Pengalaman Berkunjung ke Istana Gebang, Kisah Masa Muda Bung Karno dan Ibu

Seri Museum 

Istana Gebang
Kisah Masa Muda Bung Karno dan Ibu,
Pengalaman Berkunjung ke Istana Gebang. 

Saat pulang ke Blitar, kampung halaman dan tempat saya mudik, saya berkesempatan untuk mengunjungi Rumah Bung Karno. Istana Gebang.

Dulu saya sering mengantar tamu atau wisatawan asing yang berkunjung ke Makam Bung Karno dan melanjutkan perjalanan wisatanya ke Rumah Ibunya Bung Karno di Blitar.
 
Istana Gebang, Jl. Sultan Agung No. 59 Blitar

Rumah Ibu Bung Karno ini sekarang dijadikan Museum dan disebut Istana Gebang, adalah kompleks bangunan yang berada di jalan Sultan Agung Nomor 57 – 59 dan 61, Kampung Gebang, Kelurahan Sanan Wetan, Kecamatan Sanan Wetan, Kotamadya Blitar Provinsi Jawa Timur.

Kalau dulu saya mengantar wisatawan, sekarang saya datang sendiri sbagai wisatawan.

Kali ini saya benar benar menikmati suasana sunyi, sepi, bersih, nyaman dan tentram saat memasuki rumah Istana Gebang ini. 


Istana Gerbang Tampak dari depan

Dinamakan ISTANA GEBANG mengikuti nama nama tempat yang berkaitan dengan kegiatan Presiden Republik Indonesia yang pertama “Bung Karno” alias Ir. Soekarno, seperti Istana Merdeka, Istana Negara, Istana Bogor, Istana Batu Tulis, Istana Cipanas, Istana Gedung Agung Yogyakarta dan Istana Tampak Siring di Bali dan memang telah dikenal dengan nama tersebut sejak   tahun lima puluhan.

Merujuk dari buku “Bung Karno Penyambung Lidah Rakyat” alih bahasa oleh Mayor Abdul Bar Salim, Penerbit Gunung Agung dari Buku Sukarno, an autobiography as told to Cindy Adams edisi Amerika Serikat yang diterbitkan oleh The Bobbs Merrill Company inc, New York tahun 1965 di halaman 47 alinea pertama menerangkan bahwa Ayahanda Bung Karno yaitu R. Soekeni  Sosrodidihardjo yang bertugas sebagai  dipindahkan dari Mojokerto ke Blitar pada tahun 1917, menjabat sebagai Mantri Guru Sekolah Guru Laki Laki (Normal Jongens School) yang lokasinya sekarang adalah SMAN 1 Blitar.

Berikutnya di halaman 50 alinea ketiga diperoleh keterangan bahwa  di musim kemarau tahun 1918 (Tahun yang benar adalah 1919) ketika Bung Karno sedang pulang ke Blitar dalam waktu liburnya, setibanya di tempat kawan kawannya di Wlingi yang  berjarak 20 km sebelah timur Blitar dan Gunung Kelud meletus dengan hebatnya sehingga memutuskan jalur transportasi baik mobil maupun kereta api.

Selanjutnya di halaman 51 alinea keempat tertulis  Di Surabaya Pak Tjokropan rupanya merasa tjemas memikirkan keadaanku. Ia menaiki mobilnya dan melakukan perdjalanan  sehari penuh hanja karena hendak mengetahui  bagaimana keadaanku. Mula mula ia tidak dapat menemuiku atau orang tuaku. Rumah kami selamat akan tetapi rumah itu sudah mendjadi tumpukan lahar dan lumpur.  

Sampai di djalan Sultan Agung 53 ia hanya mendapati rumah kosong sama sekali.

Dari keterangan tersebut di atas dapat disimpulkan bahwa Istana Gebang mulai ditempati oleh Keluarga Bung Karno tahun 1917 – 1919, dibeli dari seorang warga Belanda CH Portier Pegawai Kereta Api di Blitar dan dari beberapa sumber lisan rumah ini beriringan dengan pembangunan Stasiun Kereta Api Blitar di tahun 1884.

Memasuki gerbang depan, kita disambut dengan patung Bung Karno yan tegap berdiri.

Teras Depan sekaligus Ruang Tamu Istana Gebang


Ketika Studi di Technische Hogere School di bandung (Sekarang ITB) Bung Karno masih harus sering berkunjung ke Istana Gebang baik disaat saat liburan maupun meminta uang kuliah dan pemondokan kepada orang tuanya dan kakaknya Sukarmini yang telah bersuamikan Bapak Puguh, seorang pegawai Dinas Pekerjaan Umum di Malang.

