Trekking ke Curug Putri Kencana, Menikmati segarnya udara dan Beningnya Air Sungai yang masih alami

Trekking ke Curug Putri Kencana, Menikmati segarnya udara dan Beningnya Air Sungai yang masih alami

Curug Putri Kencana berada di Desa Karang Tengah, Babakan Madang, Bogor, Jawa Barat.

Berenamg di Curug Putri Kencana

Ini adalah pengalaman pertama trekking alias jalan kaki menyusuri jalan setapak melintas sawah, sungai, kebun, hutan perkampungan untuk menuju Curug Putri Kencana.

Perjalanan dimulai dari titik kumpul di Jungle Land yang ada di kawasan Sentul City, tepatnya di jungle temple.

Informasi Trekking
Beralamat di Karang Tengah, Kecamatan Babakan Madang, Bogor, lokasi Curug ini bisa diakses melalui Tol Jagorawi dan keluar di pintu Tol Sentul City. Setelah itu, ambil arah kiri lalu masuk ke arah jalan utama menuju Jungle land

Jadwal disepakati pukul 06.00 - 06.30 diharapkan sudah berkumpul di titik kumpul.
Saya datang pertama kali di titik kumpul, dan memarkir kendaraan untuk menikmati sarapan pagi yang saya beli di dekat bundaran Sentul Nirwana,

Bertemu di titik kumpul, Jungle Temple di area Jungle Land


Menu sarapan Nasi Kuning dengan pelengkap sambal goreng teri, bihun, sambal goreng tempe dan kentang, telor dadar dan sebungkus kerupuk.

Baca juga :

Berikutnya disusul Pak Komisaris Yusti, dan disusul Pak TP dan berikutnya Pak Komandan Messi yang siap mengawal perjalanan ini dari serangan para teroris yang mengganggu perjalanan trekking ini.

Setelah berkumpul, kami sepakat memarkir mobil kami di area parkir khusus supaya lebih aman dan memang terbukti aman karena diportal dan dijaga satpam. Sehingga kami merasa tenang dan tidak was was untuk meninggalkan kendaraan saat trekking. Memang tidak gratis, cukup dengan Rp. 20.000 per mobil.

Sepakat menggunakan mobil butut kesayangan saya untuk menuju titik start trekking.  

Dengan dipandu Kang Ukas, Sang pemandu, kami pun mengekor di belakang motornya menanjak sekitar kurang lebih 4 km.  Sebagai informasi, kami trekking dengan dipandu dari teman teman di Selaras_adventure.

Curug Putri Kencana tujuan trekking kami
Sesampai di lokasi start, sudah ada 1 mobil yang parkir dan sepertinya sudah lebih dulu trekking.

Rute Perjalanan Menuju Curug Putri Kencana

Sebelum berangkat, Kang Ukas membagikan trekking pool alias tongkat trekking yang nanti kami baru sadar manfaatnya.

Start dari Desa Karang Tengah, Babakan Madang

Setelah briefing sekitar 4 menit 20 detik dan diakhiri dengan doa, kami pun bergerak berjalan memulai trekking.
Memasuki area trekking dari jalur Curug Leuwi asih

Gerbang masuk atau gang masuk lebih tepatnya, tidak jauh dari lokasi parkir dan dasar kami suka berfoto, kami pun berfoto terlebih dahulu, takutnya kalau pulangnya pas sudah capek malas berfoto.

Baca juga :

Kami masuk melalui Gang Obyek Wisata Curug Leuwi Asih tapi menurut Kang Ukas, kita menuju Curug Putri dulu baru nanti ke Curug Leuwi Asih. Siap.

Gang yang kami lalui berukuran sekitar 3 meter dan merupakan pemukiman yang cukup padat. Di kanan dan kiri tanaman Pandan yang daunnya dipakai untuk masak dan perasa sepertinya memang menjadi komoditi pertanian dan mata pencaharian penduduk sekitar. 

