sekaligus menjabat sebagai juru kunci sejak tahun 1985. Tadi yang saya lihat sedang membersihkan cangkul dan bersama ibu yang sedang menjemur baju di rumah sebelah Situs Duplang.

Bapak Sudarman Abdur Rahim, namanya. Saya baru ingat. Bapak yang penuh semangat bercerita tentang Situs Duplang. Petugas yang berdedikasi tinggi seperti Pahlawan tanpa tanda jasa.

Kami pun bercengkerama dan mendapatkan cerita dari Pak Darman. Berdasarkan cerita dari sang juru kunci alias kuncen, Pak Darman, nama familiarnya, bahwa situs ini sudah lama ditemukan masyarakat Desa Kamal yakni pada kisaran abad ke-10. Waktu itu kiranya kita sekalian masih di negeri antah-berantah.

Luar biasa, mengenakan celana pendek berwarna merah marun, berpeci hitam dan memakai kaos berkerah dengan lambang bendera merah putih. Dari beliau saya mendapatkan informasi mengenai situs duplang. 
Memperoleh Informasi dari Bapak Penjaga Situs Duplang - Pak Darman yang berdedikasi tinggi
Benda-Benda Peninggalan di Situs Duplang

Situs Duplang merupakan Situs yang memiliki beberapa koleksi peninggalan pada zaman megalitikum diantaranya kubur batu, batu kenong, dan mehir.

Nah khan, jadi wajar kalau saya merinding, karena ini tampaknya adalah makam kuno dari jaman megalitikum. 

Ok, satu persatu akan saya bahas, karena kebetulan saya punya waktu cukup saat berada di Situs Duplang, sehingga banyak hal yang bisa dipelajari.

  1. Batu Kubur
  2. Batu Kenong
  3. Batu Menhir

Dokumentasi Kubur Batu alias Dolmen, Batu besar yang ditopang dengan 4 atau 6 batu disampingnya ditutup dengan papan batu berfungsi sebagai meja atau kubur batu.
Batu Kubur - Dolmen

Kubur Batu alias Dolmen
Batu besar yang ditopang dengan 4 atau 6 batu disampingnya ditutup dengan papan batu berfungsi sebagai meja atau kubur batu

Kubur Batu Situs Duplang No Inventaris : 56/JBR/2012 dengan dimensi ukuran area batu kubur
  • Panjang : 221 cm
  • Lebar : 71 cm
  • Tinggi : 143 cm
  • Bahan : Batu andesit
  • Keterangan : Kondisi roboh berserakan dikarenakan akar pepohonan yang merusak bagian atas kubur

Kubur batu adalah suatu bentuk budaya megalit yang pada dasarnya tidak jauh berbeda dengan peti mayat. Keempat sisinya berupa dinding dimana sisi samping, alas dan tutupnya diberi semacam papan-papan dari batu yang tertata rapi seperti peti. Fungsinya adalah untuk menguburkan mayat. Didalam tradisi kubur batu disertakan pula benda benda artefak sebagai bekal kubur berupa : gerabah, manik-manik, gelang dan perhiasan. 

Minta ijin Berfoto bersamaPak Darman sambil mendengarkan kisah Situs Duplang 

Kubur Batu merupakan tempat pemakaman atau peti mayat yang di dalamnya terdapat jenazah yang di simpan dalam keadaan terbaring dengan posisi kepala kearah ke tempat yang lebih tinggi.

Kubur batu yang berada di Situs Duplang atau Situs Kamal adalah kubur batu masyarakat sekitar yang dahulu bermukim di sekitar Situs Kamal. Kalau kita melihat kondisi topografi dari daerah sekitar Situs Kamal, dapat diperkirakan bahwa kubur batu melingkar menuju keatas ketempat yang posisinya lebih tinggi, sehingga untuk mencapai surga akan lebih cepat.

Pantas saja posisi Situs Duplang berada di lokasi yang paling tinggi di bandingkan area di sekitar Situs Duplang.  Ternyata biar cepat masuk surga. Baru tahu saya....

Minta ijin Berfoto sambil mendengarkan kisah Situs Duplang 

Di dalam kubur batu selalu ada bekal kubur berupa manik-manik serta perhiasan, tergantung dari kelas sosial pada waktu kehidupan sang mayat. Semua kubur yang ada di sekeliling Desa Kamal semuanya menghadap ke kubur batu yang ada di Desa Kamal maksudnya, kepala orang yang meninggal selalu mengarah ke kubur batu di Desa Kamal, mereka mengarah ke arah kubur batu tersebut karena orang yang di makamkan di kubur batu tersebut adalah tokoh masyarakat atau kepala suku.

