Pengalaman Berkesan Naik Kereta Singasari Bekasi - Blitar melintas 27 Stasiun (Bagian 1).

Pengalaman Berkesan Naik Kereta Singasari Bekasi - Blitar Melintas 27 Stasiun (Bagian 1)

Bagian 1. Bekasi - Cirebon
Baca Juga : Bagian 2. Cirebon - Blitar

Setelah sekian lama tidak naik kereta api, maka kali ini saya berlibur dan mudik ke Kota Blitar, kota tempat tinggal dari SD sampai SMA. Bukan kota kelahiran.
Kereta yang saya naiki adalah Kereta Singasari.
Kereta Api Singasari
Sedikit informasi mengenai Kereta Api Singasari.
Kereta api Singasari alias Sepur Singhasari) merupakan layanan kereta api penumpang kelas eksekutif dan ekonomi plus milik PT Kereta Api Indonesia untuk melayani lintas Blitar sampai Pasar Senen lewat Yogyakarta dan sebaliknya.

Kereta Api Singasari ditarik oleh lokomotif CC 201 dan Lokomotif CC 203.
Lokomotif CC 201 adalah lokomotif diesel elektrik milik PT Kereta Api Indonesia yang diproduksi oleh General Electric Transportation dengan jenis model U18C. Lokomotif CC 201 mempunyai konstruksi yang ramping dengan berat 84 ton dan daya mesin 1950 hp. Lokomotif ini memiliki susunan gandar Co'Co', yang berarti lokomotif memiliki 2 bogie masing-masing 3 gandar dengan total 6 motor traksi, sehingga lokomotif ini dapat dioperasikan pada lintas datar maupun pegunungan. Lokomotif ini sama seperti lokomotif GE lainnya, mampu berlari sampai kecepatan 120 km/jam, meskipun kecepatan kereta api saat ini dibatasi maksimal 90 km/jam.

Lokomotif CC 203 adalah lokomotif diesel elektrik milik PT Kereta Api Indonesia yang diproduksi oleh General Electric Transportation dan PT GE Lokomotif Indonesia dengan nomor model U20C. lokomotif ini adalah "lokomotif hasil pengembangan desain dari lokomotif CC 201" dari segi data teknis, tetapi pada bentuk kabin masinis ujung pendeknya yang aerodinamis, serta diperlebar untuk kenyamanan dan mengurangi penumpang liar. Lokomotif ini bergandar Co'Co'. Artinya adalah lokomotif dengan dua bogie yang mempunyai tiga poros/gandar penggerak yang masing-masing digerakkan oleh motor traksi tersendiri. 
Yang membedakan adalah lokomotif CC 203 menggunakan motor diesel dengan dua tingkat Turbocharger sehingga dayanya mesinnya 2.150 hp.

Urutan Stasiun yang disinggahi oleh Kereta Api Singasari sekitar ada 27 Stasiun:
  1. Bekasi
  2. Karawang
  3. Cikampek
  4. Haurgeulis
  5. Jatibarang
  6. Cirebon
  7. Prupuk
  8. Bumiayu
  9. Purwokerto
  10. Gombong
  11. Kebumen
  12. Kutoarjo
  13. Wates
  14. Lempuyangan
  15. Klaten
  16. Purwosari
  17. Walikukun
  18. Ngawi 
  19. Magetan
  20. Madiun
  21. Caruban 
  22. Nganjuk
  23. Kertosono
  24. Kediri
  25. Tulung Agung
  26. Ngunut
  27. Blitar

Secara lengkap ada 27 stasiun yang akan saya singgahi.

Kembali melanjutkan cerita. 
Tiket Keberangkatan yang menunjukkan waktu keberangkatan dan kedatangan Kereta Singasari
Tiket saya beli via on line di KAI Acces dengan proses yang cepat dan mudah. yang penting adalah KTP alias identitas dan ada uangnya.

Pemesanan melalui internet dan pembayaran via ATM BCA atau Indomart atau Alfa mart. Memang sekarang hampir semua pelayanan transportasi diberikan kemudahan dan kenyamanan sebagai pelayanan pemerintah kepada masyarakat.

Saya memesan tiket kereta api Singasari dengan tujuan Blitar naik dari kota tempat tinggal saya Bekasi dengan harga yang sangat terjangkau yaitu sebesar Rp. 380 k.

Pada hari keberangkatan, saya datang lebih awal ke Stasiun Bekasi agar bisa menunggu dengan tenang sambil main game COC alias Class of Clan, mirip anak kecil ya.

Ruang tunggu di Stasiun Bekasi sudah sangat penuh apalagi pada Desember 2019, Stasiun Kota Bekasi masih dalam tahap renovasi untuk menjadi Stasiun yang lebih baik.
Ruang Tunggu Kereta jarak jauh Stasiun Bekasi yang penuh penumpang yang akan berangkat


30 menit sebelum keberangkatan, penumpang sudah boleh menunggu di Peron kedatangan kereta dan dipersilahkan masuk oleh petugas.