Demikian pula selepas kuliahnya dimana memimpin pergerakan kemerdekaan Bung Karno tetap sering berada di Blitar untuk silaturahmi dengan orang tuanya dan keluarganya. Baru setelah masa pembuangan di Ended an Bengkulu,  Bung Karno terpisah dengan rumah ini, orang tua, saudara dan handai taulannya.


Dimasa pendudukan balatentara Jepang, Bung Karno didapati berada di rumah ini meskipun tidak terlampau sering karena kegiatannya mempersiapkan kemerdekaan Indonesia dari rumahnya di Pegangsaan Timur 56 Jakarta. 

Ayahanda dan Ibunya Bung Karno sempat diboyong dari Blitar untuk tinggal di Jakarta menjelang Guntur Sukarnoputra lahir di tahun 1944. Namun pada tanggal 8 Mei 1945 Ayahanda Bung Karno wafat dan dimakamkan di pemakaman Karet, justru hanya bertaut waktu 24 hari dari lahirnya Pancasila yang dipidatokan oleh Bung Karno pada tanggal 1 Juni 1945 yang selanjutnya ketika pemugaran Makam Bung Karno di tahun 1978 jenasah ayahandanya dipindahkan untuk disatukan di dalam satu tempat di makam Bung Karno dan ibundanya.

Cerita tentang sejarah rumah Istana Gebang dan cerita yang menyertainya sudah, berikut saya akan menyusuri rumah dari halaman, teras depan dan masuk dari pintu depan.
 
Ok, sekarang lansung memasuki rumah.

Jelajah Rumah Ibu Bung Karno

Kawasan rumah Ibu Bung Karno kalau dilihat dari depan ada beberapa bagian

Bangunan Bangunan di Museum Istana Gebang

Bangunan yang terdapat di area Rumah Ibu Bung Karno, dimulai dari 
paling kiri ada 
  • Kantin dan Pujasera, 
  • Area Parkir, 
  • Gedung Kesenian, 
  • Ruang Kentongan
  • Bangunan Rumah Utama
  • Patung Bung Karno
  • Rumah samping 
  • Penjual Souvenir
  • Gong Perdamaian 

Berikut urutan bangunan mulai dari patung Bung Karno hingga teras depan.

Patung Bung Karno di Depan Rumah Utama Istana Gebang

Patung Bung Karno di depan bangunan utama, yang tegak, tegap dan kokoh. 


Selanjutnya masuk ke bangunan utama dengan menaiki tangga.  Saya memasuki rumah utama dari teras depan yang bangunannya masih asli dan rapi. 

Tangga masuk ke Rumah Ibu Bung Karno. Kewajiban melepas Alas kaki.

Berikutnya pengunjung diminta untuk mengisi Buku tamu yang ada di sisi kiri bangunan.


Di teras ada 2 set kursi tamu yang umurnya sudah cukup tua. 



 di Dinding tampak lukisan Bung Karno diapit oleh lukisan Ayah dan Bundanya.


Ruang Tamu Istana Gebang, dengan Lukisan Bung Karno yang Gagah

Bangunan Istana Gebang atau Rumah Ibu Bung Karno terdiri dari :
Rumah Induk
Sisi Kiri
  • Ruang Tamu
  • Kamar Tidur Bung Karno dimasa muda
  • Ruang Keluarga
Di ruang tamu, ada 2 set meja kursi kayu jati dan berbagai hiasan yang benilai sejarah.
Mesin Ketik di Meja Kerja Bung Karno

Ada mesin tik yang sepertinya saat itu sangat penting dan berperan dalam keluarga di rumah ini.
1 Set Meja, Kursi dan mesin tik 

Ada juga kursi goyang dan ada barang yang dimasukkan ke etalase.

Ruang tamu dengan 1 set kursi tamu jati dan segala pernak pernik berbagai barang  

Selain itu pernak penik yang


Tampak Pavilyun yang dilihat dari Jendela kamar Bung Karno

Kamar Orang Tua Soekarno sekaligus Kamar Sang Proklamator

Kamar Utama dengan Koleksi Tongkat dan Tombak
Sisi Kanan
  • Kamar tidur tamu laki laki
  • Kamar tidur tamu wanita
  • Kamar kakak Bung Karno, Ibu Sukarmini
  • Kamar Ayah Bunda Bung Karno, selanjutnya Kamar Bung Karno setelah menjadi Presiden setiap berkunjung ke rumah ini, lengkap dengan kamar mandi dalam
  • 2 Gandok kiri untuk kamar tidur tamu selain keluarga dekat berikut teras dalam dan kamar mandi tamu.
  • Selanjutnya beberapa kamar menjadi kamar putra putri Bung Karno ketika berkunjung ke Blitar
Ruang Keluarga Istana Gebang

Diantara bangunan utama dan bangunan belakang, ada Meja Teras Tengah Ruang santai.