Hamparan pagi dan udara segar mengiringi trekking kami

Selain itu, hamparan tanaman Hanjuang dan Philodendron penghasil daun tanaman hias untuk bahan dekor juga menjadi sumber mata pencaharian masyarakat.

Pak Komandan Mesiran mengawal perjalanan trekking kami

Hamparan sawah menghijau dan sungai dengan asir yang bening menjadi pemandangan yang luar bisa indah dan menjadi kami semakin menikmati perjalanan ini,

Pemandangan sungai yang jernih dan indah
Setelah melewati jalanan datar dan berkelok, Perjalanan mulai menanjak. Ini pun menurut kami tidak terasa, karena selama perjalanan obrolan obrolan menarik tentang keindahan alam dan cerita cerita lucu dari pengalaman masing masing mengisi dan membuat tanjakan serasa dataran. 

Berfoto dengan latar belakang Gunung Pancar
Setelah melintas tanjakan dengan diakhiri Kandang Kerbau, dan ini merupakan membuat kesan trekking ini semakin menyenangkan akhirnya kami sampai di dataran yang terlihat seperti hamparan.  Di bawah terlihat ladang bekas tanaman jagung dan singkong yang baru saja di panen.  

Hamparan ladang di lereng Gunung Pancar
Tidak usah menunggu dikomando, kamipun berpose dengan latar belakang Gunung Pancar. Dihembus angin pengunungan yang menyejukkan dan menyegarkan dan mengisi paru paru yang selama ini selalu terpapar polusi, kami benar benar menikmati perjalanan ini.

Udara yang segar dan pegunungan nan hijau membentang
Prinsip kami, sesuai arahan Pak Komandan Messi, berfoto dulu dan abadikan moment, karena inilah yang bisa bercerita lebih lengkap daripada tulisan yang berlembar lembar yang malas dibaca ataupun cerita dari mulut hingga berbusa busa yang membuat malas orang mendengar. Tidak akan menarik atau menjadi bukti buat seseorang tanpa dokumentasi, walaupun hanya sebuah lukisan digital.

Baca juga :

Kami mendengarkan arahan Pak Komandan dengan seksama dan menjadi SOP kami untuk perjalanan wisata berikutnya.

Trekking jalan setapak dengan aneka flora 
Setelah puas berfoto, kami pun melanjutkan perjalanan dengan menyusuri jalan setapak yang sedikit berkelok dengan beberapa tanaman yang tidak asing bagi kami seperti Cengkeh Eugenia aromatica, Nangka artocarpus integra, Sukun artocarpus altilis, Pinus Pinus merkusii, Durian Durio zibetinus dan beberapa batang tanaman kopi Robusta Coffea canephora dan Kopi Excelsa coffea excelsa.

Selain itu, di beberapa spot tampak tanaman serai wangi dan serai masak yang merupakan salah satu hasil bumi di daerah ini. Singkong dan Ubi jalar juga merupakan hasil utama di daerah ini.

Mungkin ada yang belum tahu bahwa ada 2 macam serai yang ada di dunia perseraian, yaitu serai masak  Cymbopogon citratus alias serai yang biasanya dipakai untuk masak dan serai yang diambil minyak atsirinya Cymbopogon nardus lebih dikenal dengan nama serai atau Sereh wangi atau citronella grass  atau lebih dikenal Minyak Citronela yang saat ini sedang trendy.

Ok, tidak usah membahas serai panjang lebar, karena kalau terlalu panjang kasihan Ibu Ibu dan kalau terlalu lebar, kasihan Bapak Bapak. Bercanda ya.

Wisata alam dan wisata rohani menjadikan trekking ini memperoleh keduanya

Setelah sekian 1.832 meter kami berjalan dan mlintas jalan setapak yang mengasyikkan, sampailah kami di lokasi tertinggi di area ini dan kembali kami berfoto.