Suasana akhir tahun membuat penunpang agak penuh dan memenuhi ruang tunggu, dan akhirnya saya  memilih untuk masuk ke Peron.
Peron jalur 4 Stasiun Kota Bekasi yang masih lengang
Memasuki Peron Stasiun di jalur 4, sesuai informasi kedatangan dan keberangkatan Kereta Singasari.  Suasana di Peron masih lengang, terlihat beberapa penunpang memanfaatkan jasa porter untuk mengangkut barang barang bawaan.
Penumpang mulai memasuki Peron Jalur 4
Jam 13.12 WIB waktu Kota Bekasi, Kereta Singasari sudah memasuki peron jalur 4 dan parkir menunggu proses masuk penumpang.
Kereta Api Singasari dengan Lokomotif CC 201
Saya duduk di dekat jendela, tempat duduk favorit kalau sedang dalam perjalanan.karena supaya bisa foto pemandangan dan situasi di luar kereta.

Sebenarnya, keinginan saya naik kereta sudah lama karena ingin membuktikan slohan KAI yang infonya Kereta semakin tepat waktu.

Pengalaman Perjalanan kereta api bulan Desember 2019 dan saat penulisan sudah bulan Juni 2020, mungkin ada perubahan jadwal kereta tetapi paling tidak memastikan ketepatan waktu perjalanan kereta sesuai tata waktu yang tertera di Jadwal.

Stasiun Karawang 16 m dpl
Stasiun Pertama kereta api saat berangkat dari bekasi adalah Stasiun Karawang yang berada di 16 m dpl sesuai informasi dari keterangan Stasiun.


Stasiun Karawang

Ada beberapa penumpang yang naik dari Stasiun Karawang dan di sini kereta hanya berhenti selama 3 menit.  Setiap akan berhenti, dikumandangkan informasi stasiun pemberhentian dan lamanya waktu berhenti. Mungkin untuk memperingatkan para penumpang agar waspada dan tidak ketinggalan kereta jika mereka turun.

Kereta diberangkatkan dari Stasiun Karawang dengan arahan Pak Wahyudin, petugas peron atau bahkan kepala Stasiun Karawang. Mungkin lo ya.


Pak Wahyudin petugas Stasiun Karawang dengan gagah memberangkatkan kereta
Keluar dari Stasiun Karawang, saya melihat banyak industri yang dibangun dan padi yang terhampr luas. Karawang merupakan salah satu lumbung padi yang secara perlahan menyusut karena berkembangnya industri.

Kereta Singasari melanjutkan perjalanan ke Stasiun Cikampek.
Kereta Api sesuai janjinya, tepat waktu bahkan sampai ke menit serta ke detik. Tidak lagi seperti lagu Iwan Fals, Kereta tiba Pukul Berapa. Sekarang memang tepat waktu. Salut untuk KAI.


Stasiun Cikampek

Stasiun Cikampek, 46 m dpl.
Di stasiun ini saya dapat teman duduk dengan tujuan Yogyakarta. Bersyukur ada teman ngobrol dan teman untuk menitipkan barang kalau lagi ke toilet atau pas memfoto suasana di luar kereta.

Stasiun Cikampek (CKP) merupakan stasiun kereta api kelas besar tipe B yang terletak di Cikampek Kota, Cikampek. Stasiun yang terletak pada ketinggian +46 meter ini merupakan stasiun yang lokasinya paling timur dari Daerah Operasi I Jakarta dan Kabupaten Karawang, serta merupakan stasiun kereta api terbesar di Kabupaten Karawang.


Stasiun ini menjadi salah satu stasiun penting bagi perjalanan KA dari Jakarta ke berbagai kota di Pulau Jawa. Di sebelah timur stasiun, jalur bercabang dua: jalur sebelah utara menuju Cirebon, sedangkan jalur sebelah selatan menuju Bandung. Dahulu, sebelum beroperasinya jalur ganda petak Cikampek-Cirebon, hampir semua KA yang berangkat dari Jakarta berhenti di stasiun ini. Tujuannya ialah untuk memastikan petak jalur di depannya sudah aman untuk dilewati KA-KA berikutnya dan sering kali untuk menunggu persilangan KA dari arah Cirebon, terutama pada pagi dan sore hari. Dahulu ada jalur yang menuju ke Cilamaya yang sudah dinonaktifkan pada tahun 1970-an.

Selepas Stasiun Cikampek, pemandangan dipenuhi areal sawah yang habis dipanen dan sebagian sudah ada yang dikerjakan.