Koridor yang menghubungkan ruag tamu dan ruang santai


Tempat pilihan santai bersama keluarga dan handai taulan, baik semasa remaja Bung Karno hingga setelah menjadi Presiden berkunjung ke Blitar dan tempat yang sering dipakai untuk berkumpulnya pencinta Bung Karno.

Ruang santai di Selasar belakang
Di tempat ini pula telah berlangsung peristiwa bersejarah yang perlu diketahui  oleh semua generasi muda terutama para anggota TNI.  Mengingat tempat ini adalah tempat pertemuan Shodanco Supriyadi , Shodanco Muradi dan Dr. Ismangil menghadap Bung Karno yang sedang berkunjung ke rumah ini untuk menyampaikan rencananya, bahwa para prajurit PETA Blitar akan melakukan pemberontakan kepada Jepang meskipun Bung Karno saat itu telah menasehati untuk memperhitungkan dengan cermat karena perimbangan kekuatan yang tidak memungkinkan pemberontakan tersebut akan berhasil, akan tetapi semangat para anggota tentara peta telah bulat dan tidak dapat dihalang halangi maka pada pukul 03.00 dini hari tanggal 14 Pebruari 1945 meletuslah pemberontakan tersebut.

Ruang Makan Keluarga di Rumah Ibu Bung Karno


Ruang Makan Keluarga
Digunakan untuk makan bersama baik keluarga kakak Bung karno maupun keluarga Bung Karno saat berada di Blitar.

Hiasan bertuliskan huruf Jepang di Ruang makan Rumah Istana Gebang
Ada tersimpan tulisan dalam huruf Jepang oleh Ibu Ratnasari Dewi pada tanggal 10 November 1985 yang berisi doa doa untuk Bung Karno  dan 2 buah bahan yang akan ditulisi untuk ayah bunda Bung Karno, tetapi batal dipasang dimakam Bung Karno, ada beberapa perabotan lama dan photo keluarga, photo pepaya berbuah mirip Kepala banteng dan lain lain. 
 
Ruang gamelan dan Ruang selasar difoto dari arah dekat sumur Rumah Istana Gebang, Blitar

Halaman Belakang Rumah Istana Gebang, Blitar
Bangunan Belakang
Dari Kiri ke kanan
  • Dapur setelah menggunakan kompor, sedang dapur asli dari pawonan kayu bakar berada di belakangnya.
  • Sumur dan penyediaan air dalam botol yang siap untuk dibawa para pengunjung
  • Kamar mandi asli saat Bung Karno masih muda, pintu dari belakang disamping dapur kayu bakar, Kamar pembantu rumah tangga. Sekarang digunakan untuk kamar petugas.
  • Kamar penyimpanan alat alat dapur
  • Ruang makan keluarga
  • 4 buah kamar mandi WC bangunan setelah  Bung Karno menjadi Presiden untuk para pengikut rombongan Presiden.
  • Kamar Tidur pembantu rumah tangga. Sekarang kamar tidur petugas
  • Garasi dengan mobil  Mercedes tahun 1961, Type 190 G3
Mobil  Mercedes tahun 1961, Type 190 G3 No. AG 390 N


Releigh, merek sepeda yang ada di Gudang Rumah Istana gebang, Blitar


2 Buah Rumah Keluarga
1 rumah di ujung kiri depan adalah rumah cikal bakal pembelian pertama ayahanda Bung Karno, 1 rumah diujung kanan depan untuk keluarga
Gudang dan Koleksi Sepeda
Pavilyun
Terletak di samping kiri rumah induk, digunakan untuk keluarga Ibu Sukarmini dan untuk para ajudan dan para pengawal Bung Karno saat berkunjung ke Blitar.

