Terkena Diabetes Melitus, Saatnya berteman dengan Penyakit

Seri Kesehatan

Terkena Diabetes Melitus,
Saatnya berteman dengan Penyakit

Proses pemeriksaan Diabetes Melitus - Pixabay
Saya akan sedikit menuliskan pengalaman sebagai penderita Diabetes Melitus atau Penyakit Gula atau Penyakit Kencing Manis.

Saya didiagnosa sebagai penderita Diabetes Melitus pada tahun 2008. Saat itu saya sedang perjalanan dari Kota Bengkulu ke Kota Curup yang hanya berjarak sekitar 70 km.  
  
Gejala awal adalah rasa haus yang mendera, hingga hanya dalam waktu 2 jam saja, saya menghabiskan minuman kemasan hingga 8 botol.

Semakin minum, rasa haus semakin datang.  Kesalahan saya saat itu adalah saya minum dari minuman kemasan botol yang berasa manis alias kandungan gulanya tinggi.

Alhasil, bukannya reda hausnya, tetapi tenggorokan tetap terasa tercekat.  Pulang dari dinas, saya pun terkapar sakit dan tidak bisa bangun.

Badan terasa lemas dan tidak bertenaga.  

Saya pun memeriksakan diri ke Dokter umum yang ada di perumahan dan diagnosa pertama adalah saya mengalami depresi  dan stress tingkat tinggi, dan mesti istirahat.

Tanpa pemeriksaan laboratorium, tanpa pengecekan gula hanya pengecekan tekanan darah. 

Akhirnya, kondisi sudah tidur terus karena lemas, diberikan obat depresi, saya semakin sering tidur tidur dan tidak bertenaga.

Karena tidak ada perubahan,saya pun akhirnya mencari second opinion ke dokter kedua.  Akhirnya saya bertemu dengan Dokter Spesialis Internist yang baik, dr Trisutowo di sebuah rumah sakit terkenal di Bekasi.

Setelah mendengar cerita saya, beliau pun langsung menulis rujukan untuk melakukan uji Laboratorium untuk mengetahui kondisi badan sehingga memudahkan untuk mendiagnosa dan menentukan penyakit.

Lansung menuju Laboratorium dan sekitar 2 jam menunggu hasil uji laboratorium, saya pun menyerahkan hasil lab (Lab Result) ke dokter.

Ternyata kadar gula sesaat saya adalah 380, dan saya dinyatakan positif menderita diabetes.

Saya yang memang rajin olah raga dan menjaga makanan, meskipun kadang kadang kuliner yang enak, kaget juga didiagnosa Diabetes.

Saya dinyatakan terkena Diabetes. Di daftar hasil laboratorium, kadar gula darah saya diketik dengan warna merah : 380 mg/dL

Saya dinyatakan penderita Diabetes Tipe 2. 

Begini penjelasan dokter tentang saya dinyatakan diabetes, batasan kadar gula normal dalam darah dan berikut ini merupakan kisaran kadar gula darah yang normal di tiap waktu:
  1. Setelah tidak makan selama 8 jam (gula darah puasa): kurang dari 100 mg/dL
  2. Sebelum makan: 70-130 mg/dL
  3. Setelah makan (1-2 jam setelah makan): kurang dari 180 mg/dL
  4. Sebelum tidur : 100-140 mg/dL
  5. Seseorang dapat dikatakan memiliki gula darah tinggi jika gula darah sewaktunya lebih dari 200 mg/dL, atau 11 milimol per liter (mmol/L).
Baca juga Artikel :

Sementara itu, seseorang disebut memiliki gula darah rendah jika kadarnya turun drastis di bawah 70mg/dL. Mengalami salah satu dari kondisi tersebut dapat diartikan kadar glukosa darah Anda sudah tidak lagi normal.

Kadar gula dalam darah bisa saja naik dan turun tergantung dengan aktivitas fisik harian, jenis makanan yang dikonsumsi, efek samping obat, stres, dan lain-lain.

Setelah kembali dari dokter dengan berbagai obat, saya pun kembali pulang ke rumah dengan berbagai tanda tanya.