Memang julukan Cikampek sebagai lumbung padi Nasional tidaklah salah. Pusat Produksibenih padi ada di Cikampek tepatnya di Sukamandi yaitu PT Sang Hyang Seri. 
Lahan Sawah Setelah panen di Cikampek

Lahan Padi Sawah setelah panen di Cikampek

Tambak di Cikampek salah satu sumber pendapatan Cikampek
Stasiun Haurgeulis
Stasiun berikutnya adalah Stasiun Haurgeulis. 
Stasiun Haurgeulis (HGL) merupakan stasiun kereta api kelas I yang terletak di Haurgeulis, Haurgeulis, Indramayu, tepatnya di depan barat Pasar Haurgeulis. Stasiun yang terletak pada ketinggian +23 m ini termasuk dalam Daerah Operasi III Cirebon dan merupakan stasiun yang letaknya paling barat di Kabupaten Indramayu.

Stasiun ini merupakan stasiun penting di wilayah Indramayu Barat karena menunjang transportasi bagi masyarakat di area Kecamatan Haurgeulis, Gantar, Anjatan, Patrol, Bongas, dan sekitarnya yang akan melakukan perjalanan menggunakan moda kereta api ke berbagai jurusan di Jawa.

Di Stasiun ini banyak ditumpuk kereta kereta bekas yang sudah rusak dan terlihat berkarat.
Tempat penumpukan Kereta Rusak

Lalu lintas Kereta barang
Stasiun Jatibarang
Stasiun Jatibarang (JTB) adalah stasiun kereta api kelas besar tipe C yang berada di Jatibarang, tepatnya di Jalan Mayor Sangun (Pasar), depan Pasar Jatibarang. Stasiun yang terletak pada ketinggian +8 meter ini termasuk dalam Daerah Operasi III Cirebon. 
Memasuki Stasiun Jatibarang
Stasiun ini merupakan satu-satunya stasiun besar yang ada di Kabupaten Indramayu. Stasiun ini memiliki lima jalur kereta api dengan jalur 2 dan 3 sebagai sepur lurus.

Stasiun Jatibarang

Stasiun Jatibarang
Stasiun Cirebon
Stasiun Cirebon (CN) juga dikenal sebagai Stasiun Kejaksan) merupakan sebuah stasiun kereta api kelas besar tipe A yang terletak di Kebonbaru, Kejaksan, Kota Cirebon. Stasiun yang terletak pada ketinggian +4 m ini merupakan stasiun terbesar yang berada dalam pengelolaan PT Kereta Api Indonesia (Persero) Daerah Operasi III Cirebon.


Stasiun Cirebon
Di Stasiun Cirebon kereta berhenti cukup lama dan sudah ada penumpang yang turun. Berarti ada penumpang yang menggunakan jasa kereta Singasari ini untuk rute jarak pendek. Jakarta - Cirebon. Jadi tidak perlu menggunakan  kereta api khusus tujuan Cirebon.
(salah satu Tips untuk penumpang awam seperti saya, Jakarta - Cirebon dengan kereta tujuan Jawa Timur dan Jawa Tengah)

Stasiun Cirebon memiliki enam jalur kereta api ditambah satu jalur yang terhubung dengan dipo lokomotif dan dipo kereta yang terletak di sisi timur laut kompleks stasiun. Awalnya, jalur 2 merupakan sepur lurus arah Cikampek-Jakarta maupun arah Tegal, sedangkan jalur 3 merupakan sepur lurus percabangan dari dan ke arah Prupuk-Kroya. Setelah jalur ganda pada segmen stasiun ini hingga Stasiun Haurgeulis resmi dioperasikan pada tahun 2003, jalur 3 juga dijadikan sebagai sepur lurus jalur ganda dari arah Cikampek-Jakarta
Stasiun Cirebon

Stasiun Cirebon

Di Stasiun Cirebon beberapa penumpang baru ada yang naik dan sekitar 7 menit. Terlihat beberapa porter juga memasukkan barang semacam paket ke kereta.

Pas di Cirebon juga, saya memesan kopi di kereta restorasi yang kebetulan letaknya tidak jauh dari Gerbong yang saya naiki. Selisih 1 gerbong, sudah sampai di kereta restorasi.

Tersedia menu Nasi Goreng, Pop Mie, Hika Hoka bento atau menu pesanan lainnya dan aneka minuman teh dan kopi yang disajika oleh pramusaji yang  berpengalaman dan bersih.

Hari masih terang dan belum terlalu gelap. Cerita Perjalanan Bekasi Cirebon masih semangat karena masih fit dan suasana masih terang.

Selanjutnya ke Stasiun Prupuk, Bumi Ayu, Purwokerto dst.

Berikutnya akan saya lanjutkan di 
Pengalaman Berkesan Naik Kereta Singasari Bekasi - Blitar melintas 27 Stasiun (bagian 2).








Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "Pengalaman Berkesan Naik Kereta Singasari Bekasi - Blitar melintas 27 Stasiun (Bagian 1)."

Post a comment

Popular Posts