Sayang nya saat ditemukan, bukti manik manik yang ada di Kubur Batu sudah tidak ada. 

Batu Kenong, Batu persembahan kepada arwah atau roh para leluhur. Tonjolan 1.
Batu Kenong 

Berikutnya di sebelah kanan pintu masuk ada sederatan batu yang posisinya tersebar. Namanya  Batu Kenong, Batu persembahan kepada arwah atau roh para leluhur.

Ada sekitar lebih dari 10  Batu Kenong yang ada di Situs Duplang.

Batu kenong Situs Duplang No Inventaris : 58/JBR/2012
  • Tinggi : 43 cm
  • Diameter : 52 cm
  • Diameter kenong : 6 cm
  • Tinggi kenong : 17 cm
  • Bahan : batu andesit
  • Keterangan : pada bagian bawah batu aus posisi in situ

Batu kenong Situs Duplang No Inventaris : 59/JBR/2012
  • Tinggi : 83 cm
  • Diameter : 63 cm
  • Diameter kenong : 6 cm
  • Tinggi kenong : 9 cm
  • Bahan : batu andesit
  • Keterangan : utuh

Batu kenong Situs Duplang No Inventaris : 60/JBR/2012
  • Tinggi : 57 cm
  • Diameter : 48 cm
  • Diameter kenong : 6 cm
  • Tinggi kenong : 3,5cm
  • Bahan : batu andesit
  • Keterangan : utuh

Batu kenong Situs Duplang No Inventaris : 61/JBR/2012
  • Tinggi : 50 cm
  • Diameter : 39 cm
  • Diameter kenong : 4 dan 6 cm
  • Tinggi kenong : 2,5 dan 3 cm
  • Bahan : batu andesit
  • Keterangan : aus pada bagian bawah

Batu kenong Situs Duplang No Inventaris : 62/JBR/2012
  • Tinggi : 28 cm
  • Diameter : 28 cm
  • Diameter kenong : 3 dan 3 cm
  • Tinggi kenong : 2,3 dan 3 cm
  • Bahan : batu andesit
  • Keterangan : utuh, batu kenong tonjolan dua berukuran kecil

Batu kenong Situs Duplang No Inventaris : 63/JBR/2012
  • Tinggi : 59 cm
  • Diameter : 33 cm
  • Diameter kenong : 5 cm
  • Tinggi kenong : 3 cm
  • Bahan : batu andesit
  • Keterangan : utuh

Batu kenong Situs Duplang No Inventaris : 64/JBR/2012
  • Tinggi : 78 cm
  • Diameter : 42 cm
  • Diameter kenong : 7 cm
  • Tinggi kenong : 10 cm
  • Bahan : batu andesit
  • Keterangan : utuh

Batu kenong Situs Duplang No Inventaris : 65/JBR/2012
  • Tinggi : 69 cm
  • Diameter : 56 cm
  • Diameter kenong : 7 cm
  • Tinggi kenong : 10 cm
  • Bahan : batu andesit
  • Keterangan : utuh

Batu Kenong, Batu persembahan kepada arwah atau roh para leluhur
Batu kenong adalah peninggalan masa prasejarah berupa batu berbentuk silinder dengan tonjolan di puncaknya. Batu kenong merupakan batu persembahan kepada arwah atau roh bagi orang yang sudah meninggal dunia. 

Batu Kenong, Batu persembahan kepada arwah atau roh para leluhur

Untuk wilayah Kabupaten Jember batu ini banyak diketemukan di Desa Kamal, Desa Arjasa Kecamatan Arjasa, Desa Panduman, Sucopangepok Kecamatan Jelbuk. Temuan batu kenong didaerah-daerah tersebut diatas memiliki kualitas yang cukup tinggi.

Setelah diperhatikan satu persatu, ternyata batu batu kenong ini memiliki perbedaa, disamping ukurannya yang tidak seragam, meskipun mirip, ternyata ada perbedaan di ujung batu, berupa tonjolan.

Batu Kenong, Batu persembahan kepada arwah atau roh para leluhur
Terdapat dua tipe bentuk yaitu - Perhatikan di foto dokumentasi : 
  1. Batu kenong yang mempunyai tonjolan satu dan 
  2. Batu kenong dengan tonjolan dua. 