Perkebunan Kopi tempat bekerja di Sumatra, Asri dan Tentram

Kenapa saya yang rajin olah raga, kadang bersepeda hingga 100 km, jogging, hidup di tempat yang segar, karena saya lebih banyak tinggal di Perkebunan Kopi dan mengkonsumsi hampir 80% masakan di area kebun yang sehat dan dimasak dengan baik dan layak oleh Bu Kantin, Ibu Suti. 

Ternyata ada faktor keturunan 20% dan yang paling utama adalah Faktor Stress.

Suasana yang nyaman bekerja di Perkebunan Kopi Arabica di Sumatra, Bersama Pak Surip Mawardi

Memang dalam bekerja, terkadang tekanan muncul karena mengejar target perusahaan dan proses dalam mencapai karier. 

Tidak dipungkiri, dengan idealisme dan semangat bekerja yang menggebu, terkadang kita lupa bahwa fisik tubuh dan pikiran juga terbatas dan ada batasnya.

Tekanan bertubi tubi baik karena menyelesaikan masalah teknis maupun masalah sosial dalam ritme pekerjaan yang menguras energi dan pikiran, lambat laun menumpuk dan mengganggu irama metabolisme tubuh.

Sebagai Coffee Cup tester

Diabetes melitus merupakan penyakit yang sering dijumpai di masyarakat kita. Jika terdiagnosis sejak dini dan gula darah dapat dikendalikan, penyandang diabetes melitus dapat hidup normal meski harus mengubah gaya hidupnya. Kenyataannya, banyak kasus diabetes melitus terdiagnosis sudah terlambat, bahkan sebagian penderita berobat ke dokter karena gejala komplikasi jangka panjang diabetes melitus.

Hal itu artinya penderita sudah menderita diabetes melitus lama sekali, tetapi tidak dipedulikan. Mereka yang mempunyai keluarga penyandang diabetes melitus perlu memeriksakan diri apakah terkena diabetes atau tidak. 

Beruntunglah mereka yang tak terkena penyakit ini, tetapi jika ada riwayat keluarga tetap harus hati-hati menjaga berat badan serta mengurangi konsumsi karbohidrat terutama gula.

Diabetes melitus merupakan penyakit kronik yang memerlukan pemahaman penderita dan keluarga. Dokter hanya dapat memberikan nasihat dalam waktu singkat. Namun, kehidupan seorang penyandang diabetes melitus ditentukan oleh penyandang sendiri dengan bantuan keluarga. Jadi, tak cukup hanya dengan memahami penyandang diabetes melitus perlu pengaturan makan. 

Perlu pemahaman lebih rinci,  
  1. Makan pagi, siang, dan malam bagaimana. 
  2. Komposisi makanannya bagaimana.
Bahkan, sebaiknya dibuatkan menu yang sesuai dengan selera penyandang diabetes, tetapi masih memenuhi persyaratan pengendalian gula darah. Gula darah yang tinggi dalam waktu lama dapatmemengaruhi pembuluh darah besar ataupun kecil serta juga sistem saraf. Karena itulah, dapat terjadi komplikasi stroke, penyakit jantung koroner, perdarahan pembuluh darah retina, gangguan fungsi ginjal dengan pengeluaran protein berlebih, bahkan dapat terjadi gagal ginjal kronik.

Pemeliharaan kaki memerlukan perhatian khusus untuk penyandang diabetes melitus. Umumnya dokter tidak menyarankan penyandang diabetes tidak memakai alas kaki karena dapat menimbulkan luka pada kaki. 

Kebiasaan menginjak kerikil tanpa alas kaki untuk memperlancar peredaran darah berisiko menimbulkan luka yang dapat terinfeksi.

Setelah memahami kebiasaan hidup sehari-hari, pahamilah obat-obat pengendali gula darah yang berbentuk tablet ataupun suntikan insulin. Obat itu harus digunakan pada waktu yang benar dan dalam dosis yang benar. Jika dosis terlalu besar, dapat menyebabkan gula darah turun (hipoglikemia), sedangkan jika dosisnya kurang, terjadi gula darah yang tinggi(hiperglikemi). 