Koleksi Sepeda di rumah Istana Gebang, Blitar
Balai kesenian
Dibangun pada tahun 1951, digunakan untuk Pagelaran Seni, Wayang Kulit menyambut kedatangan Bung Karno dan pernah digunakan untuk pagelaran wayang kulit dengan dalang Bung Karno sendiri. Untuk sehari harinya dipergunakan latihan karawitan, tari, pedalangan dan kegiatan kegiatan kesenian lainnya. Di bagian belakang dari Balai Kesenian untuk musholla keluarga.

Sumur Tua
Sumur ini dibuat untuk memnuhi kebutuhan air guna pembangunan rumah di sekitar tahun 1984, yang selanjutnya menjadi sarana penyediaan air keluarga, baik sejak kepemilikan keluarga belanda yang bernama Ch. Portier maupun setelah rumah ini dimiliki oleh ayah bunda Bung karnodi tahun 1917.
Hingga saat ini keadaan sumur masih terawat dengan baik dengan kualitas air yang jernih, bersih dan memenuhi syarat kesehatan, tidak pernah mengalami kekeringan meski berlangsung kemarau panjang serta diambil setial hari dalam jumah yang cukup besar.

Sumur tua di Rumah Istana Gebang, Blitar
Disamping sumur ini, Istana Gebang juga memiliki sumur sumur lain sehingga berjumlah 7 sumur tersebar di rumah rumah pendamping.
Memenuhi permintaan pengunjung, sesuai dengan fungsi pelayanan yang dijalani, maka pihak Istana gebang menyediakan air dari mata air sumur ini dalam botol agar dapat dalam membawa dan dipersilahkan untuk mengambil seperlunya.

Dapur Belakang
Merupakan dapur tambahan apabila memerlukan masak dalam volume besar, terletak di belakang dapur. Kamar tukang kebundan gudang.

Rumah Pembantu
Terletak di belakang Bangunan Belakang. Ditempati oleh pembantu pemelihara kuda, baik kuda yang dipakai untuk kereta ayahanda Bung Karno maupun kuda kuda balap yang pernah dimiliki Ibu Sukarmini.

Bekas Kandang Kuda
Terletak diujung kanan di belakang Balai Kesenian. Ketika kunjungan Bung Karno era tahun enampuluhan, yang semakin banyaknya para pengawal ikut dating ke tempat ini, akhirnya dibangun untuk  tempat menginap para pengawal dengan kelengkapan kamar mandi dan WC nya.

Bekas Lumbung Padi.
Terletak dibelakang garasi saat ini tinggal pondasinya yang ditengah tengahnya ditanami pohon rambutan

Di samping ruang tamu, terdapat deretan poster yang menceritakan perjalanan sejarah Bung Karno sekaligus perjalanan Bangsa Indonesia yang dilengkapi dengan kata kata bijak yang luar biasa.

Surat Keputusan Presiden RI Tentang Penganugerahan Gelar Pahlawan Proklamator tahun 1986 

Bung Karno dan Ayahanda R Sosrodohardjo

Foto Bung Karno dan Ibu

Salah satu informasi mengenai perjalanan sejarah Bung Karno

Secara lebih detail anda bisa menyaksikan video mengenai Istana Gebang, Blitar seperti berikut.

Wisata Museum, Istana Gebang, Rumah Ibu Presiden Soekarno di Blitar
 


Semoga bermanfaat.




Subscribe to receive free email updates:

5 Responses to "Pengalaman Berkunjung ke Istana Gebang, Kisah Masa Muda Bung Karno dan Ibu"

  1. informatif....
    menarik untuk dibaca dan dikenang...

    Thank you for sharing

    ReplyDelete
    Replies
    1. Siap terima kasih Pak. Salam sehat dan selamat beraktifitas.

      Delete
  2. Berarti rumah itu mulai ditempati keluarga bung Karno tahun 1917-1919, sudah lebih dari 100 tahun ya.

    Istana gebang luas juga ya pak, untungnya sekarang lagi pandemi sehingga agak sepi, kalo normal mungkin ramai ya

    ReplyDelete
    Replies
    1. Kalau melihat bangunannya memang bangunan tua Pak, dan di belakang dulunya adalah kandang kuda. Saat saya SD tahun 1982, saya sering main ke rumah ini karena banyak buah buahan. Sekarang sudah berubah jadi lahan parkir dan paving. Ya, karena kondisi pandemi, suasana sepi dan leluasa kalau berkunjung.

      Delete
  3. thankyou for your post visit us to see article about anything at https://www.unair.ac.id/

    ReplyDelete

Terima kasih atas kunjungan teman teman, semoga artikel bermanfaat dan silahkan tinggalkan pesan, kesan ataupun komentar.

Popular Posts