Berdasarkan bentuk tonjolan pada puncak batu kenong dijumpai tiga buah bentuk tonjolan yaitu :

  1. Batu kenong yang memiliki tonjolan pada puncak berbentuk bulat;
  2. Batu kenong yang memiliki tonjolan pada puncak berbentuk lancip;
  3. Batu kenong yang memiliki tonjolan pada puncak berbentuk kotak.
Pada umumnya ukuran masing masing batu kenong tidak jauh berbeda, sedang letak dan posisinya ada yang sporadis dan ada pula yang berkelompok (biasanya empat penjuru mata angin 4 buah).
Batu Kenong, Batu persembahan kepada arwah atau roh para leluhur

Bentuk detail batu kenong adalah sebuah batu monolit yang dibentuk setengah bulat telur vertikal dengan satu atau dua pada bagian puncaknya. Namun ada juga batu kenong dengan profil berbeda yakni batu kenong susun bertrap, batu kenong dengan tonjolan lebar (disebut batu kenong nangka) dan batu kenong berprofil

Batu Menhir, Batu Tegak sebagai benda pemujaan terhadap arwah leluhur. Situs Duplang, Desa Kamal, Arjasa, Jember, Jawa Timur.
Batu Menhir

Batu Menhir, Batu Tegak sebagai benda pemujaan terhadap arwah leluhur
Menhir Situs Duplang No Inventaris : 55/JBR/2012
  • Tinggi : 123 cm
  • Diameter : 63 cm
  • Bahan : Batu andesit
  • Keterangan : Bentuk batu silinder panjang, aus pada bagian bawah dan atas
Menhir Situs Duplang No Inventaris : 57/JBR/2012
  • Tinggi : 95 cm
  • Diameter : 56 cm
  • Bahan : Batu andesit
  • Keterangan : Bentuk batu silinder, patah pada bagian atas.

Batu Menhir atau batu tegak yang diperkirakan dibuat sekitar tahun 2000 tahun yang lalu (awal masehi). Batu tegak atau menhir yaitu tiang batu atau tugu batu yang didirikan sebagai tanda peringatan yang melambangkan arwah nenek moyang dan menjadi benda pemujaan. Situs-situs menhir banyak ditemukan di Desa Kamal, Karena daerah ini memiliki suasana geografis daerah pegunungan yaitu gunung Sucopangepok. Daerahnya subur, banyak makanan dan air yang cukup mudah sehingga pada zaman dahulu banyak orang yang tinggal di daerah ini. 

Batu Menhir, Batu Tegak sebagai benda pemujaan terhadap arwah leluhur

Pada dasarnya menhir adalah batu tunggal (monolit) yang berasal dari periode neolitikum 4000 sebelum masehi, dan berdiri tegak di atas tanah. Menhir biasanya didirikan secara tunggal atau berkelompok.

Diperkirakan benda prasejarah ini didirikan untuk melambangkan phallus, yakni simbol kesuburan untuk bumi. Batu ini dinamakan juga sebagai batu besar (megalit) dikarenakan ukurannya, para arkeolog mempercayai menhir digunakan untuk tujuan religius dan memiliki makna simbolis sebagai sarana penyembahan arwah nenek moyang

Sekalian belajar sejarah juga ini sepertinya. Situs Duplang yang termasuk megalitikum, kira kira dikategorikan apa ya.

Menurut von Heine Geldern dalam Poesponegoro dan Notosusanto, 1993:224) bahwa zaman megalitikum dibagi menjadi dua gelombang yaitu :

  1. Megalitikum tua yang diwakili antara lain oleh menhir, undak batu dan patung patung simbolis-monumental bersama-sama dengan pendukung kebudayaan beliung yang diperkirakan berusia 2500-1500 Sebelum Masehi, dan dimasukkan pada masa neolithik;
  2. Megalitikum muda yang mewakili antara lain oleh peti kubur batu, dolmen semu, sarkofagus, yang berkembang dalam masa yang telah mengenal perunggu dan berusia sekitar awal milenium pertama Sebelum Masehi hingga abad-abad pertama Masehi.

Dengan demikian masyarakat penghuni wilayah Jember dapat diperkirakan sudah ada sejak 1500 Sebelum Masehi tatkalah megalitikum muda menyebar di Indonesia. Pada masa megalitikum muda ini berkembang di Indonesia didukung oleh kebudayaan Dongson (Deutro Melayu) yang menghasilkan peti kubur batu, dolmen, waruga sarkofagus dan berbagai bentuk arca yang dinamis keadaannya.

Wah hebat juga ya, ternyata Indonesia itu sudah menjadi lokasi kehidupan sejak 1500 sebelum masehi dengan ditunjukkan oleh peninggalan peninggalan cagar budaya Situs Megalitikum ini.

Hanya satu kata : menakjubkan!!! - Amazing !!!

Berikutnya ada beberapa pohon yang menurut saya usianya juga sudah cukup tua dan membuat suasana juga semakin menyeramkan.