Di foto terlihat di bagian kanan kami, pabrik pengolahan minyak atsiri yang sedang dalam progress pembangunan.  Sepertinya potensi hasil dari Serai cukup bagus dan tidak menutup kemungkinan akan diolah juga untuk memproduksi Minyak Atsiri dari Cengkeh alias Minyak Cengkeh atau Clove Oil yang memang banyak khasiatnya.

Dari sekian anggota yang ikut trekking, Pak Komisaris banyak bercerita tentang vegetasi yang ada di sepanjang perjalanan. Banyak informasi yang disampaikan oleh Pak Komisaris yang sangat bermanfaat dan menjadi tambahan pengetahuan yang berharga untuk kami.

Trekking sambil belajar Ilmu Selisih

Pak Messi, yang merupakan anggota militer yang sangat banyak pengalamannya mulai dari Sabang sampai Merauke, juga banyak bercerita mengenai pengalaman beliau selama bertugas. Mulai dari latihan fisik hingga strategi dalam penyergapan dan pengalaman beliau saat terkepung di Timor Timor.  Beliau memiliki ilmu kesaktian yang selama ini hanya diberikan kepada oranfg orang yang dipercaya dan menurut beliau mampu untuk menerimanya. Karena sangat penasaran dan memang sangat ingin belajar ilmu bela diri dan turunannya, saya pun berusaha mengorek dan mencari informasi kesaktian beliau.  

Pak Komandan Mesiran dengan Kesaktian Ilmunya

Setelah diwawancara, melalui test IQ, Test fisik serta test mental dan kejiwaan karena jangan sampai ilmu ini dipergunakan yang tidak semestinya, akhirnya saya pun mendapat kesempatan untuk belajar ilmu Pak Komandan Messi. Dengan berbisik dengan pelan dan hati hati, beliau membisikkan dua kata yang menjadi dasar ilmu kesaktian beliau.  Tercetuslah dari bisikan beliau, ILMU SELISIH. Nah, itulah ilmu kesaktian beliau selama ini hingga mampu berkeliling dan mengabdi hampir ke seantero negeri. Apa artinya, nanti ketemu saya dan saya bisikan kepada anda.
Jalur air yang merupakan hilir dari Air Terjun Putrri Kencana

Disamping aliran sungai yang indah ini, gerbang trekking Curug Putri sudah terlihat.  Sedikit jalan menanjak dan berkat motivasi dan semangat dari Pak Komandan, sampailah kami di Gerbang Curug Putri Kencana. Dengan membayar tiket Rp. 15.000 kamipun sudah bisa melenggang memasuki area Curug Putri Kencana.

Berposr di depan gerbang Curug Putri Kencana
Di gerbang Air Terjun atau Curug Putri Kencana, kami sudah disambut dengan spanduk yang bertuliskan Selamat Datang di Wahana Wisata Curug Putri Kencana dan Wahana Lenggang Kencana yang disamping kanan ada logo Perhutani dan samping kiri logo LMDH.

Ternyata pihak Perhutani dan LMDH atau Lembaga Masyarakat Desa Hutan sudah tahu rombongan kami akan datang, sehingga mempersiapkan spanduk sedemikian rupa. LMDH merupakan salah satu model Sistem Pengelolaan Hutan Bersama Masyarakat (PHBM) yang dicanangkan oleh Perum Perhutani pada tahun 2001 membuka kesempatan bagi masyarakat desa hutan untuk terlibat aktif dalam pengelolaan hutan. 
Trekking yang dikelola oleh Perhutani dan PMDH

Keterlibatan aktif ini dimulai dari terjalinnya kerjasama pengelolaan hutan antara Perhutani dengan Lembaga Masyarakat Desa Hutan (LMDH). Dalam sistem PHBM ini dilakukan proses pemberdayaan kepada masyarakat desa hutan yang bertujuan untuk mencapai pengelolaan sumberdaya hutan yang lestari dan peningkatan kesejahteraan masyarakat desa hutan. Pemberdayaan masyarakat dalam pengelolaan hutan ini dapat dimaknai sebagai proses untuk berbagi peran, berbagi ruang dan waktu, serta berbagi hasil. Dengan melibatkan masyarakat desa hutan dalam setiap tahapan pengelolaan hutan mulai dari perencanaan, pelaksanaan, monitoring dan evaluasi akan memberi makna yang dalam bagi mereka. Motivasi dan tanggung jawab bersama dalam pengelolaan hutan akan muncul dari proses-proses yang dilalui dalam pemberdayaan masyarakat.