Penyandang diabetes juga perlu memahami hasil-hasil laboratorium baik gula darah,fungsi ginjal, maupun protein dalam air kemih, dan sebagainya.

Olahraga perlu dijalankan sedikitnya lima kali dalam seminggu. Tak cukup hanya pada Sabtu dan Minggu. Jika berjalan kaki, sedikitnya 30 menit dan dilaksanakan dengan konsisten. 

Sebaiknya penyandang diabetes mempunyai alat medis sederhana seperti tensimeter (pengukur tekanan darah) serta alatlaboratorium mandiri (untuk mengukur gula darah, kolesterol, dan lain-lain). 

Pada era pandemi Covid-19 saat ini pemeriksaan di rumah dapat mengurangi kunjungan ke rumah sakit yang sedang sibuk menangani Covid-19.

Hubungan dokter dan penyandang diabetes melitus perlu dibangun sehingga hubungan tersebut menjadi komunikasi yang efektif. Dokter dapat menjadi sahabat dan pendamping penyandang diabetes melitus.
Penderita Diabetes harus mengendalikan nafsu makan - Pixabay

Namun, untuk melaksanakan semua pengendalian, peran penyandang dan keluarga amat penting. Pada tahap permulaan mungkin banyak pemeriksaan yang harus dilakukan. Namun, jika gula darah sudah terkendali, penyandang diabetes melitus mungkin cukup bertemu dokter sebulan atau dua bulan sekali.

Kenapa masih sering terjadi komplikasi diabetes melitus jangka  panjang, bukankah komplikasi tersebut sebenarnya dapat dicegah?

Ada kemungkinan itu terjadi karena diabetes terdiagnosis sudah ada komplikasi. Mungkin juga diabetes melitus terdiagnosis dini, tetapi penyandang atau keluarga memilih pengobatan lain selain pengobatan kedokteran yang kadang menjanjikan penyembuhan. 

Konsumsi makanan Sehat bagi Penderita Diabetes melitus
Jika gula darah tak terkendali dalam waktu lama, berbagai komplikasi dapat timbul akibat pengaruh hiperglikemi pada pembuluh darah dan sistem saraf.

Jadi, bagaimana mencegah komplikasi? 
  1. Amalkan gaya hidup sehat sesuai anjuran dokter dengan konsisten. 
  2. Minum obat secara teratur.
  3. Olahraga sesuai yang dianjurkan. 
  4. Pengaturan makan sudah menjadi kebiasaan sehari-hari,tidak sering dilanggar. Konsultasiteratur dengan dokter dan pantau pemeriksaan laboratorium dan pemeriksaan penunjang lain dengan teratur pula. 
Penderita diabetes rajin berolah raga
Pada tahap permulaan, mungkin Anda penderita diabetes baru akan merasa sulit melaksanakan gaya hidup barunya, tetapi nanti jika sudah menjadi kebiasaan sehari-hari akan terasa mudah dan biasa saja. Semoga Anda sekeluarga tetap sehat selalu.

Beberapa pengalaman terkait komplikasi akibat teman Diabetes.
  1. Bisul di kaki yang harus dioperasi karena komplikasi Diabetes
  2. Operasi Katarak karena komplikasi Diabetes
  3. Operasi pemasangan Ring Jantung diagnosa Angina Pectoris ec CAD  karena komplikasi Diabetes tahun 2017
Kisah berikutnya, Menjalani Kehidupan Bersama Diabetes Melitus....

Operasi pemasangan Ring Diagnosa Angina Pectoris 

Jangan menyerah dengan diabetes, 
jangan dijadikan musuh, tetapi 
dijadikan teman seiring sejalan.

Kalau teman tidak akan menyakiti, tetapi menyayangi.
Kontrol rutin ke Dokter dan Rajin olah raga. 



Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "Terkena Diabetes Melitus, Saatnya berteman dengan Penyakit"

Post a Comment

Terima kasih atas kunjungan teman teman, semoga artikel bermanfaat dan silahkan tinggalkan pesan, kesan ataupun komentar.

Popular Posts