Pohon di Situs Duplang

Pohon di Situs Duplang

Beberapa dokumentasi pribadi saat berkunjung ke Situs Duplang

Duduk Duduk di batu Kubur. Berani ya, karena ditemani Pak Darman

Duduk Duduk di batu Kubur. Berani ya, sekalilagi karena ditemani Pak Darman






 

Subscribe to receive free email updates:

14 Responses to "Situs Duplang, Situs Megalitikum Batu Menhir yang ada di Kamal, Arjasa, Jember, Jawa Timur "

  1. wqah baru tau tentang situs duplang ini, peninggakannya masih bagus ya dijaga dengan baik. semoga bisa menambah wawasan kita semua

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya Mbak, meski jauh dari keramaian dan bereada di daerah yang jarang dikunjungi orang, Situs Duplang tetap terawat

      Delete
  2. Lengkap sekali ulasannya tentang situs duplang. Ada juru kunci nya juga pak darman.

    Tempatnya asri soalnya di pinggir hutan ya. Tapi sayangnya sepi karena jauh dari jalan raya, mana itu situs makam jaman dahulu, takutnya ada penampakan.😱

    Situs seperti itu memang suka sepi mas. Disini di Cikande Serang juga ada situs batu menhir tapi ya sepi.

    Letaknya juga jauh dari jalan raya, rata rata situs megalitikum gitu ya.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya Mas Agus, sebelumnya sih nggak tahu kalau situs duplang itu adalah makam jaman dulu he..he....Awalnya sih udah ngerasa kok sepi banget ya. Setelah dijelaskan Pak Darman, makin merinding. Oh, di Cikande juga ada ya. Berarti hampir di seluruh Pulau Jawa, ada situs megalitikum ya. Betul Mas Agus, mungkin karena jauh dari jalanan dan kurang menarik untuk anak anak, makanya situs seperti ini sering sepi. Bekas Kuburan lagi ha..ha...Salam Sehat.

      Delete
  3. foto fotonya ciamik sekali nih Mas
    saya sendiri pas mantengin mulai foto jalan setapak itu ntah kenapa auranya bikin merinding

    kalau yang pas area di pekuburannya, kepalanya menghadap ke yang kubur batu semua menarik sih...

    ReplyDelete
    Replies
    1. Tuh khan, ada ngerasa aneh dan merinding ya. Siap, berikutnya berfoto sesuai saran. terima kasih Mbak Mbul, salam Sehat.

      Delete
  4. aku yang stay di Jember masih belum kesini, sedihh
    selama ini memang pernah denger dari temen kalau di daerah Arjasa ada situs kuno. Dan hanya sebatas wacana yang belum terlaksana

    kayaknya kalau aku sendirian kesana bakalan ga berani nih :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. Wah gitu ya, Ini pun sebenarnya saya juga kebetulan pas lagi survey Pohon Sengon Solomon eh disampingnya ternyata ada Situs ini. Ya akhirnya sekalian berkeliling dan ngobrol dengan Pak Juru Kunci. Siap Mbak Ainun, semoga bisa ke Situs DUplang, dan infonya ada 3 tempat, cuma saya hanya lihat 1 tempat saja. Salam sehat.

      Delete
  5. Aku termasuk orang yang suka berkunjung ke beberapa situs-situs bersejarah. Terutama yang sudah tua. Kapan nih pak eko jalan² ke tempat saya hehe.?

    ReplyDelete
    Replies
    1. wah, seneng sekali bisa ketemu sama teman yang sama hobbynya, berkunjung ke situs situs sejarah. Ayo. siap Om Afriant, lokasinya dimana Om. Semoga akses selama Covid dibuka.

      Delete
  6. lokasinya lumayan juga.... menarik dan informatif.

    thank you for sharing

    ReplyDelete
    Replies
    1. Terima kasih Pak. Situs Purbakala yang jarang pengunjung. Salam sehat Pak.

      Delete
  7. Aku baru tau tentang Situs Duplang ini lho :) Terpencil ya, ga disosialisasikan apa yach kan masyarakat jadi kurang ngeh dengan keberadaannya :) Unik2 juga bentuk batunya. Sekilas kayak batu biasa soalnya ukurannya ga gede2 amat. Senangnya Pak Eko jalan2 plus dapat wawasan sejarah juga.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya Bu, mungkin karena bentuknya hanya tumpukan batu dan tidak ada nilai hiburannya membuat orang enggan berkunjung. Sepertinya hanya yang tertarik dengan sejarah budaya atau karena tugas sekolah yang berkunjung ke sini. Padahal situs ini menurut saya sangat tinggi nilai sejarahnya. Betul Bu, jadi dapat wawasan baru mengenai sejarah leluhur Indonesia.

      Delete

Terima kasih atas kunjungan teman teman, semoga artikel bermanfaat dan silahkan tinggalkan pesan, kesan ataupun komentar.

Popular Posts