PMDH di desa ini berarti berjalan dengan cukup baik sehingga bisa mengelola sumber daya alam dengan mengkombinasikan dengan paket wisata trekking. 

Tidak terasa sampaiah kami di hilir air terjun yang akan kami tuju.  Tanjakan semakin tinggi dan udara semakin sejuk.

Curug pertama tempat berfoto
Setelah 2.156 m, sampailah kami di air terjun kecil yang merupakan aliran pecahan dari Air Terjun Putri Kencana.  Setelah memeriksa sekitar dan dirasa aman oleh Pak Komandan Messi, kami pun berfoto berlatar belakang Air yang sejuk dan udara yang segar. 

Berhenti sejenak di Air Terjun Kecil untuk melanjutkan Perjalanan ke Curug Putri Kencana
Setelah melepas lelah sejenak, kamipun melanjutkan perjalanan menuju Curug Putri Kencana.

Suasana warung dan tempat istirahat di sekitar Curug Putri Kencana

Sepertinya ilmu Selisih (kalau pengin belajar bisa hubungi saya) yang diajarkan oleh Pak Komandan Messi betul betul bermanfaat, hingga menjelang kawasan Curug Putri.

Di salah satu warung yang ada di Curug Putri Kencana
Kami disambut dengan bagunan bangunan mirip warung atau kedai yang terbuat dari kayu.  Ada sekitar 10 - 12 warung yang berdiri di sepanjang tepi sungai.  Isinya tempat duduk memanjang dan ada yang lesehan serta pedagang yang menjual makana ringan, gorengan, kopi, air mineral dan Mie instan.

Bangku panjang, yang memberi kesan alami dan indah tempat kami beristirahat
Kang Ukas selaku pemandu, mengarahkan kami ke warung yang paling dekat dengan Air Terjun alias Curug Kencana Putri.  Tepat di bawah kami, mengalir sungai dengan beberapa jeram membentuk aliran yang semakin ke bawah semakin kencang.

Suasana di lokasi Curug Putri Kencana
Gemercik suara air, riuhnya suara daun-daun yang tertiup angin seketika membuat pikiran rileks. Akhornya kami mencapai CUrug Putri Kencana.

Aliran sunga yang menjadi hulu dari Curug Putri Kencana

Air yang sangat bening mengalir dari puncak gunung yang memang tidak terlihat. Awalnya kami hanya foto foto sambil merendam kaki sekaigus melepaskan otot otot yang kaku karena melalui medan yang menanjak.

Air sungai di Curug Putri Kencana yang bening, bersih dan menyegarkan
Air dingin terasa menyentuh pori pori dengan lembut dan perlahan lahan kulit terasa segar.  Kepenatan yang tadinya membuat otot kaki kaku, perlahan lahan mulai melemas.  Kami sangat menikmati segar dan beningnya aliran air ini.

Beruntung sekali kami datang pagi pagi dan merupakan pengunjung pertama yang melintas dan sampai di Curug Putri Kencana.

Menikmati indahnya Curug Putri Kencana
Kenapa disebut Curug Putri Kencana, karena Konon katanya, curug ini dinamai curug Putri Kencana karena sering terlihat sosok seorang noni Belanda yang menampakan diri dengan menggunakan pakaian bangsawan Belanda maka dari itu dinamai Curug Putri Kencana.


Pak Komandan Messi yang keren
Pak Komandan Messi, dengan semangat memperagakan bagaimana cara menuruni bukit dengan menggunakan tali tambang. Dengan lincah, beliau naik turun sambil berpegangan dengan batu. Masih kuat, lincah, dan kekar, beliau memang luar biasa. 

Sang Ahli Konstruksi Pak TP
Pak TP yang ahli konstruksi jalan dan jembatan juga mencelupkan kakinya di sungai dan beliau tidak taha dingin katanya.  Seneng dengan segarnya udara dan air yang jernih.
Si Ajudan dan Pembawa barang juga menikmati Indahnya Curug Putri Kencana

Dari awalnya hanya mencelupkan kaki, akhirnya saya dan Pak Komisaris tidak tahan untuk berenang. Langsung lepas kaos dan mulai menceburkan diri.

Mengawal Pak Komisaris yang berenang menikmati kesegaran air di Curug Putri Kencana

Rasanya kami sudah seperti anak anak yang sudah lama tidak bertemu sungai dan ciblon, istilah untuk saat saya masih anak anak dan mandi di sungai.

Si Ajudan mirip anak kecil bermain air
Berbagai gaya kami coba di saat berenang di Curug Putri Kencana. Hampir 45 menit kami berenang dan ciblon, Pak Komisaris Yusti sampai nggak mau udahan.  Belum puas berenang katanya.

Untuk informasi bagi teman teman yang tidak bisa berenang dan takut, tersedia sewa pelampung di warung tempat kami makan dan beristirahat.

Pak Komisaris senang sekali berenang di Curug Putri Kencana
Setelah bolak balik terjun dari ketinggian sekitar 4 meter, akhirnya Pak Komisaris menyatakan selesai.

Kami pun berkemas dan naik ke warung untuk menikmati kopi hangat dan gorengan.  Ternyata Pak Komandan Messi sudah memesankan kami kopi hitam 2, Kopi Instant 2 dan aneka gorengan yang baru diangkat dari wajan penggorengan.

Nikmatnya gorengan dan kopi hitam setelah berendam dan berenang di air yang segar dan dingin di Curug Putri Kencana.  
Kata Pak Komandan kalau nggak makan Mie Instan kayaknya kurang afdol, jadilah kami akhirnya memesan 4 porsi Mie Instan untuk menghangatkan perut kami meskipun Kang Ukas bilang nanti di pemberhentian berikutnya sudah disediakan makan siang.  Pak Komisaris bilang, lah ini laparnya sekarang, kalau yang itu nanti buat makan siang.  Memang Pak Komisaris luar biasa lapar kayaknya.

Tersedia juga fasilitas Toilet umum yang dilengkapi tempat mandi dan ganti baju.  Tetapi biar seperti petualangan di hutan alam, saya pertahankan baju yang melekat biar kering saat jalan pulang.

Setelah membayar kopi, gorengan dan Mie Instant yang kami santap serta berpamitan dengan Bapak pemilik warung, kamipun melanjutkan perjalanan.  

Tutorial memakai Jas Hujan
Baru melangkah sekian meter meninggalkan lokasi, kami disambut oleh hujan yang cukup deras.  Untungnya Kang Ukas dengan sigap membagikan jas hujan sekali pakai yang bisa melindungi kami serta peralatan elektronik kami.

Perjalanan pulang ternyata lebih seru dan mengasyikkan. Kami sempat berteduh di dekat Wahana Lenggang Kencana yang saat kami melintas cukup ramai, mungkin juga karena sudah menjelang siang.  

Kabut mulai turun dan mengiringi perjalana kami.  Pemandangan yang tadinya jelas dan terang, menjadi tertutup kabut.

Atas arahan Pak Komandan Mesiran, kami berpose bagaikan traveller 
Kami melanjutkan perjalanan setelah butiran hujan mengecil dan berubah menjadi gerimis. 

Beberapa jalanan setapak berlumpur dan disinilah fungsi Trekking Poll semakin berguna.  Menahan kami supaya tidak terjatuh saat tergelincir.  Pilihlah rute jalan setapak yang ada rerumputan atau tanamannya, jangan menginjak tanah liat yang licin.

Kabut menemani perjalan pulang kami
Beberapa kali kami berpasapasan dengan rombongan yang baru naik, bersyukur kami sudah dalam perjalan pulang dan tidak mengalami jalan licin yang berkepanjangan. 

Pantang menyerah dan semangat trekking
Pantang menyerah, kami tetap melanjutkan perjalanan dan menikmati indah dan dinginnya kabut yang menyelimuti pegunungan dn kawasan Gunung Pancar di Desa Karang Tengah, kawasdan Babakan Madang ini.

Melintas perbukitan dan pegunungan yang asri

Setelah melintas jalanan becek dan kebun masyarakat, sampailah kami di lokasi yang akan menjadi tempat istirahat dan tempat makan kami. Ya, sesuai rute yang dibuat oleh Kang Ukas dari Selaras Adventure, kami akan makan di Curug Leuwi asih.


Membentang di hadapan kami hamparam sawah dengan beberapa rumah peristirahatan yang terbuat dari Bambu dan beratapkan rumbia.

Kesan alami dan menyegarkan, menjadikan Curug Leuwi Asih juga menjadi tujuan wisata yang mudah dijangkau. Lokasinya dekat dengan jalan aspal dan tersedia aneka kuliner yang bisa dipesan sebelumnya.

Sayangnya, saat kami sampai Curug Leuwi Asih, kondisi sedang hujan sehingga air sungainya agak keruh. Saat melintas pagi, airnya sangat bening dan sangat bersih.

Menandakan di kawasan atas sudah banyak terjadi pembukaan area sehingga menyebabkan erosi dan sedimentasi yang terbawa air sungai hingga ke area hilir.

Saat akan melintas, Kang Ukas menanyakan mau lewat jalan kering alias jembatan atau melintas jalan basah alias melintas jalur sungai.

Kami memilih jalur sungai dan sempat berfoto dengan berbagai pose.


Melintas jalur air di Curug Leuwi Asih.

Kami juga trekking dan berfoto di jembatan Bambu Curug Handeuleum yang posisinya ada di belakang kami. Mungkin berikutnya kami akan ciblon dan mandi juga di Curug Habdeuleum dan Curug Leuwi Asih.


Selesai mengeksplore Curug Leuwi Asih dan Curug Handeuleum, kami pun bersiap menyantap makan siang yang enak dan nikmat. Sepotong ayam bakar dan lalapan, sambal korek dan dilengkapi tahu dan tempe serta buah jeruk berasa sangat nikmat setelah energi terkuras selama trekking.

Saat menyantap menu makan siang di Curug Leuwi Asih

Kesan dan Penilaian 
Perjalanan yang mengasyikkan. Kalau diperhatian jalur dan rute trekking, kami sudah melintas 3 curug, yaitu Curug Putri Kencana, Curug Leuwi Asih dan Curug Handeuleum.
Trekking dengan suasana persahabatan membuat jalur trekking yang menantang dan indah ini menjadi semakin hangat.

Terima kasih untuk Selaras Adventure yang sudah memfasilitasi trekking kami dengan memilihkan rute yang ok. 

Tercipta Puisi yang indah saat trekking:

Dengan teman,
semua momen menjadi spesial
Bisa saling bercerita
Bisa saling bercanda
Bisa saling mengerti
Bisa mengisi waktu bersama
Teman,
Jangan berjalan di belakangku
Karena mungkin aku tak bisa memandumu
Jangan pula berjalan di depanku
Karena mungkin aku tak bisa mengikutimu
Berjalanlah di sampingku, dan jadilah sahabatku.
 




Subscribe to receive free email updates:

1 Response to "Trekking ke Curug Putri Kencana, Menikmati segarnya udara dan Beningnya Air Sungai yang masih alami"

Popular Posts